Polce Kia Dukung NTT All Star, Dari Nama Yang Beredar Hanya Fary Francis Yang Sudah Berbuat

Bagikan Artikel ini

Laporan Frans Watu
Jakarta, NTTOnlinenow.com – Asosiasi Provinsi (Asprov) Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) NTT, dijadwalkan menggelar Musyawarah Provinsi (Musprov), pada awal Desember 2021. Saat ini sudah memasuki tahap pendaftaran kandidat yang akan berlangsung hingga 3 September 2021. Sejumlah nama mulai digadang-gadang untuk menahkodai Asprov NTT, salah satu nama yang santer beredar Fary Djemy Francis, mantan penjaga gawang Suratin 1985, pemilik Klub Bintang Timur dan Ketua Indonesia Football Forever.

“Saya kenal baik dengan Fary Francis karena dia bagian dari NTT All Star, kami selalu berdiskusi tentang sepakbola khususnya NTT. Banyak pemikiran beliau yang menurut saya out of the box, mungkin bagi Sebagian orang hanya lips service tapi bagi kami tidak, beliau sudah berbuat bukan baru memmulai. Askot dan Askab di NTT saya kira kenal baik dan tahu apa yang sudah Fary lakukan. Kecintaannya dan totalitasnya terhadap sepakbola tak perlu diragukan. Sudah lama kami mantan pemain berharap beliau maju di Musprov PSSI demi kemajuan sepakbola NTT”, tegas Frans X.Watu Koordinator NTT All Star Jakarta.

NTT butuh orang yang paham sepakbola, bukan birokrat atau politisi yang hanya memanfaatkan sepakbola demi popularitasnya. Membangun sepakbola bukan hanya tidur dan bermimpi jadi juara. Kita butuh tokoh yang sudah punya jam terbang di klub atau organisasi sepakbola, bukan orang dibelakang meja yang hanya mengandalkan APBD.

Duet Fary Francis dan David Furbertus jika ditopang dengan Anggota Exco yang mumpuni rasanya ada asah untuk kebangkitan sepokbola NTT. Keduanya figure swasta yang cinta akan sepakbola. Duet ini jika ditopang dengan administrator seperti Sipri Seko yang berlatar belakang journalist olahraga rasanya pas. Jika ini terjadi, rasanya baru kali ini ada mantan pemain menjadi nahkoda sepakbola di Bumi Flobamora.

Untuk memuluskan langkah Fary-David, mantan pemain NTT All Star akan terus berkomunikasi dan meyakinkan voters dalam hal ini Askot, Askab dan Ketua Futsal NTT, tegas mantan Kapten Suratin Cup NTT yang pernah memperkuat sejumlah Klub Galatama.

Verry Billi

“Saya sepakat dengan NTT All Star karena dari sejumlah nama yang beredar hanya Fary Francis yang telah berbuat untuk sepakbola NTT. Visinya dalam membangun sepakbola sejalan dengan pemikiran saya, karena pimpin sepakbola harus bersedia berkorban, jangan jadikan sepakbola sebagai alat untuk mencapai kekuasaan” tegas Polce Kia mantan pemain Pelita Jaya dan Barito Putra yang kini menetap di Tamiyang Layang, Barito Timur, Kalimantan Tengah.

Kedepan pembinaan dan kompetisi kelompok usia dini bisa menjadi prioritas, karena bicara sepakbola, NTT merupakan salah satu lumbung pemain yang selama ini terlupakan oleh para pemandu bakat. Harapan masyarakat bola NTT, semoga di era kepemimpinan Fary Francis kompetisi baik di level usia muda maupun senior dapat bergulir kembali. Tata Kelola sepakbola mulai dari pembinaan dan perwasitan dan infrastruktur sepakbola dapat mulai dibenahi.

Fary punya kelebihan yang tidak dimiliki kandidat lain, jaringan di PSSI dan Klub Liga Indonesia maupun di luar negeri. Ini memudahkan kita mengembangkan talenta-talenta muda NTT, lewat jaringannya kita bisa menitipkan pemain muda NTT di klub yang ada di luar NTT atau di Belanda seperti yang sudah dilakukan di Bintang Timur, lanjut ayah 2 anak yang juga pelatih Barito Timur FC pemegang sertifikat C AFC.

Perubahan itu dimulai dari pemilik suara Askot/Askab, semoga mereka tidak menyamakan musyawarah ini seperti urusan partai politik, wani piro. Jika mental seperti ini janganlah kita berharap sepakbola NTT akan berubah, karena memimpin cabang olahraga itu hanya sebuah pengabdian, jangan berharap gaji dan keuntungan dari sini, timpal Verry Billy mantan Striker PSK Kupang yang menjadi langganan NTT di kancah nasional.

Bak gayung bersambut, dukungan terhadap Fary – David datang dari pengasuh Sekolah Sepak Bola Putra Mumbul, Denpasar, Mario Kundus Bano. Dalam diskusi virtual Kundus menyampaikan jika kedua tokoh sepakbola ini disatukan memimpin Asprov NTT, saya optimis, mereka sudah berbuat dan rela berkorban. Kita belajar dari kepemimpinan sebelumnya, tidak ada kompetisi dan pembinaan usia dini yang berjalan, kedepan harapan kami diaspora NTT di Bali, agar penurus baru dapat perbanyak Sekolah Sepak Bola (SSB) dan kompetisi disemua level usia sehingga suplai pemain ke level senior bisa berjalan dengan baik tegas alumni Giovanni yang menetap di Pulau Dewata Bali.