Balita Enam Tahun Diduga Meninggal Akibat DBD di Kupang

Bagikan Artikel ini

Laporan Nyongki Mauleti
Kupang, NTTOnlinenow.com – Terkait adanya satu kasus pasien Balita meninggal di wilayah Kelurahan Maulafa yang masuk wilayah kerja Puskesmas Penfui yang diduga akibat DBD, pihak Dinas Kesehatan Kota Kupang masih dilakukan penyeledikian Epidemiologi.

Kepada wartawan, Rabu (17/1/18) Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang dr.Ari Wijana mengaku pihak Dinas Kesehatan Kota Kupang telah menerima laporan dari RSU Leona mengenai kasus anak berumur enam tahun yang meninggal karena DBD. Namun dinkes terlebih dahulu melakukan penyelidikan epidemologi, dengan bekerjasama dengan kelurahan setempat untuk melakukan penelitian.

“Memang Kami sudah menerima laporan dari RSU Leona kalau ada pasien anak umur enam tahun meninggal karena DBD, tapi kami perlu memastikannya secara jelas lewat penyelidikan, apakah anak itu benar meninggal karena DBD,”ujar Ari.

Ary mengaku, jika benar dari hasil penyelidikan epidomologi bahwa, anak itu meninggal karena DBD, maka dinas akan mengambil langkah preventif untuk penangananya.

Sementara Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Kota Kupang, Sri Wahyuningsi mengatakan, untuk kasus DBD di minggu kedua Bulan Januari Dinas Kesehatan Kota Kupang sudah menerima laporan adanya enam kasus, pasalnya penegasan diagnosa bahwa DBD harus berdasarkan hasil laboratorium.

“Untuk kasus anak umur enam tahun yang meninggal karena DBD, sehingga langsung ditindaklanjuti dengan melakukan Penyelidikan epidemiologi, tetapi karena tadi ada acara pemakaman, maka petugas berkoordinasi dengan kelurahan untuk menunda penyelidikan epidemologi pada Rabu 17 Januari besok,”ujar Sri.

Untuk itu, kata Sri, Dinas Kesehatan selalu mengimbau agar masyarakat melakukan Pemberantasan sarang nyamuk atau (PSM) dan melakukan 3M plus atau menggunakan abate. Selain itu, petugas akan turun dari rumah ke rumah untuk memantau jentik-jentik nyamuk, sementara untuk Fogging sendiri dilakukan apabila hasil penyelidikan epidemiologi menunjukan adanya penderita panas lebih dari tiga orang dan jentik lebih dari 50 sampai 60 persen maka akan dilakukan fogging fokus.

“karena itu, besok petugas kesehatan akan lakukan penelitian, apakah benar anak itu meninggal karena DBD atau penyakit sertaan,”jelasnya.

Menurut Sri, Fogging fokus hanya membunuh nyamuk dewasa disekitar radius 100 meter dari lokasi fogging, jika tidak menghilangkan jentik nyamuk maka pada dua minggu kemudian akan ada nyamuk dewasa yang berkembang.

“Jadi kami bersyukur karena dari pihak kelurahan pro aktif datang untuk membantu, jadi kami mengimbau agar kelurahan dan petugas kesehatan besok akan membagikan abate dan sekaligus mamantau jentik nyamuk,” katanya.