WPA dan KDS Berhasil Membuat Obat Tradisional dari Bahan Herbal
Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Hasil dari Training of Trainer (ToT) tentang obat tradisional, peserta Warga Peduli Aids (WPA), Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) dan Layanan Kesehatan berhasil membuat obat tradisional dari bahan Herbal guna menjaga kondisi ODHA.
Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari digelar CD Bethesda Yakkum Yogyakarta cabang Belu diikuti 20 orang WPA, KDS dan Layanan Kesehatan kelompok binaan di Hotel Nusa II, Kabupaten Belu perbatasan RI-RDTL, Senin (11/5/2021).
Priambodo Budiwibowo selaku fasilitator obat tradisional menuturkan, selama dua hari ini Bethesda Yakkum melakukan kegiatan tentang pelatihan obat tradisional.
“Jadi, hari pertama kita fokuskan untuk teori. Hari kedua kita praktek, dan dari praktek ini kita membuat berbagai macam obat tradisional dari bahan-bahan yang ada disekitar kita (bahan herbal),” ujar dia.
Jelas Budiwibowo, karena fokus untuk penanganan HIV atau ODHA jadi resep-resepnya bahan yang digunakan untuk mengurangi efek samping penggunaan ARF.
“Diantaranya untuk diare, kurang nafsu makan, badan gatal-gatal serta jenis lainnya dan kita hanya pada penanganan ARV efek dari obat HIV bukan pengobatan,” terang dia.
Diharapkan dalam ToT ini, para peserta latihan menjadi seorang pelatih atau trainer. Nanti, setelah pelatihan ini para peserta bisa memfasilitasi di desanya masing-masing.
“Jadi, konsepnya kita adalah mudah didapatkan cara pembuatannya dan bermanfaat meskipun menggunakan bahan-bahan sederhana di sekitar kita,” sebut Budiwibowo yang juga berprofesi Apoteker itu.
Bersamaan, Koordinator CD Bethesda Yakkum cabang Belu, Yosafat Acian mengatakan pembuatan obat tradisional ini gunakan bahan atau jenis tanaman yang ada disekitar kita. Selain mengenal bagaiamana memanfaatkan untuk kesehatan dasar.
Untuk kegiatan ini, kita sudah ada rencana tindak lanjut, salah satunya mereka kembali akan mengidentifikasi jenis tanaman apa saja yang ada di wilayah mereka. Kemudian sosialisasikan materi yang mereka dapat minimal kepada keluarga dan tetangga.
“Kita juga berharap budidaya jenis tanaman yang tidak ada, dan ini bisa jadi modal untik melalukan kerja advokasi di tingkat Desa binaan kita,” ujar dia.
Lanjut dia, sasaran WPA di enam Desa, enam Kelurahan dan libatkan perwakilan 7 Puskesmas dan satu RS Halilulik. Nanti akan bersama bisa mengontrol WPA untuk mengembangkan sekaligus memanfaatkan tanaman herbal yang ada.
“Yang kita berikan ini kita batasi ini hanya golongan jamu tidak masuk pada aspek pengobatan, kita hanya pada aspek preventif atau pencegahan dan primotif. Kalau untuk kuratif, pengobatan itu bukan ranahnya kami dan apalagi WPA,” tutup Yosafat.

