Media Harus Hindari Pemberitaan Pemicu Konflik

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Media massa dan wartawan harus menghindari pemberitaan yang berpotensi sebagai pemicu konflik. Berita harus menjadi pembawa damai dan bukan sebagai sumber konflik yang bisa memecah belah atau justru membuat situasi semakin memanas.

Hal ini mengemuka dalam diskusi terbatas yang diselenggarakan Peace Journalist Community Kupang (PJCK) dan AJI Kota Kupang, Jumat (26/8) di Kupang. Diskusi itu mengambil tema “Whorkshop Penulisan Tentang isu KBB.”

Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Kupang, Alex Dimoe mengatakan, media massa harus mampu memberi solusi terhadap sebuah konflik yang terjadi di daerah ini. Karena itu, pilihan terhadap narasumber pun menjadi sebuah keharusan. Dengan harapan, pemberitaan yang disajikan menjadi solusi dalam penyelesaian konflik.

Menurut Alex, jurnalis dan media massa harus jeli sehingga tidak menjadikan provokator sebagai narasumber dalam memberitakan situasi konflik. Narasumber yang tepat adalah orang netral dan nasionalis.

“Harus diakui, wartawan sering tidak objektif dalam membuat pemberitaan karena mengedepankan apologi pembenaran terhadap apa yang dianutnya,” kata Alex.

Pemimpin Redaksi (Pemred) Harian Kursor, Anna Djukana mengatakan, sebaiknya dalam melakukan berbagai liputan tentang isu- isu agama, seorang jurnalis tidak hanya mengambil satu pandangan saja. Harus ada pembanding dan membiarkan masyarakat yang menyimpulkan sendiri. Dengan demikian wartawan harus paham visi dan misi dari masing- masing agama yang menjadi bekal dalam berbagai peliputan isu- isu agama.

Harus diakui, lanjut Anna, kemampuan jurnalis di lapangan dalam menulis berita dan redaktur dalam melakukan editing  di ruangan redaksi tidak memiliki perspektif keberagaman dan pengetahuan yang baik tentang agama-agama.Sehingga  berita- berita keberagaman, kebebasan beragama dan berkeyakinan berbelok dari aslinya, tidak menyebarkan kedamaian.

“Istilah dalam jurnalistik bad news is a good news dimana berita buruk adalah berita bagus menjadikan wartawan semangat untuk memproduksi berita buruk yang meresahkan. Istilah ini sudah tidak tepat lagi untuk digunakan,” tandas Anna.

Dia menyatakan, media massa selama ini berperan besar menumbuhkan asumsi- asumsi berita dengan latar belakang jurnalis di lapangan tidak meliput utuh, tidak meminta konfirmasi dari narasumber atau pihak yang bertikai secara berimbang. Selain itu, jurnalis di lapangan tidak mempunyai kemampuan mendeskripsi situasi menuliskan laporan yang didapat dengan baik.

Hal ini diperburuk dengan redaktur yang melakukan editing tidak mempunyai pemahaman tentang isu- isu keberagaman, beragama, berkeyakinan. Akibatnya, berita yang diedit tampil pas-pas atau tanpa perspektif. Hasilnya berita berat sebelah bahkan menguntungkan salah satu pihak.

Anna menambahkan, seorang jurnalis harus membaca aneka literatur, memperbanyak diskusi-diskusi, training- training yang melibatkan jurnalis, redaktur tentang keberagaman. Sehingga media mainstream tidak sekedar terbit dan laku di pasaran  tetapi tugas sebagai penjaga nilai dengan mampu menebarkan semangat perdamaian, menghargai keberagaman dan mendukung kebebasan berkeyakinan dan beragama.

Pada kesempatan itu Anna menawarkan agar memberikan ruang bagi kaum minoritas dalam aspek keberagaman agama. Mengoptimalkan berita pada resolusi konflik. Harus dilakukan kontrol secara berjenjang terhadap setiap berita yang masuk ke redaksi.

Komentar ditutup.