Diduga Gangguan Jiwa, Guru Bacok Isteri dan Seorang Dukun

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Tim Buser Polres Belu berhasil mengamankan seorang pria berinisial FYS (29) pelaku pembacokan dua warga Kotafoun, Desa Fohoeka, Kecamatan Nanet Duabesi, Kabupaten Belu, Jumat (10/8/2018) sore.

Sesuai informasi yang diperoleh, pelaku FYS merupakan suami korban dan Guru pada SMP di Laktutus perbatasan dengan Timor Leste.

Pelaku membacok Isteri MGT (30) serta seorang warga YA yang merupakan seorang dukun di kediaman pelaku. Akibat insiden itu MGT mengalami luka pada tangan.

Sementara korban YA mengalami luka serius di bagian kepala dan menjalani perawatan intensif di RSUD Atambua bersama korban MGT yang juga berprofesi Guru.

Menurut keterangan saksi korban MGT selaku isteri bahwa, dalam kurun waktu sekitar dua minggu belakangan pelaku sering berkelakuan layaknya orang sakit jiwa (gila) .

Jelas saksi korban (isteri pelaku) yang mana pelaku sering murung dan berbicara sendiri serta tidur di hutan pada malam hari.

Melihat keadaan pelaku, pihak keluarga pelaku meminta isteri pelaku untuk menghubungi Yosep Asa selaku dukun orang yang dapat menyembuhkan sakit pelaku.

Atas dasar itu saksi korban pergi meminta bantuan dari YA. Sekira pukul 16.00 wita, Kamis (10/8/2018) korban YA mendatangi rumah pelaku untuk melakukan pengobatan.

Disaat korban YA datang melakukan pengobatan tiba-tiba pelaku berdiri dan berjalan ke arah belakang rumah dengan alasan hendak kencing.

Namun tak diduga, sesaat kemudian pelaku kembali dengan membawa sebilah parang dan langsung mengayunkan parang tersebut secara berulang kali ke arah korban YA.

Melihat hal itu, isteri pelaku berusaha menahan pelaku sehingga istri pelaku juga terkena tebasan parang dibagian tangan kanan.

Terpisah Kapolres Belu melalui Kasat Reskrim, Iptu Jemi O. Noke menuturkan, atas kejadian itu tersangka sudah diamankan di Polres Belu. “Kita masih dalami motifnya apa sehingga pelaku nekad melakukan aksi tersebut,” ujar dia.

Kasat Jemi menghimbau kepada keluarga dua belah pihak agar menyerahkan persoalannya ke pihak berwajib dan membantu berikan informasi supaya kasus terang berderang.

“Jangan ada main hakim sendiri atau berbuat hal-hal yang merugikan mereka sendiri. Karena perbuatan sekecil apapun yang melanggar hukum kami proses,” tandas Jemi.