KAPAL Perempuan Serukan Hentikan Eksploitasi dan Politisasi Identitas

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Lingkaran Pendidikan Alternatif untuk Perempuan atau disingkat (KAPAL Perempuan), salah satu organisasi perempuan di Indonesia menyerukan agar menghentikan penggunaan berita palsu (hoax), politisasi identitas dan segala bentuk eksploitasi perempuan untuk pemenangan dan menggantinya dengan mengangkat isu-isu perempuan menjadi agenda penting yang dijadikan komitmen politik.

Seruan ini disampaikan Institut KAPAL Perempuan dalam rangka peringatan Hari Perempuan Internasional 2019 dan bertepatan dengan momentum Pemilihan Umum (Pemilu) 2019.

Direktur Institut KAPAL Perempuan, Misiyah Misi dalam keterangan tertulisnya yang diterima media ini, Jumat (8/3/2019) mengatakan, peringatan ini merupakan perayaan atas kemajuan yang telah dicapai perempuan sekaligus melecut semangat agar terus menggerakkan semua pihak untuk meretas peminggiran dan diskriminasi. Sejalan dengan tema tahun ini, yaitu ‘Kesetaraan untuk Kehidupan yang Lebih Baik’.

“Kita telah memiliki kemajuan di ranah kebijakan, anggaran yang responsif gender, program-program khusus perempuan dan juga kekuatan militansi gerakan perempuan,” ungkap Misiyah.

Namun, sebut Misiyah, perempuan juga masih menghadapi tantangan dalam kebijakan yang diskriminatif misalnya UU Perkawinan 1974, perda-perda berbasis norma konservatif, cara pandang yang menempatkan posisi perempuan sebagai pihak yang lemah. Kedua sisi ini membutuhkan komitmen besar dari pemerintah, legislatif, perempuan dan seluruh masyarakat Indonesia.

Dia mengungkapkan, peringatan Hari Perempuan Internasional di Indonesia kali ini ditandai dengan sejarah baru, dengan adanya pengakuan langsung oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo terhadap kerja-kerja perempuan di arus bawah dan perempuan-perempuan yang berdedikasi di tingkat akar rumput.

“Dalam dialog di Istana Negara pada 6 Maret 2019, Presiden merespons langsung dan mencarikan jalan keluar masalah-masalah yang dihadapi perempuan, terutama terkait kemandirian ekonomi, kesehatan, penghapusan kekerasan dalam rumah tangga, partisipasi dan masalah lain yang dialami perempuan pinggiran,” ujarnya.

Menurut Misiyah, komitmen ini menandakan pemerintah telah mengakui pentingnya keterlibatan perempuan dalam pembangunan meskipun kita harus terus mengawal untuk memastikan pelaksanaannya di lapangan. Institut KAPAL Perempuan memberikan apresiasi yang mendalam atas pengakuan tersebut.

Peringatan Hari Perempuan Internasonal ini juga bersamaan dengan momentum politik yang sangat penting di Indonesia yaitu pemilihan umum untuk memilih presiden-wakil presiden dan anggota legislatif.

“Kami sebagai bagian dari representasi perempuan merasakan bahwa perhelatan politik elektoral saat ini banyak memberi perhatian pada isu-isu yang dianggap besar, strategis namun meminggirkan persoalan perempuan, padahal masalah perempuan akan menjadi problem bangsa jika tidak ditangani,” paparnya.

Dia menyebutkan, dalam lima kali debat calon presiden, dari 19 tema tidak satupun tema perempuan. Visi misi calon legislatif dan calon presiden tentang perempuan, tidak banyak terangkat dalam percaturan publik. Bahkan sebagian dari kampanye mengalihkan perhatian pada berita palsu (hoax), menggunakan politisasi identitas yang meminggirkan perempuan dan bahkan eksploitasi perempuan.

Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional dan momentum Pemilihan Umum tahun 2019 ini, Institut KAPAL Perempuan menyerukan untuk:

  • Menghentikan penggunaan berita palsu (hoax), politisasi identitas dan segala bentuk eksploitasi perempuan untuk pemenangan dan menggantinya dengan mengangkat isu-isu perempuan menjadi agenda penting yang dijadikan komitmen politik.
  • Memasukkan perspektif gender dalam 3 (tiga) kali debat yang akan datang, terintegrasi dalam tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial budaya dan seluruh tema lainnya.
  • Untuk mengintegrasikan perspektif gender dalam tema debat mesti didukung oleh penentuan panelis yang terdiri dari representasi perempuan dengan pihak-pihak yang memiliki kesadaran kritis atas pentingnya isu-isu marjinal terutama perempuan bagi bangsa Indonesia.