DR.Ignas Iriyanto Djou : Lelucon Yang Memperlihatkan Kedangkalan
Jakarta, NTTOnlinenow.com – Dalam debat terbuka calon gubernur NTT di studio iNews TV semalam, pada segmen ke 3 ada hal menarik dari pertanyaan tentang gizi buruk, bagamima memanfaat fiskal yang relative terbatas untuk mengatasi kondisi tersebut.
Daun kelor mendadak menjadi demikian populer dan menjadi bahan perbincangan seusai perhelatan debat pertama calon gubernur dan wakil gubernur NTT periode 2018-2023.
Seperti diplomasi awal saat memperkenalkan dirinya di tengah masyarakat dengan selalu mengenakan sarung (politik sarung), Viktor Bungtilu Laiskodat kembali menarik perhatian publik Flobamora atas pemanfaatan kekuatan lokal dalam proses pembangunan.
Pemerhati dan tokoh intelektual NTT Dr Ignarius Iryanto Djou menilai bahwa apa yang dipikirkan Viktor Laiskodat dalam debat itu memperlihatkan kecerdasan calon gubernur itu.
Ignas mengatakan, penyebutan daun kelor sebagai salah satu sayuran yang bisa menjadi solusi persoalan gizi menunjukkan tiga hal prinsip.
Pertama, statemen itu datang dari desk study yang cermat atas berbagai hasil penelitian lembaga lembaga riset yg pernah dilakukan yang bahkan menjadi acuan FAO.
Kedua, menunjukkan pola pendekatan mulai degan apa yang ada, local based solution. Semoga dalam seluruh pendekatan transformasi NTT hal ini tetap menjadi prinsip yang dipakai dan unsur unsur eksternal, termasuk capital, menjadi unsur yang memperkuat potensi lokal.
Ketiga, merupakan statemen sekaligus mengedukasi dan menyadarkan masyarakat. “Aneh jika ada yang menganggapnya sebagai lelucon…itu mungkin menunjukkan pengetahuan yang dangkal tentang kelor atau sikap inferior yang selalu menganggap apa yang ada di bumi kita sebagai sesuatu yang jelek atau bahkan memalukan. Sangat disayangkan”, tegasnya.
Menjawab pertanyaan tersebut, Viktor Laiskodat memulai dari ceritera bagsa Afrika keluar dari masalah kekurangan gizi dengan mengkonsumsi daun kelor. Inilah salah satu solusi yang simple dan ada didepan mata kita dalam mengatasi masalah gizi buruk di NTT.
Tanaman tersebut tumbuh subur di NTT, namun masyarakat dan pemerintah selama ini belum maksimal memanfaatkan daun kelor sebagai asupan gizi bagi anak-anak. Padahal, tanaman yang oleh para ilmuwan dan dinobatkan oleh WHO sebagai “The Miracle Tree” (pohon ajaib) tersebut menyimpan kandungan gizi dan khasiat yang luar biasa dalam mengatasi masalah gizi, daya tahan tubuh, dan detoksin atas berbagai penyakit, papar Viktor.
Dalam berbagai momentum tatap muka dengan masyarakat NTT, Viktor selalu menonjolkan potensi bumi Flobamora, bagi generasi jaman now, kadang dianggap lelucon bahkan terlalu lebe-lebe isitilah anak Kupang.
Pemikiran mensetarakan Moke, minuman khas masyarakat Flores dengan minuman khas Jepang Sake, menyebut karya tenun sebagai kekayaan intelektual yang berninali tinggi dan diyakini dapat menembus pasar dunia. Menarik memang karena semua yang dikatan Viktor ada di depan kita dan langsung bersentuhan dengan masyarakat.
Simak tujuh hal mencengankan dari daun kelor, atau yang dikenal dengan nama ilmiahnya Moringa Oleifera di bawah ini:
Lebih dari 1.300 Penelitian Sudah Dilakukan
Lebih dari 1.300 studi, artikel dan laporan telah menjelaskan tentang manfaat kelor dan kemampuan dalam penyembuhan penyakit. Penelitian menunjukkan bahwa hampir setiap bagian dari tanaman kelor memiliki khasiat penting, yang dapat dimanfaatkan dalam beberapa cara WHO Anjurkan Bayi dan Anak-Anak Konsumsi Daun Kelor.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), anak-anak dan bayi dalam masa pertumbuhan sangat dianjurkan mengkonsumsi daun kelor. Pasalnya, daun kelor menjaga dan meningkatkan kekebalan tubuh serta mencegah gizi buruk pada anak.
Menyimpan Kandungan Gizi Yang Luar Biasa
Daun kelor segar setara dengan 7 kali vitamin c yang terdapat di jeruk segar, 4 kali vitamin A pada wortel, 4 kali kalsium pada susu, 3 kali kalium pada pisang, 2 kali protein pada yogurt, dan ¾ zat besi pada bayam. Jika dikeringkan, kandungan gizinya meningkat luar biasa. Daun kelor kering setara dengan 10 kali vitamin A pada wortel, 17 kali kalsium pada susu, 15 kali kalium pada pisang, 9 kali protein pada yogurt, dan 25 kali zat besi pada bayam. Inilah yang menyebabkan WHO menganjurkan anak-anak mengkonsumsi daun kelor.
Mengobati Berbagai Penyakit
Apa saja yang bisa diobati dengan mengkonsumsi secara rutin daun kelor? Daun kelor signifikan mengobati penyakit jantung, anti kanker, anti diabetes, mengatasi alergi, mengobati herpes, kurap, dan luka bernanah, sakit mata, mengatasi rematik, pegal linu, dan nyeri, mengatasi penyakit kuning, mengatasi rabun senja dan iritasi mata, dan masih banyak khasiat lainnya
Bantu Ibu menghasilkan ASI
Kita mungkin hanya mengenal daun katuk sebagai daun yang membantu ibu-ibu memproduksi ASI selama masa menyusui. Dosen Fakultas Farmasi UGM Yogyakarta, Yosi Bayu Murti menjelaskan daun kelor sangat baik untuk perbaikan gizi pada ibu menyusui dan anak. Daun kelor mengandung protein, zat besi, dan Vitamin C. Selain itu ada ada juga unsur flavonoid yang manfaatnya membantu ibu menyusui menghasilkan ASI lebih banyak. Kandungan protein membuat ASI berkualitas. Kandungan zat besi tinggi, yang 25 kali lebih tinggi dibanding bayam, disarankan dikonsumsi ibu usai melahirkan, dimana wanita menstruasi umumnya kehilangan banyak zat besi. Untuk anak-anak, dapat dikonsumsi sejak sang bayi, yaitu bayi di atas enam bulan.
Memperlambat Efek Penuaan
Studi pada 2014 menunjukkan daun kelor ternyata memperlambat penuaan. Studi tersebut melibatkan sembilan puluh wanita menopause antara usia 45-60 tahun dibagi menjadi tiga kelompok, yang diberikan berbagai tingkat suplemen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplementasi dengan kelor dan bayam menyebabkan peningkatan yang signifikan senyawa antioksidan, yang berperan penting dalam memperlambat efek penuaan.
Minumlah Daun Kelor Seperti Teh
Anda bisa mengeringkan daun kelor dan minum sari daun kelor tersebut seperti menyeduh teh. Keringkan daun kelor, tanpa harus dijemur atau dioven. Setelah kering, haluskan daun kelor tersebut dengan cara ditumbuk. Setelah itu, Anda bisa gunakan daun kelor yang sudah ditumbuh halus tersebut sebagai minuman dengan cara diseduh seperti teh. Bisa tambahkan madu sebagai pemanis rasa.

