Dituding Manipulasi Hasil Rapid Test dan Mengcovidkan Pasien, Direktur RSU Leona Kefamenanu Beri Klarifikasi

Bagikan Artikel ini

Laporan Judith Lorenzo Taolin
Kefamenanu, NTTOnlinenow.com – Direktur Rumah Sakit Umum (RSU) Leona, drg Rizki Anugrah Dewati menegaskan pihaknya tidak memanipulasi hasil rapid test dengan tujuan mengcovidkan orang.

Iapun menjelaskan, hasil rapid yang berbeda yang dipersoalkan.

“Hasil rapid bisa berbeda antara satu tempat dengan tempat lain. Itu wajar. Karena alat dan metode rapid test yang digunakan berbeda,” demikian alasan dr. Rizki, menanggapi tudingan masyarakat bahwa pihaknya telah memanipulasi hasil rapid test untuk mengcovidkan orang.

Klarifikasi ini disampaikan atas inisiatif dari Bupati TTU, Drs. David Djuandi didampingi Wabup TTU, Drs. Eusabius Binsasi, di lantai 2 Kantor Bupati TTU, Selasa (14/9/2021).

Turut hadir, Kadinkes TTU, Thomas JM Laka, Kadinsos TTU, Ir Matheos J Dami, Kadishub TTU, Yanuarius Makun Tnobi, dan Kasat Pol PP Pemkab TTU, Agusto Solokana, serta anggota PMKRI Kefamenanu.

Menurut Bupati TTU, klarifikasi itu terhadap dugaan manipulasi hasil rapid test itu penting karena sebelumnya kasus itu sudah menimbulkan keresahan masyarakat dan memicu reaksi negatif berbagai kalangan terhadap RSU Leona Kefamenanu.

Selanjutnya Direktur RSU Leona Kefamenanu menjelaskan kronologi, mencuatnya kasus itu.

la menjelaskan seorang anak yang hendak melanjutkan sekolahnya keluar TTU, datang ke RSU Leona Kefamenanu, awal Agustus 2021 lalu untuk meminta pemeriksaan Rapid Test. Sang anak didampingji orangtua kandungnya.

Sang anak dan orang tuanya setuju menjalani rapid test antibodi. Lalu mengisi form persetujuan termasuk konsekuensi untuk menjalani prosedur yang ditetapkan. “Hasil rapid test, ternyata reaktif. Sang anak dan ortu atau walinya tidak terima dan meninggalkan rumah sakit begitu saja,” beber drg Rizki.

Hasil rapid test itu dilaporkan ke Satgas Covid-19 untuk dilakukan penelusuran. Oleh Satgas Covid, dilakukan rapid test ulang dengan menggunakan alat atau metode rapid test berbeda, yaitu rapid test antigen. Hasilnya negatif.

Hal inilah yang memicu reaksi negatif dan tudingan bahwa pihak RSU Leona Kefamenanu memanipulasi hasil rapid test. Bahkan ada yang menuding RSU Leona Kefamenanu telah meng-covid-kan warga yang datang melakukan rapid test.

“Jadi penggunaan alat atau metode yang berbeda dalam pemeriksaan rapid test, tentu hasilnya berbeda. Itu wajar terjadi. Jadi bukan karena RSU Leona memanipulasi hasil rapid test atau mengcovidkan orang,’ tandas drg Rizki.

la lalu menjelaskan perbedaan alat atau metode rapid test tersebut.

Menurutnya, rapid test antibodi digunakan untuk mendeteksi dengan cepat respon imunitas tubuh terhadap virus yang sudah masuk ke tubuh seseorang.

Respon imun ini terbentuk dalam tubuh setelah 7 hari terinfeksi.

Sedangkan rapid test antigen mendeteksi partikel virus dalam hal ini protein virus di hidung hingga tenggorokan seseorang, di mana hasil rapid antigennya positif saat jumlah virus mencapai kadar tertentu.

“Dan jumlah virus yang bisa terdeteksi rapid antigen pada hari ke 2 hingga kurang dari hari ke 7 setelah terinfeksi”, pungkasnya.