Dinas Pertanian NTT Siapkan 7.000 Bibit Marungga
Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Dinas Pertanian (Distan) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menyiapkan 7.000 bibit marungga untuk kepentingan peluncuran penanamannya yang sedianya dilakukan Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat pada lokasi pilot project di Oefafi, Kabupaten Kupang.
Kepala Dinas Pertanian NTT, Anis Tay Ruba sampaikan ini kepada wartawan di Kupang, Selasa (18/9/2018).
Menurut Anis, bibit marungga yang sedang disiapkan dalam polibek itu, sesuai rencana akan ditanam dalam satu hamparan khusus. Lahan yang disiapkan seluas lima hektar di Oefafi, Kabupaten Kupang. Lahan dimaksud sedang dalam proses persiapan.
“Rencananya pada pertengahan Oktober mendatang, dilakukan peluncuran penanaman marungga di Oefafi oleh gubernur,” kata Anis.
Selain persiapan dalam bentuk polibek, lanjut mantan penjabat Bupati Ngada ini, pihaknya juga sedang menghimpun benih yang berasal dari hasil panen masyarakat. Pasalnya, tanaman marungga sudah lama dikenal dan dikonsumsi masyarakat, tapi pengembangan dalam skala besar belum pernah dilakukan.
“Ada tiga cara yang dapat dipakai untuk tanam marungga yakni stek, biji, dan bibit yang disemaikan,” terang Anis.
Dia menyampaikan, terkait pembangunan bidang pertanian dan pengembangan marungga, melalui APBD NTT 2018, sedang dilakukan grand design pengembangan pertanian lahan kering kepulauan. Selain itu mengirim 100 orang untuk mengikuti pelatihan petani marungga (kelor) di Blora, Jawa Tengah. Pelatihan itu bekerjasama dengan PT Marungga Organik Indonesia (MOI).
Anis mengungkapkan, dengan PT MOI juga dilaksanakan pilot project pengembangan marungga di Kabupaten Kupang. Pengembangan yang dilakukan menggunakan model intensifikasi dengan sistem monokultur. Pengembangan sistem ini akan dimanfaatkan daunnya untuk selanjutnya diolah menjadi produk turunan lainnya, seperti untuk bahan dasar kosmetik dan obat- obatan.
Pengembangan marungga juga menggunakan plasma dengan pola tanam lorong. Marungga ditanam di pematang atau sebagai penguat terasering. Jarak tanam yang ditetapkan yakni 2,5 meter antartanaman. Keuntungannya, masih bisa ditanam tanaman sela.
Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat menyatakan, akan mengembangkan tanaman marungga menjadi sumber pendapatan atau devisa baru di daerah ini. “Kelor (marungga) menjadi pohon masa depan yang diandalkan untuk mengatasi kekurangan gizi dan stunting yang mencemaskan,” tandasnya.
Dia menyatakan, tumbuhan marungga di NTT termasuk yang terbaik di dunia sehingga bisa membuatnya menjadi “emas hijau” yang akan bernilai ekonomi tinggi. Kalau di Eropa, di Jepang, dikenal dengan revolusi putih minum susu putih. NTT ingin memperkenalkan kepada dunia revolusi hijau lewat marungga. Karena itu, masyarakat diajak untuk mulai saat ini menanam marungga secara massal sebagai tanaman produksi.

