Gunakan Metode Dongeng, Prajurit Yonif Raider 712/Wt Ngajar Siswa TK, SD

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Selain melaksanakan tugas menjaga wilayah perbatasan, prajurit TNI Satgas Pamtas RI-RDTL Sektor Timur Yonif Raider 712/Wiratama juga mengisi waktu dengan mengajar siswa-siswi sekolah di wilayah perbatasan Kabupaten Belu.

Hal itu dilakukan Danpos Laktutus Lettu Inf. M Rapiyuddin, Senin lalu bersama anggota di Pos Laktutus, Desa Fohoeka, Kecamatan Nanaet Duabesi yang melaksanakan program mengajar bagi anak-anak pelajar tingkat PAUD dan SD setempat dengan pola dongeng menggunakan media boneka.

Dansatgas Yonif Raider 712/Wt, Letkol Inf.Elvino Yudha yang dihubungi media, Kamis (25/5/2017) mengatakan, kegiatan mengajar anak-anak sekolah  yang dipraktekan prajurit di Pos Laktutus merupakan program Satgas Pamtas peduli masyarakat perbatasan di bidang pendidikan.

“Prajurit mengajar dengan metode dongeng gunakan media bantu boneka. Dengan metode ini secara tak langsung siswa lebih mudah mengerti materi yang disampaikan,” ungkap dia.

Baca : Ferry Kase: Indonesia Dibangun Bukan Atas Persamaan

Jelas Elvino, program pendidikan Satgas mengajar dimaksud guna mendorong dan memicu para pelajar sekolah di wilayah pelosok, untuk terus meningkatkan semangat belajar sehingga bisa meraih cita-cita dan impian di masa depan.

“Kita siap melayani dengan hati. Ada prajurit yang bisa di bidang olah raga, kewarganegaraan, bimbingan karakter dan bahasa Indonesia. Kalau guru berhalangan kita bisa gantikan mengajar dengan mata pelajaran yang sesuai,” terang dia.

Lanjut dia, melalui kegiatan mengajar itu juga bisa terbentuk kedekatanan emosional TNI dan anak-anak. Selain mengajar pelajar dengan pola dongen di dalam ruang kelas, prajurit di Pos Laktutus juga melatih PBB dengan tujuan membentuk karakter, kepribadian dan kedisplinan.

“Bentuk giat lainnya kita lakukan untuk kepentingan nasionalisme kebangsaan anak. Selama sembilan bulan kedepan kita akan laksanakan program pendidikan mengajar anak-anak sekolah yang tersebar di 20 Pos di sepanjang tapal batas Belu dan Timor Leste,” ujar Elvino.