Net Ekspor Negatif, Tantangan Sunyi Perekonomian NTT
Oleh Chandra Rinaldy Mbura
Perkembangan ekonomi Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan arah pemulihan yang cukup stabil. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan perekonomian NTT terus tumbuh positif pascapandemi. Namun, di balik angka pertumbuhan tersebut, terdapat satu indikator penting yang jarang dibahas secara mendalam, yakni selisih antara ekspor dan imporatau yang biasa dikenal sebagai net ekspor dalam komponen Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dari sisi pengeluaran yang secara konsisten berada di angka negatif.
Data BPS menunjukkan bahwa persoalan net ekspor negatif bukanlah fenomena sesaat, melainkan pola yang berulang. Pada rilis PDRB pengeluaran atas dasar harga berlaku (ADHB), net ekspor NTT sepanjang tahun 2024 tercatat sebesar –Rp51,51 triliun. Kondisi ini berlanjut pada tahun 2025 secara triwulanan, dengan net ekspor Triwulan I 2025 sebesar –Rp7,13 triliun, Triwulan II 2025 sebesar –Rp11,58 triliun, dan Triwulan III 2025 sebesar –Rp12,66 triliun. Rangkaian angka tersebut menegaskan bahwa nilai barang dan jasa yang masuk ke NTT jauh lebih besar dibandingkan yang keluar, dan kondisi ini berlangsung secara berulang dari waktu ke waktu.
Untuk memahami persoalan ini, kita perlu melihat bagaimana PDRB sebagai ukuran ekonomi daerah dihitung dari sisi pengeluaran. Mengacu pada System of National Account(SNA) 2008, PDRB merupakan penjumlahan dari konsumsi rumah tangga, konsumsi lembaga non profit yang melayani rumah tangga (LNPRT), konsumsi pemerintah, pembentukan modal tetap bruto, perubahan inventori, serta net ekspor. Dalam konteks daerah, ekspor dan impor tidak hanya merujuk pada perdagangan luar negeri, tetapi juga mencakup arus barang dan jasa antarprovinsi. Dengan kata lain, ketika NTT mendatangkan barang dari provinsi lainseperti Jawa Timur, Bali, atau Sulawesi Selatan, maka transaksi tersebut dicatat sebagai impor daerah. Sebaliknya, ketika produk NTT dijual dan digunakan di luar wilayah provinsi, maka ia dicatat sebagai ekspor daerah.
Berdasarkan cara hitung PDRB dari sisi pengeluaran tersebut, terlihat bahwa posisi net ekspor memiliki pengaruh langsung terhadap besar kecilnya nilai PDRB. Net eksporyang terus bernilai negatif dalam jumlah besar akan langsung menarik turun total nilai PDRB. Ini bisa menyebabkan laju pertumbuhan PDRB yang lebih rendah, atau bahkan kontraksi ekonomi jika defisitnya sangat besar dan komponen lain tidak mampu menutupi.
Secara teori perdagangan antarwilayah, kondisi impor dan ekspor merupakan hal yang wajar. Suatu daerah akan mengimpor barang yang faktor produksinya langka, sulit diperoleh, atau belum efisien diproduksi secara lokal. Sebaliknya, daerah akan mengekspor barang dan jasa yang dapat diproduksi lebih efisien dibanding daerah lain, terutama yang bersumber dari faktor produksi yang melimpah secara lokal. Persoalan muncul ketika keseimbangan ini tidak tercapai dan berlangsung dalam jangka panjang.
Prinsip teori tersebut menjadi kunci untuk membaca realitas ekonomi NTT sehari-hari. Gambaran ketergantungan impor daerah sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Bahan pangan yang dikonsumsi rumah tangga seperti beras, minyak goreng, susu, tepung terigu, serta berbagai produk pangan olahan banyak didatangkan dari luar wilayah. Hal ini mudah dikenali, cukup dengan melihat keterangan pada label atau kemasan yang menunjukkan bahwa produk-produk tersebut diproduksi di luar NTT dan kemudian masuk ke daerah melalui perdagangan antarprovinsi.
Kondisi serupa juga terlihat pada berbagai kelompok barang strategis lainnya. Kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) seluruhnya dipasok dari luar wilayah karena NTT belum memiliki industri pengolahan minyak. Barang elektronik seperti televisi, lemari es, mesin cuci, dan telepon genggam pun seluruhnya diproduksi di luar NTT dan masuk melalui perdagangan antarprovinsi. Hal yang sama terjadi pada mesin, perlengkapan, dan kendaraanyang menjadi fondasi investasi namun belum memiliki basis industri lokal. Pola ini menunjukkan bahwa banyak aktivitas konsumsi dan investasi di NTT masih bergantung pada pasokan dari luar wilayah, sehingga nilai tambah yang tercipta belum sepenuhnya menetap di dalam daerah.
Meski demikian, tingginya impor daerah tidak berarti seluruh aktivitas ekonomi tersebut hilang dari NTT. Barang dan jasa yang masuk tetap melalui proses perdagangan, distribusi, dan pengangkutan di dalam wilayah. Dalam proses ini, pelaku usaha lokal memperoleh margin perdagangan dan pengangkutan, sehingga lapangan usaha perdagangan dan jasa angkutan tetap menikmati manfaat ekonomi. Namun, manfaat tersebut relatif terbatas karena nilai tambah terbesar sesungguhnya tercipta pada tahap produksi, bukan distribusi.
Kondisi ini pun tidak terlepas dari struktur ekonomi NTT dari sisi lapangan usaha yang masih didominasi oleh lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan. Pada Triwulan III-2025, lapangan usaha ini menyumbang 27,58 persen terhadap PDRB NTT. Besarnya distribusi lapangan usaha tersebut mencerminkan kuatnya basis sumber daya lokal, namun lemahnya industri pengolahan membuat sebagian besar komoditas masih keluar dari daerah dalam bentuk mentah dengan nilai tambah yang rendah. Ironisnya, produk-produk tersebut kemudian ada yang kembali masuk ke NTT sebagai barang jadi dengan harga yang jauh lebih tinggi. Kondisi ini menegaskan bahwa keunggulan komparatif yang dimiliki NTT belum mampu diolah menjadi keunggulan kompetitif yang menguntungkan perekonomian daerah.
Solusi atas persoalan ini tentu bukan dengan menutup keran impor, karena impor tetap dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan barang yang belum atau tidak dapat diproduksi secara efisien di NTT. Namun demikian, persoalan utamanya bukan pada keberadaan impor itu sendiri, melainkan pada besarnya defisit net ekspor yang terjadi terus-menerus dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, tantangan yang lebih mendesak adalah merumuskan strategi pembangunan ekonomi daerah yang mampu memperkecil defisit tersebut secara bertahap dan berkelanjutan.
Upaya perbaikan perlu dimulai dari penguatan substitusi impor berbasis potensi lokal. Langkah awal yang krusial adalah mengidentifikasi secara cermat produk-produk apa saja yang sebenarnya sudah memungkinkan diproduksi di dalam daerah, baik dari sisi bahan baku, teknologi, maupun skala usaha. Tidak semua impor harus digantikan sekaligus, tetapi bisa dimulai dari kebutuhan dasaryang berpotensi dikembangkan secara bertahap.
Sejalan dengan itu, pengembangan industri pengolahan skala kecil dan menengah perlu diprioritaskan agar komoditas yang melimpah di NTT mampu menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi. Pendekatan bertahap menjadi penting, dengan memetakan komoditas mana yang realistis untuk dikembangkan industrinya dalam jangka pendek, menengah, dan panjang. Dengan strategi ini, NTT tidak hanya mengurangi ketergantungan pada impor, tetapi juga membangun fondasi kemandirian ekonomi secara berkelanjutan.
Tantangan ekonomi NTT ke depan bukan semata-mata bagaimana tumbuh lebih cepat, tetapi juga bagaimana tumbuh dengan lebih sehat. NTT membutuhkan strategi pembangunan yang tidak hanya mendorong konsumsi, tetapi juga memperkuat produksi dan ekspor berbasis keunggulan daerah. Dengan struktur ekonomi yang lebih mandiri, pertumbuhan NTT akan lebih berkelanjutan dan tidak mudah tertekan oleh perubahan harga, pasokan, maupun gejolak ekonomi dari luar wilayah.
Chandra Rinaldy Mbura, S.Tr.Stat (Statistisi Ahli Pertama BPS Provinsi Nusa Tenggara Timur)

