Yurike Nina Bonita Pereira, Srikandi Dari Tanah Timor Mengenal Panahan Sejak TK

Bagikan Artikel ini
Yurike Nina Bonita Pereira, Ketum Perpani Kelik Wirawan Widodo, Frans Watu.

Laporan Frans Watu
Jakarta, NTTOnlinenow.com – Pengurus PP Perpani bersama Ketua Umum Kelik Wirawan Widodo meninjau pemusatan latihan nasional (Pelatnas) panahan Indonesia. Ini adalah kunjungan perdana sang Ketua Umum sejak para atlit yang dari bernagai daerah dikumpulkan di Apartemen Belleza di kawasan Permata Hijau, Kamis (2/5/2019).

Ada 24 atlit panahan yang dipanggil mengikuti tahapan pelatnas, pada tahapan berikutnya akan tersisa menjadi 16 orang yang persiapkan menuju Sea Games Manila 2019 dan Olimpiade Tokyo 2020. Indonesia akan berpartisipasi di dua kategori recurve dan coumpound putera/puteri. Selama di pelatnas mereka ditangani pelatih Nurfitriyana Saiman, Lilis Heliarti, Budi Widayanto dan Wahyu Hidayat.

Salah satu atlit yang menghuni pelatnas di Belleza Apartemen adalah Yurike Nina Bonita Pereira (18 tahun). Gadis hitam manis berdarah Timor (NTT) ini adalah anak ke dua dari musisi Timor Leste Toni Pereira yang dikenal dengan lagu-lagu Timor seperti Doben, Nina Bonita Tebes, Inalou dan sejumlah lagu berirama dansa tombak khas Belu-Timur Leste.

Prestasi Bonita Srikadi dari tanah Timor pada Kejuaraan Nasional di Aceh 2017 dengan raihan 4 medali emas dan 1 medali perak, dan pada Kejurnas PPLP bidikan gadis Timor ini mampu menyabet 7 medali emas pada kategori compound.

Kepada para atlit Kelik menekankan pentingnya moral bagi seorang atlit dalam mempersiapkan diri dalam menghadapi event besar yang membawa nama bangsa dan negara.

“Saya perkenalkan atlit kita yang sedang mengikuti tahapan pelatnas kepada pengurus, saya minta kepada para atlit agar dapat bekerjasama dengan baik, berdasarkan pikiran bukan perasaan. Karena itu baik tim pelatih maupun pemain harus berpikir benar, berpraduga benar semuanya positif, jauhkan prasangka buruk sehingga persatuan antara atlit, pelatih dan pengurus dapat terjalin dengan baik selama menjalani pelatnas”, tegas Kelik yang juga pernah menjadi manejer timnas sepakbola U 16 dan U 19.

Target kita di Sea Games Manila minimal 3 emas dan lolos ke Olimpiade. Tadi kita dengar dari mereka (atlet), mereka siap memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara. Dan mereka tahu bahwa pemerintah hari ini tidak main-main untuk mendukung mereka karenanya tadi saya cek soal akomodasi, tempat latihan, tempat tidur dan makanannya. Semuanya ok belum ada keluhan yang berarti dari para atlit, tutur Kelik.

Pada Asian Games 2018 tim panahan Indonesia gagal menyumbang emas. Tim Panahan Indonesia harus puas meraih 2 medali, yakni perak dan perunggu. Target 1 emas yang dibebankan Kementrian Pemuda dan Olahraga kala itu meleset. Saat itu nomor beregu campuran yang mengandalkan pasangan Deananda Choirunisa dan Riau Ega Agata yang dianggap mampu mewujudkan target tersebut gagal menyumbang prestasi setelah kandas di babak pertama akibat dikalahkan Korea Utara dengan skor 3-5.

Kegagalan di Asean Games memicu Perpani dibawa komando Kelik Wirawan Widodo untuk terus berbenah menatap target yang lebih tinggi, yakni Olimpiade Tokyo 2020. Indonesia pernah mencatat sejarah pada Olimpiade Seoul 1988. Dibawah bimbingan pelatih kawakan Donald Pandiangan, 3 Srikadi Indonesia Nurfitriyana Saiman, Lilies Handayani dan Kusuma Wardhani berhasil mempersembahkan medali emas pertama dan medali perak bagi Indonesia.