Umat Paroki Bolan Tuntut Keadilan dan Kebenaran Kasus Tanah Gereja

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Ratusan umat Paroki Bolan menuntut keadilan dan kebenaran terkait dengan kasus sengketa tanah gereja St. Fransisko Xaverius Bolan dengan Yoseph Ama Bere Seran yang berlokasi di Desa Fahiluka, Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka, Timor Barat wilayah perbatasan RI-RDTL.

Tuntutan tersebut disampaikan umat Paroki Bolan dalam orasi di halaman Kantor Pengadilan Negeri Atambua. Umat kecewa lantaran sidang dengan agenda mengahadirkan saksi tergugat ditunda ke pekan depan. Tanah itu merupakan milik Kauskupan Atambua, karena itu diminta sidang terus dilanjutkan.

Salah satu Tokoh Umat Paroki Bolan, Meri Kain disela-sela aksi, Selasa (30/1/2018) mengatakan, kedatangan umat dari Paroki Bolan ini untuk mengikuti sidang kasus sengketa tanah gereja Bolan antara penggugat pihak gereja dan tergugat Yosep Ama Bere Seran.

“Kita mau ikut sidang kasus tanah paroki Bolan, tapi ternyata saksi tergugat tidak datang, katanya belum siap dan umat kecewa,” ujar dia.

Karena itu tegas Kain, kami umat Paroki Bolan tetap menuntut keadilan dan kebenaran agar kasus sengketa tanah gereja Paroki ini segera diselesaikan secepatnya, karena tanah itu milik Keuskupan Atambua.

Dikatakan, hari ini sidang tunda alasannya saksi belum siap. Kami akan tetap tuntut, dan tanggal 6 Februari nanti sidang kami akan datang lagi dengan umat yang lebih banyak dari hari ini.

“Yang diperjuangan keadilan dan kebenaran karena umat sangat membutuhkan pelayanan dan tanah itu milik Gereja umat Paroki Bolan,” tandas Kain.

Untuk diketahui, kurang lebih seratus warga umat Paroki Bolan menggunakan belasan unit kendaraan seperti minibus, truk dan sepeda motor mendatangi Kantor Pengadilan untuk menghadiri sidang kasus sengketa tanah tersebut.

Pantauan media, aksi ratusan umat Paroki Bolan yang berjalan aman dan lancar berkahir sekitar pukul 11.40 Wita. Selama beraksi mendapat pengawalan ketat dari personel Polres Belu yang tengah berada di Kantor Pengadilan mengawal persidangan kasus pembunuhan.

Terpisah Silvester Nahak selaku kuasa hukum tergugat yang dikonfirmasi soal aksi warga mengatakan, selama ini proses persidangan kasus tersebut berjalan baik. Hanya saja, saat agenda pemeriksaan saksi hari ini ternyata saksi yang disiapkan masih berhalangan sehingga belum bisa hadir.

“Memang saksi yang disiapkan tergugat masih berhalangan. Sehingga saya memohon dengan rendah hati pada majelis Hakim untuk sidang ditunda ke Minggu depan. Dan itu sesungguhnya hak tergugat, kecuali tiga kali berturut-turut tidak datang maka saksi itu gugur,” terang Nahak.

Lanjut dia, kaitan aksi warga yang juga adalah umat Paroki Bolan ketika mendengar sidang ditunda itu merupakan hal yang wajar. Persoalan aksi tadi, itu hak mereka dan bagi kami itu wajar. Kami sedikit sesalkan dengan keadaan tadi karena mereka kesannya tidak menghargai lembaga Pengadilan.

Sebab kronologisnya, jelas Nahak mereka ribut di dalam saat sedang sidang. Kan ada kuasa hukum, harusnya segala macam unek-unek yang ada pada umat disampaikan melalui pengacara untuk disampaikan secara terhormat di persidangan. “Tapi yang terjadi, mereka buat hura di dalam persidangan. Itu sangat menggangu jalannya proses persidangan,” ujar dia.