Abdul Rosyid Wahab, Penganjur Toleransi Dari Sikka Terima MAARIF Award 2018

Bagikan Artikel ini

Jakarta, NTTOnlinenow.com – Tahun 2018 ini, kita dikejutkan dengan serangkaian peristiwa bom bunuh diri di sejumlah gereja di Surabaya. Sungguh tragedi ini mengoyak ikatan kemanusiaan kita. Di tengah upaya merajut solidaritas anak bangsa dalam kemajemukan, kita mesti menghadapi peristiwa keji para penghayat Teologi Maut itu. Tindakan intoleran ini telah mencoreng bangunan kebangsaan kita.

Tak hanya itu, tahun 2018 disebut juga sebagai Tahun Politik. Hajatan besar Pemilihan Umum Kepala Daerah di sejumlah daerah-daerah kunci akan dihelat pada tahun ini. Tak hanya sekedar Pilkada, sebab juga adalah pertaruhan untuk 2019 (pemilu legislatif dan pilpres). Pada momen ini, rakyat akan disuguhi berbagai akrobat dan intrik politik. Pelibatan SARA dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 yang lalu, telah mengoyak rajutan kebinekaan, dikhawatirkan akan dijadikan pola dalam perhelatan politik tahun ini. Tentu fenomena ini merupakan sebuah kemunduran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, apalagi semua itu telah menciptakan adanya intimidasi, persekusi, diskriminasi dan laku intoleransi yang dilakukan terhadap sesama warga negara.

“Tahun 2018 sebagai tahun politik sepatutnya dapat dijadikan momentum memerkuat persaudaraan kebangsaan, dengan melahirkan para pemimpin yang mampu merajut harmoni antar sesama anak bangsa tanpa tersekat batas-batas primordialitas, terlebih baru saja kita dihadapkan pada peristiwa teror yang mengoyak rasa kemanusiaan kita”, tegas Muhammad Abdullah Darraz, Direktur Eksekutif MAARIF Institute melalui siaran pers.

Untuk itulah, MAARIF Award, yang diprakarsai oleh MAARIF Institute sejak 2007, hadir untuk mengapresiasi dan memberi pengakuan terhadap model kepemimpinan lokal yang kreatif dan autentik. Mereka yang terpilih adalah sosok-sosok, baik individu maupun lembaga yang diakui telah berhasil melakukan perubahan sosial di masyarakat dan komunitasnya dengan menghidupkan harapan dan optimisme melalui kerja-kerja dan komitmen tinggi pada nilai-nilai toleransi, kebhinnekaan, dan keadilan sosial.

“Ibarat oase yang menyuntikan harapan baru (new hope) dan menumbuhkan model-model alternatif (role models), para pemimpin ini diharapkan dapat melakukan penguatan dan pemberdayaan masyarakat sipil dalam upaya pencegahan kekerasan sektarian dan sekaligus mampu menjembatani hubungan antar-agama di kalangan masyarakat akar rumput. Mereka merupakan pejuang kemanusiaan dan penggerak proses perubahan sosial di tingkat akar rumput dengan komitmen tinggi terhadap toleransi, pluralisme, moderasi, dan keadilan sosial” lanjut Darraz di sela-sela konferensi pers (27/5) publikasi penerima MAARIF Award 2018.

Setelah menerima lebih dari 30 ajuan nama yang diajukan oleh publik, dan diteruskan dengan investigasi mendalam, maka dewan juri MAARIF Award 2018 ini diberikan pada Abdul Rosyid Wahab dari kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. “Keputusan juri yang hanya memilih satu nama yakni Abah Rosyid tentu melalui pertimbangan yang sangat matang dan sangat ketat” demikian disampaikan oleh Rahmawati Husein mewakili dewan juri.

Abdul Rosyid Wahab dikenal sebagai sosok pelintas batas primordial dan promotor toleransi antar umat beragama di kabupaten Sikka, Maumere, NTT. Jejaknya merentang dari pencegahan konflik SARA, pendampingan bencana alam Rokatenda hingga mempelopori lembaga pendidikan Muhammadiyah di Maumere yang 80 % pelajarnya adalah Katolik dan Kristen. “Pluralisme Abah Rosyid adalah pluralism in action” terang Sudhamek AWS.

Menurut Arif Zulkifli, salah satu dewan juri yang juga jurnalis senior menyebut bahwa konsistensi Abah Rosyid sangat layak untuk diapresiasi. “Abah Rosyid membuktikan bahwa minoritas dan mayoritas menjadi tak berarti dalam hal kerja-kerja kemanusiaan. Peristiwa Gunung Rokatenda membuktikan bahwa Abah Rosyid tak melihat agama dan kepercayaan dalam membantu warga. Meski para pengungsi sebagian besar Katolik, sementara Abah adalah seorang Muslim”. Terang Arif.

Pengurus FKUB Kabupaten Sikka yang turut hadir dalam penganugerahan ini yakni Pastor Yacob Djado Bala menjadi saksi atas kerja-kerja kemanusiaan Abah Rosyid. “Kebersamaan yang menjadi kunci Abah Rosyid dalam menjaga kerukunan warga di Sikka merupakan fakta dan kami merasakan kebajikan-kebajikan dari seorang saudara kami, Abah Rosyid” jelasnya.

Malam Penganugeran MAARIF Award 2018 ini dihelat pada hari Minggu, 27 Mei 2018, di Grand Studio Metro TV. Hadir pada kesempatan tersebut beberapa tokoh nasional seperti Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, Menkominfo Rudiantara, Mendikbud Muhadjir Effendy,dan para juri yang terdiri atas Sudhamek AWS, Clara Joewono, Arif Zulkifli, Rahmawati Husein dan Masril Koto. Dalam kesempatan ini hadir juga Cendekiawan Muslim, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Dr Abdul Mu’ti, M.Ed., yang memberikan orasi kebudayaan.