Tunjang Program PPIA, Dinkes Gelar Pertemuan Advokasi

Bagikan Artikel ini

Laporan Nyongki Mauleti
Kupang, NTTOnlinenow.com – Dinas Kesehatan Kota Kupang, Kamis (18/01/2018) menggelar pertemuan advokasi di hotel Naka Kupang. Pertemuan tersebut dilakukan dalam rangka meningkatkan program Pencegahan Penularan Ibu ke Anak (PPIA). Kegiatan itu ditujukan kepada para Kepala Puskesmas di Kota Kupang, Dokter-dokter dari RSUD, S.K Lerik dan sejumlah LSM Peduli AIDS, KPAD Provinsi NTT, dan KPAD Kota Kupang

Turut hadir dalam kegiatan itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang, dr. Ary Wijana Kepala Perwakilan UNICEF NTT, Kepala Bappeda Kota Kupang, Jhon Pelt, Kepala Badan Keuangan Kota Kupang, Jefri Pelt, dan Ketua PPNI Provinsi NTT. Dalam kegiatan itu,hadir sebagai narasumber, Kepala Seksi HIV dan AIDS Kementerian Kesehatan (Kemenkes)RI dan Kepala Seksi Maternal Kementerian Kesehatan RI.

Kepala Bidang Penanggulangan dan Pengamatan Penyakit Dinas Kesehatan Kota Kupang, Sri Wahyuningsih yang juga sebagai ketua panitia, dalam laporannya mengatakan bahwa pelaksanaan pertemuan tersebut dilakukan sesuai amanat Undang-undang Kesehatan nomor 36 Tahun 2009 yang menyebutkan bahwa Pelayanan Kesehatan ibu sangatlah penting demi menurunkan angka kematian ibu serta dapat melahirkan generasi yang sehat dan berkualitas.

baca Juga : DPRD Tegaskan Pendirian Bangunan Harus Miliki IMB

Wahyuningsih menjelaskan, saat ini akses pelayanan antenatal (pemeriksaan kehamilan) berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 sudah meningkat secara signifikan yaitu 96 persen. Tujuan dari pelayanan antenatal itu adalah mendeteksi secara dini kelainan pada ibu hamil maupun janin. Deteksi dini itu dapat dilakukan antara lain pada penyakit infeksi menular seksual atau IMS termasuk HIV, Sifilis dan Hepatitis B sehingga secepatnya bisa dideteksi dan diintervensi sedini mungkin,

Menurut Wahyuningsih, saat ini Kota Kupang telah mengadakan PPIA namun belum merata pelaksanaannya. Berbagai kendala masih banyak dihadapi antara lain dengan rendahnya cakupan test HIV, sifilis dan hepatitis B pada ibu hamil, rendahnya terapi pada ibu hamil terinfeksi, dan masalah dalam menindaklanjuti bayi yang lahir dari ibu terinfeksi HIV, sifilis dan Hepatitis B.

Wahyuningsih mengaku, rendahnya cakupan tes salah satunya disebabkan oleh karena tes HIV, Siffilis dan hepatitis B baru mulai dilaksanakan di Puskesmas sehingga pemeriksaan HIV, sifilis dan hepatitis B belum optimal. Oleh sebab itu Wahyuningsih berharap dengan adanya kegiatan ini kedepan pelayanan PPIA dan penggunaan ARV pada Ibu hamil di Kota Kupang di Kota Kupang dapat meningkat.