Pokja AMPD Belu Resmi Dibentuk, Diharapkan Saling Kolaborasi
Laporan Yan Manek
Atambua, NTTOnlinenow.com – Pengurus Kelompok Kerja Aksi Merespon Peringatan Dini atau Pokja AMPD Belu resmi dibentuk, Rabu (3/3/2026).
Pembentukan Pojka AMPD setelah melalui kegiatan sosialisasi yang digelar PMI NTT dan PMI Belu sejak Senin 3 Maret kemarin di Hotel Nusantara II Atambua, Kabupaten Belu.
Kepada media, Kadiv Pelayanan Markas PMI NTT, Adrianus Jeharun menyampaikan bahwa, pembentukan Pokja AMPD di tingkat kabupaten merupakan implementasi dari Pokja AMPD tingkat Provinsi NTT yang telah ditetapkan melalui SK Gubernur NTT Nomor 371/AK/KEP/2025.
Jelas dia, Pokja AMPD merupakan bagian dari Program SIAP SIAGA, kemitraan PMI dan Australia, yang mendorong perubahan paradigma penanggulangan bencana dari respons tanggap darurat menjadi pendekatan preventif berbasis peringatan dini.
“Kalau saat ini musim hujan, apa yang harus kita lakukan sebelum bencana terjadi? Itulah esensi aksi merespons peringatan dini. Kita bekerja sebelum sirene berbunyi,” kata dia didampingi Ketua Harian PMI Belu.
Menurut Adrianus, nantinya Pokja AMPD akan fokus pada tiga pilar utama yakni, pilar peringatan dini, aksi dini dan mekanisme pendanaan. “Aksi dini tersebut harus terintegrasi dengan informasi resmi dari BMKG serta dilaksanakan secara kolaboratif melalui skema pentahelix-melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, media, dan masyarakat sipil,” terang dia.
Sementara itu, Ketua Harian PMI Kabupaten Belu, Theodorus Seran Tefa menegaskan pentingnya dukungan formal dari Pemerintah Kabupaten Belu melalui penerbitan Surat Keputusan Bupati tentang pembentukan Pokja AMPD.
“SK Bupati menjadi dasar hukum penting agar kerja-kerja kolaboratif lintas sektor dapat berjalan efektif, terstruktur, dan berkelanjutan. SK ini jadi bagian penting untuk mendukung implementasi seluruh rencana aksi yang akan kita lakukan di lapangan. Dengan dasar hukum yang jelas, kolaborasi ini akan semakin kuat,” kata dia.
Lebih lanjut Theo sapaan akrab itu memberikan apresiasi kepada PMI Provinsi NTT serta para mitra, termasuk dukungan dari Australian Red Cross dan DFAT Australia, yang telah mendorong penguatan kesiapsiagaan berbasis peringatan dini di Belu.
“PMI tidak hanya hadir saat bencana terjadi, tetapi juga aktif dalam fase pra dan pascabencana sebagai mitra strategis pemerintah daerah,” kata dia.
Dia menegaskan, AMPD adalah pendekatan untuk mengaktifkan aksi dini sebelum bencana datang. Ini penting untuk mengurangi risiko kehilangan nyawa, harta benda dan kerusakan infrastruktur.
“Seperti bencana banjir kemarin di Dusun Boe, Desa Bauho akibat luapan Sungai Baukama sebagai pengingat bahwa sistem peringatan dini harus dibarengi aksi cepat berbasis lokal dan inklusif, terutama bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas,” terang Theo.
Lanjut dia, saat ini PMI Belu juga menjalankan Program SIAP SIAGA di Desa Bauho dan Desa Sadi untuk mendukung Desa Tangguh Bencana serta Satuan Pendidikan Aman Bencana, termasuk kerja sama lintas batas dengan Palang Merah Timor Leste.

