CD Bethesda Gelar Workshop Pengendalian HIV/AIDS Terpadu Berbasis Masyarakat
Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – CD Bethesda Yakkum Yogyakarta area Belu menggelar workshop pengendalian HIV dan AIDS secara terpadu serta berbasis masyarakat di Kantor Camat Atambua Barat, Kabupaten Belu perbatasan RI-RDTL, Kamis (24/11/2022).
Hadiri dalam kegiatan, CD Bethesda, BP4D Belu, perwakilan Dinkes, DPMD, Camat Atambua Barat, Kepala Puskesmas Atambua Selatan, perwakila Kelurahan Umanen, Tulamalae, Berdao, Beirafu, WPA, KDS serta tokoh agama.
Menurt Yosafat Ician, sesuai data Dinas Kesehatan Propinsi NTT, kasus HIV/AIDS tinggi di Kabupaten Belu tempati posisi kedua setelah Kota Kupang dengan angka kematian nomor satu di wilayah NTT.
Permasalah lainnya, Kabupaten Belu berbatasan langsung dengan Negara Timor Leste, ternyata kasus tertinggi HIV/AIDS Kota Dili. Selain itu Distrik Bobonaro, Kovalima berbatasan dengan Malaka dan Oecusse batas dengan TTU.
“Artinya di wilayah perbatasan RI-RDTL zona merah soal HIV/AIDS. Kondisi demikian butuh partisipasi yang butuh keterlibatan masyarakat,” ujar Koordinator CD Bethesda Yakkum area Belu itu disela-sela acara.
Melalui kegiatan workshop ini diharapkan ada keterlibatan masyarakat dari berbagai pihak. Sebab dalam pencegahan dan penanganan kasus HIV/AIDS perlu kolaborasi dari berbagai pihak.
“Kalau hanya diserahkan pada Dinas Kesehatan, Puskesmas, LSM maka ini tidak akan tuntas karena itu perlu kerjasama libatka masyarakat,” kata Yosafat.
Masih menurut dia, workshop hari ini juga bentuk dari pencegahan dini, olah karena itu butuh keterlibatan semua pihak. Makanya koordinasi lintas sektoral sangat penting, dimana selama ini belum berjalan harus diefektifkan.
Kalau di masyarakat, bagi CD Bethesda harus bentuk fasilitasi WPA di level Desa dan Kelurahan. Selain itu, mereka yang sudah dengan HIV bila perlu diorganisir sehingga menjadi komunitas yang mendirikan untuk kerja dukung sesama mereka.
”Lalu bisa sosialisasi pencegahan, karena itu penting jadi salah bentuk keterlibatan masyarakat konkritnya adalah lewat pembentukan WPA dan KDS,” pungkas Yosafat.
Melalui workshop ini, diharapkan adanya informasi tentang kebijakan penganggaran yang dilakukan oleh Pemerintah spesifik Dinkes dan Puskesmas.
“Juga ada komitmen bersama antar stakeholder yang saat ini hadir untuk lakukan upaya-upaya pencegahan yang lebih terstruktur kedepan,” pungkas dia.
Sementara itu Camat Atambua Barat, Stef Don Paira menyampaikan, sesuai data dari Puskesmas Umanen terkonfirmasi ada 94 orang yang menyandang status ODHA dan tertinggi di Kelurahan Umanen.
“Salah satu upaya yang dilakukan selama ini kami dibantu CD Bethesda kurang lebih tiga tahun terus lakukan upaya pendekatan kepada mereka penyandang ODHA dan salah satu yang dilakukan yakni dibentuk WPA di Kelurahan Umanen dan Tulamalae,” terang dia.
Diharapkan, WPA sebagai garda terdepan terus melakukan pendekatan memberikan semangat hidup kepada warga ODHA, sehingga mereka tidak stres atau frustrasi.
“Tapi kita harus bangkitkan semangat hidup mereka bisa normal seperti kita, selain itu juga upaya lain melalui Puskesmas yang turun ke lapangan lalukan pelayanan kesehatan ke mereka,” kata Peira.

