68 Patok Batas Wilayah Sektor Timur Perbatasan RI-RDTL Hilang

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Sebanyak 68 patok batas wilayah di Kabupaten Belu perbatasan Negara RI-RDTL yang terdiri dari 50 Patok Batas Negara (PBN) dan BSP 18 patok hilang.

Demikian Dansatgas Pamtas RI-RDTL Sektor Timur Yonif 742/SWY, Letkol Inf Bayu Sigit Dwi Untoro saat dihubungi media kemarin.

Dia mengatakan, patok yang hilang dikarenakan faktor alam. Dugaan ada patok yang terbawa banjir dan tertutup longsor. Terkait masalah itu telah dilaporkan kepada satuan tingkat atas guna ditangani lebih lanjut.

Jelas Sigit, sesuai data Satgas Yonif 742/SWY tercatat 68 patok di wilayah Belu perbatasan RI-RDTL hilang dengan rincian 50 Patok Batas Negara 18 pos perbatasan.

Dirincikan, terbanyak patok PBN hilang di wilayah Pos Mahen, Kipur III sebanyak tujuh patok PBN. Pos Nunura enam patok, Pos Turiskain, Dilomil dan Foholulik masing-masing lima patok PBN.

Kemudian, Pos Asumanu empat patok, Pos Asulait dan Maubusa masing-masing tiga patok, Pos Nananoe, Laktutus masing-masing dua patok dan Pos Fatubesi Atas, Lakmaras, Silawan masing-masing satu patok.

“Sementara 18 patok BSP yang hilang berada di wilayah Pos Nunura, Lakmaras masing-masing tiga patok. Pos Kewar, Mahen, Fatubesi Atas masing-masing dua patok. Pos Motaain, Asulait, Maubusa, Turiscain, Dilomil, Nananoe masing-masing satu patok,” sebut Sigit.

Ditegaskan bahwa, meski fisik patok hilang, namun setiap patok sudah ditentukan titik koordinatnya. Untuk di wilayah yang tidak ada patok, TNI memberi tandai dengan bendara merah putih.

“Kalau di wilayah yang patoknya hilang kita pasang bendera merah putih sebagai tanda penggantipatok,” urai Sigit.

Masih menurut dia, untuk penanganan patok hilang bukan kewenangan Satgas tetapi pemerintah kedua negara RI-RDTL. Kita berharap pemerintah bisa menangani masalah ini agar tidak terjadi hal yang merugikan negara akibat ketiadaan patok batas negara.

“Untuk saat ini situasi keamanan di wilayah Belu perbatasan RI-RDTL saat ini kondusif,” ungkap Sigit.

Dikatakan, sebelum pandemi COVID-19 aparat keamanan dua negara sering melakukan patroli patok batas wilayah secara bersamaan. Tujuan patok bersama guna mengecek keberadaan patok batas.

Selain itu, patroli bersama juga biasa dilakukan dengan masyarakat dengan tujuan, masyarakat mengetahui letak patok batas dan juga memahami fungsi patok.

“Tapi sejak pandemi, kegiatan patroli bersama aparat kedua negara tidak dilakukan lagi. Meski demikian kondisi wilayah perbatasan kondusif,” pungkas Dansatgas Yonif 742/SWY itu.