Masa Emeritasi Adalah Pesta Iman
Kupang, NTTOnlinenow.com – Masa emeritasi atau purna layan adalah pesta iman bagi seorang pendeta. Penegasan tersebut disampaikan Sekretaris Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), Pdt. Yusuf Nakmofa,MTh saat menyampaikan Suara Gembala MS GMIT, pada Ibadah Bulan Bahasa dan Bulan Budaya, Purnalayan (Emeritasi), Pdt. Mieke Modok Mboeik, SmTh dan Penerimaan Pdt. Stefanus A. Pandie, STh, di Jemaat GMIT Kaisarea, BTN Kolhua, Minggu, (16/5/2021).
Sekretaris MS. GMIT, Pdt. Yusuf Nakmofa, MTh menegaskan masa emiritasi adalah pesta iman bagi seorang pendeta karena ia yakin ia akan dipelihara oleh Tuhan.
Pada kesempatan itu, ia menyampaikan terima kasih kepada Bpk.Mel (suami dari Pdt. Emeritus Mieke Modok) dan anak anak. Terima kasih juga sudah mempersembahkan putrinya untuk melanjutkan ziarah pelayanan di GMIT.
“Kami sampaikan terima kasih kepada Mm Mieke, keluarga besar Modokh Mboeik dan juga Jemaat GMIT Kaisarea yg telah melayani dan menuntunnya sampai purnalayan, kami sampaikan terima kssih dan mohon maaf,” ucapnya.
Diingatkannya meski secara organik Mama Mieke sudah purnalayan, tetapi kapan saja Mm Mieke bisa dipanggil untuk melayani jika dibutuhkan.
Ebenhaezar
Sementara itu, Pdt.Emeritus Mieke Modokh Mboeik saat menyampaikan kata hati diungkapkannya eibenhaezar sampai di sini Allah menolong kita. “Eibenhaezar. Syukur tak terhingga untuk Tuhan Yesus Pemilik Pelayanan yang telah membawa saya ke batas akhir pelayanan,” ungkapnya sembari menambahkan ia bersyukur dan mengasihi Jemaat Kaisarea. “Saya bersyukur dan mengasihi jemaat ini,” katanya.
Ditambahkan dalam menghadapi tantangan pelayanan selama 37 tahun melayani di GMIT ia selalu berlutut di hadapan Tuhan. Baginya berlutut di hadapan Tuhan adalah kekuatannya dalam pelayanan. “Berlutut di hadapan Tuhan adalah kekuatan saya dalam pelayanan,” tuturnya.
Walaupun tambahnya lutut tersebut basah dengan air mata pelayanan. Itulah yang mendorong dirinya terus memikul salib pelayanan.
Menurut pendeta yang khotbahnya sederhana tetapi sangat menyentuh pergumulan jemaat ini kasih Tuhan terhadap dirinya tidak terbatas walaupun ia terbatas.
Dituturkannya, ketika memasuki tahun 2001, artinya akan masuk masa emeritasi, muncul ketakutan pada dirinya dimana karena Covid 19 dirinya tidak bisa sampai pada batas akhir pelayanan. ” Saya mulai takut. Saya berdoa, minta Tuhan saya tidak mendapatkan penyakit karena Covid 19. Saya betdoa agar saya dapat mengakhiri masa pelayanan saya dalam keadaan sehat,” tuturnya.
Pada saat itu ia menyampaikan terima kasih kepada Majelis Jemaat dan Jemaat Kaisarea, BTN. Ia melihat kehebatan warga Jemaat dan Majelis Jemaat yang memiliki hati dan perilaku menghamba dalam melayani tidak membawa jabatan mereka di kantor dan partai politik dalam gereja. “Walaupun mereka pejabat di kantor, parpol, tetapi mereka tidak membawa jabatan tinggi dalam pelayanan tetapi mereka menempatkan diri sebagai hamba,” tegas Pdt. Ike, biasa ia dipanggil jemaatnya.
Dikisahkannya jemaat memperlakukan mereka bertiga pelayan Pdt. Rony Steven Runtu, MTh, Pdt. Aplonia Gazper Leba dan dirinya secara baik sehingga mereka bertiga menjadi akrab. “Saya tidak bisa menghitung berapa banyak cinta jemaat kepada saya. Kalau saya sampai lima tahun di jemaat ini bukan karena kemampuan saya. Saya mohon maaf atas kata kata dan perilaku yg salah baik sengaja atau tak sengaja dalam pelayanan kepada kedua teman pdt, para presbiter dan jemaat,” ucapnya sembari menambahkan meski kedua pendeta tersebut usianya lebih muda dari dirinya tetapi mereka berdua tetap menghargai dirinya.
“Sebagai adik, mereka berdua menghargai saya, mereka tidak pernah mengasari saya. Mungkin ada rasa tersinggung sesekali dalam pelayanan tetapi karena pertolongan Roh Kudus menolong kami bertiga sehingga sampai saat ini kami bertiga tidak pernah marahan dan tersinggung satu sama lain tetap kompak dan tidak ada kubu kubuan,” tegasnya.
Pdt. Ike pun menyampaikan permohonan maaf kepada sekretariat, koster, satpam. Juga terima kasih kepada MS GMIT, Klasis Kota Kupang Timur yang telah memberi kesempatan melayani, membimbing dirinya. “Mohon maaf selama ini saya tidak sempurna. Saya mohon pamit dari jemaat ini,” ujarnya mengakhiri kata hatinya dengan suara bergetar.
Liturgi Kebaikan
Pdt. S.Pandie sebagai pengkotbah dalam khotbahnya ia memberi catatan untuk Pdt. Emeritus Mieke Modok Mboeik. Menurut dia, Pdt. Ike, telah melayani sampai ke akhir batas pelayanan. Karenanya Pdt. Ike telah membuat ibadah dan liturgi kebaikan. “Ma Ike telah membuat ibadah dan liturgi kebaikan,” tandasnya.
Sementara untuk Pdt. Stefanus, Ketua KPWK Kota Kupang Timur ini berpesan bahwa hanya dengan menjaga ucapan Pdt. Stefanus akan bersinar dalam pelayanan. ” Untuk Pdt. Stef, hanya dengan menjaga capan akan bersinar dalam pelayanan,” katanya menutup khotbahnya.
Ibadah mengenakan pakaian adat etnis Rote Ndao ini diawali dengan prosesi para pendeta, petugas liturgi dan Bpk Ir. Esthon Foenay yang mendampingi Pdt. Stefanus Pandie, STH yang dimutasi dari Jemaat GMIT Imanuel OEpura.
Pdt. Rony Steven Runtu,MTh, Ketua Majelis Jemaat GMIT, Kaisarea, BTN memimpin ibadah dengan menguduskan ibadah tersebut, khotbah oleh Pdt. S. Pandie,STh, sedangkan Pengakuan Iman, Syafaat dan Berkat oleh Pdt. Stefanus Pandie,STh. Ketua Panitia Emeritasi dan Penerimaan Pendeta ini adalah Presbiter Gadi Buli,SH, MC, Presbiter Ina Djara,MM.(non)

