Tingkat Kesejahteraan Petani di NTT Meningkat

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), tingkat kesejahteraan petani di daerah itu pada bulan Agustus 2016 mengalami peningkatan. Nilai Tukar Petani (NTP) NTT pada bulan Agustus sebesar 101,11.

Hal ini disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur, Maritje Pattiwaellapia kepada wartawan di Kupang, Kamis (1/9).

Menurut Maritje, Nilai Tukar Petani bulan Agustus 2016 didasarkan pada perhitungan NTP dengan tahun dasar 2012 (2012=100). Penghitungan NTP ini mencakup 5 subsektor, yaitu subsektor padi & palawija, hortikultura, tanaman perkebunan rakyat, peternakan dan perikanan.

“Jika NTP Agustus 2016 dibandingkan dengan NTP Juli 2016, terjadi peningkatan sebesar 0,65 persen. Di daerah perdesaan terjadi inflasi pada bulan Agustus 2016 sebesar 0,41 persen. Sub kelompok bahan makanan mengalami inflasi tertinggi yaitu sebesar 0,66 persen. Sedangkan inflasi terendah adalah sub kelompok transportasi dan komunikasi yaitu sebesar 0,07 persen,” kata Maritje.

Maritje menjelaskan, Nilai Tukar Petani yang diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani (dalam persentase) merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di pedesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani.

Berdasarkan hasil pemantauan harga-harga pedesaan di NTT pada Agustus 2016, NTP di Nusa Tenggara Timur mengalami peningkatan  dibanding Juli 2016 yaitu sebesar 0,65 persen. “Hal ini disebabkan karena terjadi peningkatan yang lebih besar pada indeks harga hasil produksi pertanian dan terjadi peningkatan yang lebih kecil pada indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga maupun untuk keperluan produksi pertanian,” jelasnya.

Maritje merincikan, apabila ditinjau per subsektor dengan membandingkan NTP Agustus 2016 dengan NTP Juli 2016 maka subsektor padi palawija mengalami peningkatan sebesar 1,77 persen, subsektor hortikultura mengalami penurunan sebesar 0,35 persen; subsektor tanaman perkebunan rakyat mengalami peningkatan sebesar 0,75 persen; subsektor peternakan mengalami peningkatan sebesar  0,03 persen dan subksetor perikanan mengalami penurunan sebesar 0,01 persen.

“Indeks harga yang diterima petani dari ke lima subsektor menunjukkan fluktuasi harga beragam komoditas pertanian yang dihasilkan petani. Pada Agustus 2016, indeks harga yang diterima petani naik sebesar 1,02 persen dibandingkan Juli 2016 yaitu dari 121,38 menjadi 122,62,” katanya.

Dia menambahkan, melalui indeks harga yang dibayar petani dapat dilihat fluktuasi harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat pedesaan, khususnya petani yang merupakan bagian terbesar di pedesaan serta fluktuasi harga barang dan jasa yang diperlukan untuk memproduksi hasil pertanian. Pada Agustus 2016 indeks harga yang dibayar petani dilaporkan mengalami peningkatan dibandingkan Juli 2016 yaitu  120,82 menjadi 121,27 atau meningkat sebesar 0,37 persen.

Pada bulan Agustus 2016, NTP Nusa Tenggara Timur sebesar 101,11 dengan NTP masing-masing subsektor tercatat sebesar 102,27 untuk subsektor tanaman pangan (NTP-P); 98,04 untuk subsektor hortikultura (NTP-H); 96,32 untuk subsektor tanaman perkebunan rakyat (NTP-TPR); 106,57 untuk subsektor peternakan (NTP-Pt) dan 104,01 untuk subsektor perikanan (NTP-Pi).