BI NTT Sosialisasi Uang NKRI ke Warga Desa Biloto TTS

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Soe, NTTOnlinenow.com – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melakukan sosialisasi uang baru tahun emisi 2016 (TE.2016) atau yang dikenal dengan uang NKRI kepada masyarakat di Desa Biloto, Kecamatan Molo Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Sabtu (27/5/2017).

Pantauan NTTOnline, pada kegiatan sosialisasi ciri-ciri keaslian uang rupiah TE.2016 itu, juga dilakukan layanan penukaran uang rupiah TE.2016. Ratusan warga yang hadir pada kegiatan tersebut nampak antusias mengikuti acara sosialisasi uang NKRI, dan juga melakukan penukaran uang lusuh.

“Kami perlu memperkenalkan bentuk dan warna uang yang baru diluncurkan BI dan sudah diperkenalkan kepada masyarakat sejak 19 Desember 2016,” kata Kepala BI Perwakilan NTT, Naek Tigor Sinaga.

Tigor mengatakan, sosialisasi uang emisi yang baru ini sangat penting, sebab menjelaskan tentang upaya pengamanan ciri-ciri keaslian uang rupiah seperti teknologi rectoverso, apabila diterawang akan terbentuk gambar saling berupa logo BI.

Selain itu penguatan unsur pengamanan rectoverso, dimana penyempurnaan desain rectoverso logo BI dengan pola yang lebih sulit dipalsukan, dan juga penyeragaman posisi untuk setiap pecahan.

Dijelaskannya, total 11 desain bentuk baru uang NKRI 2016 yakni terdiri dari uang pecahan Rp100.000, Rp50.000, Rp20.000, Rp10.000, Rp5.000, dan Rp2.000, sedangkan uang logam terdiri dari nominal Rp100, Rp200, dan Rp1.000.

“Jadi uang baru yang diluncurkan ini terdiri dari 11 pecahan yaitu tujuh uang kertas dan empat uang logam,” jelasnya.

Baca : Upsus Siwab, Pemkab TTS Target 25 Ribu Akseptor

Uang baru ini juga menampilkan gambar pahlawan Nasional, lanjutnya, selain itu ada juga gambar pemandangan, tarian nusantara sebagai wujud kecintaan dan karakteristik Indonesia.

“Salah satu pahlawan Nasional asal NTT yaitu Herman Yohannes terpilih untuk gambarnya dimunculkan pada salah satu pecahan mata uang NKRI,” ujarnya.

Terkait dengan pengamanan, Tigor mengatakan, uang emisi baru ini menjadi salah satu mata uang yang memiliki tingkat keamanan tertinggi di dunia sehingga akan sulit untuk dipalsukan.

Dia juga menegaskan, bahwa uang rupiah tidak memuat simbol terlarang palu dan arit. Hal tersebut disampaikan menanggapi informasi dan penafsiran yang berkembang di media yang menyatakan bahwa uang rupiah memuat simbol terlarang palu dan arit.

“Gambar yang dipersepsikan oleh sebagian pihak sebagai simbol palu dan arit merupakan logo BI yang dipotong secara diagonal sehingga membentuk ornamen yang tidak beraturan,” ujarnya.

Gambar tersebut merupakan gambar saling isi (rectoverso) yang merupakan bagian dari unsur pengaman uang rupiah. Unsur pengaman dalam uang rupiah bertujuan agar masyarakat mudah mengenali ciri-ciri keaslian uang, sekaligus menghindari pemalsuan.

Yulius, salah satu warga Desa Biloto mengatakan, sosialisasi uang NKRI yang dilakukan oleh BI NTT tersebut merupakan hal positif karena sangat membantu masyarakat di pelosok desa yang sebagian besar belum mengetahui ciri-ciri keaslian uang baru tersebut.

“Kami di desa banyak yang belum pernah lihat uang yang baru ini, apalagi bagaimana mengetahui unsur-unsur yang ada pada uang itu sehingga kami bisa membedakan mana yang asli atau mana yang tidak atau palsu. Sehingga sosialisasi ini sangat membantu kami,” ujarnya.