Mengenang Karya Pelayanan Utusan Injil GMIT, Alm. Rafel Neno (1)
Laporan Jean Alfredo Neno
Awal Memulai Pelayanan
Kupang, NTTOnlinenow.com – Rafel Neno, salah seorang Utusan Injil yang diberikan mandat oleh Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) untuk membantu para pendeta dalam memberikan pelayanan kepada jemaat gereja pada era tahun 1940-an, khususnya di wilayah Klasis Amarasi, meninggal dunia pada Minggu (9/4/2017).
Kabar meninggalnya sosok yang dikenal luas masyarakat di Amarasi, Kabupaten Kupang ini menghadirkan dukacita mendalam bagi keluarga, sanak saudara, kerabat, kenalan maupun para pendeta yang mengenalnya, sekaligus memantik kenangan tentang perjalanan hidup dan pelayanan almarhum sebagai seorang utusan Injil.
Pdt.Zakarias Neno, salah seorang keponakan kandung almarhum, yang sempat merasakan pengalaman dalam menjalankan tugas pelayanan ketika menjadi pendeta di jemaat Maranatha Baun, Kecamatan Amarasi Barat, Kabupaten Kupang itu, berbagi kisah tentang perjalanan pelayanan almarhum utusan injil, Rafel Neno.
Berikut ini petikan kisah Pdt. Zakarias Neno kepada NTTOnline. Dikatakan, pada era 1940-an jumlah pendeta masih sangat terbatas, oleh karena itu Mejelis Sinode GMIT menentukan utusan- utusan injil guna membantu para pendeta dalam menangani pelayanan jemaat di setiap klasis.
Para utusan injil diberikan mandat secara resmi melalui surat keputusan (SK) Sinode GMIT, sehingga para utusan injil ini merupakan pegawai atau karyawan Sinode GMIT. Almarhum diutus untuk bertugas di wilayah klasis Amarasi yang saat ini sudah menjadi dua klasis yaitu klasis Amarasi Timur dan klasis Amarasi Barat.
Utusan Injil yang terpilih saat itu, khususnya dari wilayah klasis Amarasi barat sendiri kurang lebih hanya tiga atau empat orang, termasuk salah satu diantaranya adalah almarhum Rafel Neno.
Rafel Neno mengabdikan hidupnya sebagai pelayan jemaat Kristus selama 55 tahun, yang dimulai sejak tahun 1941 hingga mengakhiri masa tugasnya atau pensiun pada tahun 1996. Almarhum mengawali pelayanan sejak usia 20 tahun sebagai diaken dan pensiun sebagai utusan Injil.
“Sebenarnya yang masih hidup tersisa dua orang, namun meninggalnya Rafel Neno maka tersisa satu orang saja yang masih hidup yaitu bapak Boas Niti di Batuna, Desa Tunbaun, Amarasi Barat,” ungkap Zakarias.
Para utusan injil ini bukan hanya dilatih bagaimana memimpin kehidupan rohani dari jemaat tetapi juga termasuk kehidupan jasmaninya, bagaimana perkembangan iman dan hidup yang lebih baik, semuanya itu ditangani oleh para utusan injil ini.
Baca : Warga GMIT Klasis Amarasi Berduka, Utusan Injil Rafel Neno Tutup Usia
Waktu itu, kehidupan masyarakat khususnya di Amarasi masih “gelap”, artinya banyak kuasa- kuasa gelap yang masih menguasai dan mendominasi, karena masyarakat belum mengenal kehidupan rohani atau kekristenan.
“Oleh karena itu, para utusan injil ini yang harus kuat untuk berhadapan dengan kuasa- kuasa gelap itu, bahkan seringkali atau tak jarang jiwa mereka terancam,” katanya.
Bahkan yang lebih parahnya lagi, ketika peristiwa komunisme atau Gestapu, Partai Komunis mengancam dan dalam rencana mereka adalah termasuk membunuh para utusan injil. Salah satu yang masuk dalam daftar untuk dibunuh adalah almarhum Rafel Neno.
“Meski demikian, hal itu tidak menyurutkan nyali para utusan injil di Amarasi, bahkan mereka semakin bersemangat dan berpegang teguh pada panggilan pelayanan, memenangkan jiwa- jiwa untuk bertobat dan menerima Yesus,” katanya.
Almarhum sendiri ketika itu, diangkat menjadi Ketua Kesatuan Pekerja Kristen (Kespekri) yang merupakan organisasi sayap Partai Kristen Indonesia (Parkindo) untuk wilayah Amarasi.
“Jadi semua pelayan- pelayan masuk pada organisasi tersebut, Kespekri itu sebagai salah satu cabang atau anak organisasi Partai Kristen Indonesia yang pada tahun 1950-an, tepatnya tahun 1955 Parkindo menang di NTT,” urainya.
Sesudah itu, ketika Klasis Amarasi dibagi menjadi dua yaitu wilayah timur dan wilayah barat, maka almarhum diangkat sebagai Visitator wilayah barat, yang mencakup seluruh gereja di wilayah Amarasi Barat.
Tugas yang harus dijalankan adalah menghidupkan pelayanan dengan memperhatikan, juga memanfaatkan kearifan budaya lokal. Sehingga mereka harus tahu untuk berbahasa atau bertutur adat yang dikenal dengan Natoni. Mereka dituntut untuk harus tampil sebagai pemimpin natoni.
“Dan yang menguasai hal itu adalah dua orang utusan injil ini yakni almarhum Rafel Neno yang baru saja meninggal dan Boas Niti yang saat ini masih hidup,” ujarnya.
Bahkan dalam urusan gerejawi, para utusan injil ini juga berperan sebagai penterjemah, sehingga ketika para pendeta berkhotbah dalam bahasa Indonesia maka mereka menterjemahkannya kedalam bahasa daerah (Timor/ Dawan), begitu pula sebaliknya.
Sebagai visitator, pekerjaannya bukan hanya memperhatikan satu jemaat saja, tetapi berkeliling dari satu jemaat ke jemaat lain, dari satu gereja ke gereja lain di wilayah kevisitatorannya.
“Saya jadi pendeta pada tahun 1980 dan bertugas di Amarasi Barat, waktu itu ada 19 mata jemaat. Jadi kalau kemana mana selalu bersama almarhum, ia mendampingi untuk melayani jemaat termasuk menterjemahkan khotbah ke dalam bahasa daerah bagi jemaat yang pada zaman itu kebanyakan berbahasa daerah,” ujarnya.
Untuk menjangkau daerah- daerah di wilayah pelayanan klasis Amarasi Barat, harus ditempuh dengan berjalan kaki. Karena pada masa itu belum ada kendaraan baik mobil maupun sepeda motor, dan jalan raya beraspal pun belum ada, yang ada hanyalah jalan setapak.
Kendaraan yang paling populer saat itu ialah kuda. Jadi kadang- kadang kami dijemput dengan kuda, kalau pun tidak maka kami tempuh dengan berjalan kaki untuk jarak yang dekat, dari 2 kilometer (km) sampai lebih kurang belasan km.
“Dalam pengalaman, saya berdua almarhum pernah berjalan kaki mulai dari Dusun Marena, turun sampai ke Oepaha kemudian menyusuri pantai ke Sakalak, Fetonai terus naik ke Nilopon dan Usapi Sonbai di wilayah Kecamatan Kupang Barat, kemudian kembali ke kampung Marena,” kisahnya mengenang. (Bersambung)

