Jane Natalian Akan Dijadikan Sebagai Kebun Inovasi Pertanian Integritas

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen
Atambua,NTTOnlinenow.com-Kebun Jane Belu terletak di Desa Fatuba’a, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu perbatasan RI-RDTL melakukan panen raya, Rabu (10/12/2025).

Pada panen ke-4 kali ini, produksi hortikultura diatas sebagian lahan dari luas lahan sekira 12 hektare tetap stabil. Bahkan Kebun Jane juga berdayaan ibu-ibu lokal untuk memanen tomat dan lombok.

Dengan luas lahan yang ada, Kebun Jane akan dikembangkan sebagai kawasan pertanian terpadu sekaligus pusat penelitian. Selain lahan pertanian, Kabun Jane juga akan dijadikan agrowisata di perbatasan Belu.

“Sebentar lagi ke depannya saya mau menjadikan Kebun Jane itu kebun inovasi, terus pertanian integrasi yang bisa berkolaborasi antara pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan darat,” ujar Jane Natalia disela-sela saat memandu tamu dan awak media tur keliling Kebun Jane.

Sis Jane akrab disapa itu dalam tur memperlihatkan berbagai komoditas yang dikelola seperti tomat, cabai besar, cabai kecil, cabai keriting, sayuran daun, wortel, pisang, semangka, melon, hingga durian dan jeruk yang sementara dikembangkan.

Dia juga menekankan bahwa kebun ini bukan hanya soal produksi, tetapi juga soal pemberdayaan sosial.

“Kami punya hampir 50 karyawan, termasuk ibu-ibu yang bekerja memetik tomat dan cabai. Makan-minum kami sediakan, mereka pulang dengan gaji bersih. Kami tahu ibu-ibu harus pegang uang menjelang Natal,” ungkap Sis Jane.

Dijelaskan, model pemberdayaan ini membantu perempuan desa memiliki penghasilan stabil sekaligus mengurangi risiko gagal panen yang kerap dialami petani kecil karena mahalnya biaya pupuk dan obat hama.

Untuk pasaran tomat kami tembus pasar Negara Timor Leste diborong langsung warganya. Ada juga produk hortikultura dari Kebun Jane Belu telah menembus pasar luar daerah Belu.

“Hasil panen tomat 100% dipasok ke Timor Leste, dibeli langsung di lokasi Kebun Jane. Untuk cabai kita kirim ke Kupang (dalam jumlah terbatas) dan juga Timor Leste,” beber dia.

Lanjut Sis Jane, untuk harga komoditasnya, cabai dewata 76 Rp 30.000/kg, tomat Rp 300.000–320.000 per keranjang, semangka Rp 10.000/kg (lebih mahal untuk varietas khusus).

“Tapi, untuk sebagian besar cabai besar dan keriting yang beredar di Atambua masih berasal dari luar daerah, bahkan Surabaya. Karena itu, Kebun Jane Belu menargetkan dapat menjadi pemasok utama wilayah Timor,” ketus dia.

Sis Jane berharap untuk warga, dirinya akan mengagresifkan kebun ini agar menjadi pusat pertanian juga menjadi pusat penelitian dan akan uji coba jenis tanaman produktifitas lainnya.

Sementara itu, Koordinator Kebun Jane Belu, Abzamzo Kase, menjelaskan detail produksi untuk cabai yang ditanami sebanyak 20.000 pohon siap panen. Produksi terakhir mencapai 3,7 ton dan target naik menjadi 10 ton.

Untuk tomat berjumlah 10 blok ada 17.000 pohon pada panen tahap 14 blok sedang panen. Tahap 2, ada 15.000 pohon memasuki fase generatif dan panen disusun bergelombang agar produksi tidak pernah putus.

Masih menurut Kase, untuk semangka ada varietas hanisemka kuning, semangka hijau, serta uji coba ungu, biru, dan raksasa. Sedangkan pisang ada 1.100 pohon pisang Cavendish (Cafendi) dari Asahan, Sumatra.

“Untuk memperkuat inovasi, kebun ini kini mulai menerapkan hidroponik pada tanaman stroberi dan bekerja sama dengan dosen Politani Kupang,” terang dia.

Turut hadir dalam panen tersebut, Ketua DPD PAN Belu Yulianus Tai Bere, Ketua DPD PAN Malaka, Donatus Bere, Anggota DPRD Fraksi PAN Belu, para pengelola Kebun Jane dari Malaka, TTU, TTS serta tamu undangan lainnya.