Miskin Koordinasi dan Ego Sektoral, Sekda Ajak Bangun Komunikasi

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Ego sektoral merupakan satu penyakit besar di seluruh daerah dalam negara Indonesia, tak terkecuali di Kabupaten Belu yang berbatasan langsung dengan Negara Timor Leste.

Hubungan kerja sama antar Pemerintah Kabupaten Belu dengan lintas sektor lain belum berjalan searah dalam membangun daerah, pasalnya masih banyak segi ego sektoral.

“Di Belu kita miskin koordinasi, karena itu mari kita komunikasi agar pembangunan berjalan bersama. Mari kita semua bekerja sama untuk Indonesia dari perbatasan Belu,” ujar Sekda Belu, Petrus Bere menjawabi pertanyaan wartawan dalam jumpa pers di aula Dinas Kominfo Belu, Rabu (16/8/2017).

Akui Sekda, pembangunan daerah batas kebijakan pusat untuk membangun Indonesia dari perbatasan Belu. Oleh karena itu hilangkan ego sektoral yang ada dan bekerja sama demi kelancaran pembangunan. “Mari kita semua satu hati, satu pikiran bangun Belu ke arah yang lebih baik lagi. Belu itu sahabat, Belu itu teman,” ucap dia.

Dalam jumpa pers tentang penyelenggaraan pembangunan di Belu sekaligus perayaan HUT RI ke-72, Sekda mengatakan sesuai tema besar perayaan kemerdekaan Indonesia kerja bersama. Tema ini mengingatkan pada kita semua kemerdekaan yang diraih itu bukan hasil golongan tertentu tapi hasil semua ras, suku di Republik Indonesia ini.

Baca juga : Warga di Tapal Batas Belu-Timor Leste Gelar Doa Kemerdekaan RI

“Saya himbau tetap bangun kebersamaan untuk mengisi kemerdekaan ini, bahwa masih ada musuh yang kita perang bersama yakni kemiskinan, kebodohan di perbatasan Belu, juga musuh narkoba yang harus diperangi. Untuk atasi itu semua tentu butuh kerja sama kita semua dan tetap menjaga Kabupaten ini dalam bingkai NKRI dalam porsi kita perbatasan,” ujar dia.

Dijelaskan, perayaan kemerdekaan Indonesia di Kabupaten Belu ada beberapa titik diantaranya, upacara lapangan umum Atambua Ibu Kota juga di pintu perbatasan Mota’ain yang akan dihadiri pejabat Esalon I Deputi perbatasan yang akan menjadi Irup.

Ditambahkan, salah satu kebijakan untuk atasi kemiskinan di Belu yakni program beras miskin, ada penambahan 1000 KK miskin tahun 2017, dan untuk atasi kebodohan akan meningkatkan mutu pendidikan disegala lefel dari tingkat rendah sampai tingkat tinggi.

“Raskin itu makanan tambahan bukan pokok, mari kita mandiri jagung itu makanan pokok. Ada empat hal Pemkab lakukan tekan pembangunan yakni, jagung, padi, ternak dan air. Luas lahan tidur di masih banyak dan pemerintah sedang berjalan untuk manfaat lapangan dan itu upaya yang sedang dilakukan,” ujar dia.

Selain itu juga sedang dikembangkan produksi bawang tuk-tuk, ubi ungu, pengembangan anggur di Atapupu dan beberapa produk unggulan lain di perbatasan sehingga suatu saat ke depan masyarakat kita tidak mengalami kelaparan lagi. Juga sedang pengembangan kepiting bakau dengan anggaran APBD secara bertahap.