Kelompok Bahan Makanan Picu Inflasi NTT 0,73 Persen
Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Kenaikan harga bahan makanan di pasaran pada November 2017 menjadi salah satu pemicu inflasi yang terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada bulan itu sebesar 0,73 persen.
Hal ini disampaikan Kepala Bidang Statistik dan Distribusi, Badan Pusat Statistik (BPS) NTT, Demarce Sabuna, dalam jumpa pers, di kantor BPS NTT, Kupang, Senin (4/11/2017).
Sabuna menjelaskan, perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) Provinsi NTT berada pada posisi 129,10. Untuk dua kota di NTT, yaitu kota Kupang mengalami inflasi 0,82 persen dengan IHK 129,96 dan kota Maumere juga pada November 2017 terjadi inflasi 0,10 persen dengan IHK 123,46 persen.
Menurut Sabuna, perbandingan inflasi dari tahun ke tahun, November 2017 terhadap November 2016 (y on y) untuk provinsi NTT, sebesar 2,70 persen, kota Kupang, 2,66 persen dan kota Maumere, sebesar 2,99 persen.
“Jenis komoditas yang menjadi andil penyumbang inflasi untuk Provinsi NTT dan Kota Kupang terjadi sama, yaitu dari kelompok bahan makanan,” ungkapnya.
Baca juga : Kepercayaan Masyarakat Terhadap Parpol Mulai Berkurang
Dia menyebutkan, jenis makanan itu berasal dari kelompok bahan makanan, seperti sayur putih, ikan kembung, daging ayam ras, kangkung, wortel dan bahan bangunan semen. Sementara, komoditas utama penghambat inflasi, yaitu kakap merah, bunga pepaya, ikan tembang, daun singkong, jeruk nipis, semangka, daging sapi dan bahan bangunan pasir.
Lebih lanjut Sabuna mengatakan, kondisi di daerah pedesaan terjadi deflasi pada November 2017, sebesar 0,99 persen. Sedangkan subkelompok yang mengalami inflasi adalah makanan jadi, sebesar 0,39 persen, perumahan 0,22 persen, sandang 0,23 persen, kesehatan 0,42 persen dan transportasi 0,39 persen. Untuk subkelompok yang mengalami deflasi, yaitu bahan makanan 0,45 persen dan pendidikan 0,06 persen.
Jika dibandingkan dengan sampel 82 kota secara nasional, lanjut Sabuna, terdapat 68 kota yang mengalami inflasi dan sisanya 14 kota terjadi deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di kota Singaraja, sebesar 1,80 persen dan terendah terjadi di kota Bekasi dan Palopo dengan inflasi sebesar 0,02 persen. Sedangkan deflasi terbesar terjadi di kota Tual, 2,74 persen dan deflasi terkecil di kota Manokwari, sebesar 0,02 persen.
Sementara itu, untuk perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP), bulan November 2017, berpatokan pada perhitungan NTP tahun dasar 2012. Perhitungan NTP ini mencakup lima subsektor, yaitu subsektor padi dan palawija, holtikultura, tanaman perkebunan rakyat, peternakan dan perikanan.
Dia menambahkan, pada November 2017, NTP Provinsi NTT sebesar 104,32 dengan NTP masing-masing subsektor tercatat 106,98. Subsektor tanaman padi dan palawija (NTP-P), 101,92, holtikultura (NTP-H), 99,53, subsektor tanaman perkebunan rakyat (NTP-TPR), 197,45, peternakan dan subsektor perikanan (NTP-Pt) dan (NTP-Pi) ), sebesar 107,55.

