Kisah Inspirasi Penderita ODHA di Belu Melawan Stigma Negatif
Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Stigma negatif terhadap orang penderita HIV/AIDS (ODHA) belum bisa dihilangkan di tengah wargq masyarakat sampai dengan saat ini.
Namun, bagi D salah seorang penderita HIV/AIDS hal itu tidak bisa dibiarkan begitu saja. Demi keberlangsungan, ingin bertahan hidup, pria yang divonis positif HIV/ AIDS pada 2019 lalu jelang Pilkada Belu itu tetap semangat melawan penyakitnya.
Kepada media, Senin (3/1/2022) D mengatakan, diskriminasi kepada pengidap HIV/AIDS masih sangat kuat di tengah kalangan masyarakat. Bahkan, pasca didiagnosa banyak yang tak mau berdekatan, lantaran takut tertular penyakit tersebut.
Kendati demikian, dengan dukungan kuat dari keluarga dan para sahabat dirinya bangkit melawan dan mematahkan segala stigma masyarakat tentang Orang Dengan HIV/AIDS jangan didekat, jangan bergaul dan tidak akan hidup lama.
“Saat tahu divonis secara pribadi terpukul dan menyesal. Tapi karena dukungan keluarga sangat kuat dan teman serta lingkungan rasa stres itu menghilang. Saya kembali semangat, saya melawan stigma negatif untuk diri saya,” ujar pria asal Kecamatan Tasbar itu.
Akui dia, pasca divonis dirinya ingin bersembunyi tidak ingin dilihat warga tapi tidak efektif lantaran sudah diketahui keluarga dan masyarakat dalam lingkungan tempat dirinya berdomisili. Memberanikan diri keluar rumah dilakukan dirinya dengan pendekatan ke warga dan diterima.
Setelah itu bertemu dengan CD Bethesda Yakkum, saya dibina dan didampingi dengan program kerjanya sampai ditunjuk sebagai Koordinator Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) Moris Foun Belu membawahi KDS Kakuluk Mesak, Tastim dan Tasbar.
“Kadang juga saya berikan informasi kepada warga sekitar lingkungan juga pesan cukup saya yang menderita penyakit ini dan saya jelaskan panduan edukasi cara penularan dan hindari virus mematikan itu,” sebut pria yang sempat kuliah di PGRI Kupang tahun 2016 silam itu.
“Sebagai Koordinator KDS penyuluhan kegiatan yang kita lakukan terus berjalan tidak saja dukungan dari CD Bethesda tapi inisiatif teman-teman KDS,” tambah D.
Masih menurut dia, sejak dibawah binaan dan bimbingan CD Bethesda Yakkum Jogyakarta Cabang Belu, sebagai Koordinator KDS telah dibentuk Forum Pemuda Peduli Kemanusiaan (FPPK).
“Program rutin kerjasama dengan CD dan teman-teman mereka semangat berpartisipasi melawan stigma diskriminasi warga juga sekaligus melakukan penyuluhan terkait bahaya HIV/AIDS,” terang D.
Dikatakan, kehadiran CD Bethesda Yakkum sangat menbantu dan dirinya sangat berterimakasih atas dukungan Bethesda melalui programnya yang membentuk KDS dan WPA di beberapa Kecamatan dan Kelurahan dalam wilayah Belu.
“Saya akan terus berjuang bersama teman-teman KDS lain. Ada yamg sudah terbuka, ada yang belum tapi kita terus melawan stigma negatif sehingga teman lain bisa tunjukkan diri,” ungkap dia.
Harapan kedepan dua ini KDS dan WPA tetap bersatu meski tidak ada lagi program CD Bethesda Yakkum di Kabupaten Belu. “Dua bentukan ini tetap bersatu melawan stigma negatif dan diskriminasi orang dengan HIV/AIDS,” ujar D.

