Listrik Jadi Kendala Investasi Pengembangan Ekonomi di NTT
Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Frans Lebu Raya menyampaikan, kondisi infrastruktur terutama kelistrikan menjadi salah satu dari sejumlah faktor penyebab atau kendala utama dalam pengembangan ekonomi di daerah berbasis kepulauan itu.
Selain masalah kelistrikan, faktor lain yang turut mempengaruhi adalah permasalahan sumber daya manusia (SDM), sumber daya air, pembebasan lahan dan perijinan.
Hal ini disampaikan Gubernur NTT, Frans Lebu Raya dalam pertemuan dengan Komisi VI DPR RI di Kupang, Senin (27/2/2017).
Pada kesempatan itu, Lebu Raya menjelaskan kepada rombongan Komisi VI DPR RI bahwa, terkait dengan permasalahan kelistrikan dibandingkan provinsi lainnya di Indonesia, rasio elektrifikasi di NTT menduduki posisi kedua terbawah setelah Provinsi Papua dengan nilai 58,83 persen.
Baca : Pemkab TTU Terapkan Program Tabungan Pensiun Bagi Petani
“Berdasarkan konsumsi listrik perkapita, konsumsi listrik di NTT menduduki posisi terbawah dalam menggunakan listrik di Indonesia dengan rata-rata penggunaan sebesar 139,4 Kwh perkapita,” jelasnya.
Lebu Raya mengatakan, untuk meningkatkan rasio elektrifikasi, PLN melakukan investasi dan menambah pelanggan yang terlihat dari rata-rata pertumbuhan PDRB pada pengadaan listrik dan gas yang selalu tumbuh di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi NTT.
“Pada triwulan tiga (III) 2016, pertumbuhan ekonomi sektor pengadaan listrik dan gas mencapai 19,8 persen year on year (yoy) jauh lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi NTT. Mulai terpenuhinya kebutuhan kelistrikan seiring dengan lancarnya operasional membuat penggunaan listrik alami peningkatan cukup signifikan,” katanya.
Sementara itu, lanjut Lebu Raya, berdasarkan Kajian Ekonomi Regional bulan November 2016, pertumbahan ekonomi NTT Triwulan I 2017 diperkirakan pada rentang 5,1 persen – 5,5 persen (yoy) sementara pertumbuhan sepanjang tahun 2017 diperkirakan pada kisaran 5,2 persen – 5,6 persen (yoy) atau meningkat dibandingkan prakiraan 2016 yang sebesar 5 persen – 5,4 persen (yoy).
“Di sisi lain, inflasi pada triwulan pertama 2017 diprediksi berada pada rentang 3,5 persen – 3,9 persen (yoy) dan inflasi akhir tahun 2017 akan berada pada kisaran 4,4 persen – 4,8 persen (yoy) atau lebih tinggi dibanding tahun 2016 yang diperkirakan pada rentang 2,4 persen – 2,8 persen (yoy),” urainya.

