PLN Dukung Sinkronisasi Kurikulum Program Kerja Industri untuk SMK di NTT

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – PLN mendukung penyelarasan Kejuruan dan kerja sama industri tahun 2018 di SMK Negeri 1 Maumere dan SMKN 2 Kupang untuk program keahlian Teknik Ketenagalistrikan kompetensi keahlian Teknik jaringan tenaga listrik dan Bidang Pembangkitan.

Program ini merupakan program dari Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. Bertempat di SMKN 1 Maumere tanggal 1-5 Oktober 2018 lalu di Hotel pelita Maumere telah dilaksanakan sinkronisasi dan hari ini 10-11 Oktober 2018 di ruang aula SMKN 2 Kupang.

Perjanjian Kerja Sama tersebut memuat empat ruang lingkup ahlinya yaitu, Pertama di bidang jaringan transmisi tenaga listrik, Kedua, ahli bidang gardu induk, Ketiga, ahli bidang jaringan distribusi tenaga listrik, dan Keempat, ahli sistem proteksi.

PLT Senior Manager SDM dan Umum PLN UIW (Unit Induk Wilayah) NTT, Galih Chrissetyo menyampaikan, biasanya untuk menyiapkan seorang tenaga teknis lulusan SMK setidaknya membutuhkan waktu 2 tahun, tapi saat ini akan lebih singkat karena kurikulum yang ada di PLN telah dimasukkan ke SMK.

“Sehingga jika bisa berkesempatan bekerja di PLN tentunya kompetensinya sudah 1 langkah lebih siap dan apabila tidak berkesempatan bekerja di PLN maka siswa SMK bisa mempunyai pengetahuan lebih mengenai kelistrikan dan dapat berguna untuk dunia industri lainnya yang berhubungan,” ungkap Galih.

Selain menyampaikan pengenalan Program Vokasi yang saat ini sedang disusun oleh Pusdiklat PLN, Galih juga mengungkapkan tentang terobosan-terobosan PLN dalam proses rekrutmen di PLN Group dengan diterapkannya Aplikasi Rekrutmen dan PLN Test Adaptive PLN yang sudah diluncurkan oleh Direktur Human Capital Management, Muhamad Ali.

“Dengan adanya aplikasi ini maka calon pelamar akan dimudahkan dan juga meminimalisasi penipuan rekrutmen yang marak terjadi serta dari sisi PLN akan mampu menjaring tenaga kerja berkualitas,” papar Galih.

PLN sangat mengapresiasi Program kelas industri tersebut. Program ini merupakan salah satu jawaban dalam pemenuhan kebutuhan tenaga kerja lulusan SMK di Provinsi NTT.

“Sebagai penyedia SDM di internal kami memiliki tugas sendiri, tetapi untuk menyiapkan tenaga yang mampu dan bersaing di NTT ini juga akan menjadi tanggung jawab kami,” kata Galih.

Menurut Galih, pihaknya akan bersurat kepada GM Pusdiklat dan Direktur Regional dalam hal ini Direktur Regional Jawa Bagian Timur, Bali dan Nusa Tenggara serta Direktut Human Capital Management melalui GM Unit Induk Wilayah NTT, agar sinkronisasi ini dapat disinergikan dan ditindaklanjuti khususnya oleh Pusdiklat PLN (Corporate University) yang beberapa waktu lalu juga telah merancang silabus dan kurikulum untuk mengintegrasikan seluruh aspek kompetensi yang dibutuhkan oleh PLN kedalam Kelas Industri tersebut.

“Kami akan kawal dan support penuh hal tersebut,” tegas Galih

Selain itu, Galih juga memperkenalkan bahwa PLN juga membuka Kelas Kerjasama Program D3 dengan berbagai Politeknik Negeri, sehingga lulusan SMK pun bisa melanjutkan kuliah D3 melalui program D3 Kerjasama, yang penting mereka lulus test tahapan masuk PLN lalu berkuliah dengan biaya mandiri, dimana setelah lulus mereka bisa langsung bekerja di PLN.

Dia berharap, program kelas industri ini mampu untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja lokal di NTT demi untuk kemajuan daerah itu.

“PLN berharap program ini tidak hanya dengan 2 SMK saja, tapi juga berlanjut ke yang lain. Karena memang kita punya pembangkit, kita punya transmisi, kita punya jaringan distribusi yang tersebar di NTT, jadi kalau mau kerja di PLN, setidaknya dia sudah punya kompetensi lebih. Misalnya, tidak bisa diterima di PLN bisa di anak perusahaan atau cucu perusahaan yang diwadahi dalam PLN Group, jadi sekarang kesempatan terbuka lebih luas, jadi harus benar-benar dipersiapkan,” tandas Galih.

Perwakilan Direktur Pembinaan SMK diwakili Staf Pembinaan SMK, Agus Wibowo mengatakan, program ini sebagai bagian respon dari Direktorat Pembinaan SMK atas paparan dari Tim PLN Pusdiklat beberapa waktu lalu untuk memenuhi lulusan SMK yang berkompeten di bidang ketenagalistrikan.

Sementara itu, Kepala Seksi Kurikulum SMK Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur, Yosefina Mai menyampaikan, antara dunia pendidikan dan Dudi (Dunia Usaha dan Dunia Kerja) harus saling berkolaborasi dan berjalan bersama.

“Sudah tidak ada lagi kamu adalah kamu, aku adalah aku, tidak ada cerita adalah Dudi, SMK adalah SMK, kita harus saling berkolaborasi. Kita harus mendukung kolaborasi ini, sekarang jamannya sudah kebalik, bukan SMK lagi yang mengunjungi Dudi, tetapi Dudi yang datang ke SMK kaitannya dengan dunia kerja,” ujarnya.

Yosefina berharap BUMN dan Industri lainnya ikut terpacu untuk pengembangan kualitas pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan, sehingga kelak lapangan pekerjaaan yang tersedia dapat diisi oleh putra putri terbaik bangsa yang kompeten di bidangnya.

Kerja sama PLN dengan SMK untuk masuk kurikulum ini adalah yang pertama di NTT. Program ini sebagai pilot project hanya diadakan di 3 lokasi yaitu Sumatera Barat, Jawa Tengah dan NTT. Penyesuaian dilakukan dalam bidang kurikulum kelistrikan, lalu gurunya harus diupgrade terlebih dahulu kemudian diajarkan kepada siswanya. Siswa pun akan dibuatkan kelas khusus yang akan dikenal dengan kelas industri.