Siklon Tropis Seroja, Sabu Raijua “Sepi” Perhatian

Bagikan Artikel ini

Kupang, NTTOnlinenow.com – Kabupaten Sabu Raijua yang terdampak bencana Siklon Tropis Seroja berupa angin topan dan banjir banding hingga saat ini belum dilirik sehingga “sepi” perhatian dari negara dan bantuan dari berbagai pihak. Padahal pulau tersebut adalah pulau yang terisolir.

Hal tersebut dikemukakan Wakil Ketua Posko dan Tim Tanggap Bencana Siklon Tropis Seroja Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), Pdt. Paoina Ngefak Bara Pa kepada media ini Sabtu (10/4) berkaitan dengan bencana Siklon Tropis Seroja di Sabu Raijua sejak Jumat (2/4) hingga Senin(5/4).

Dikemukakannya hasil telepon pihaknya dengan Ketua Majelis Klasis Sabu Barat – Raijua, Kabupaten SaRai – NTT, Pdt. Heri Herewila terungkap hingga H+5, bencana Siklon Tropis yang menerjang Pulau SaRai Jumat (2/4) – Senin (5/4) 2021 belum ada perhatian serius dari negara dalam hal ini pemerintah.

Menurut Pdt. Ina mengutip apa yang disampaikan Pdt. Heri dimana ia mempertanyakan apakah Pulau Sabu terluar ‎jadi dilupakan negara dalam hal ini pemerintah. Ditambahkan Pdt.Ina hasil pembicaraan pihaknya dgn Pdt. Heri korban jiwa di Sabu sedikit tetapi korban harta benda sangat luar biasa besarnya.

Dirincikan diperkirakan 12 ribu rumah penduduk rusak parah, satu orang meninggal dunia, telah dikuburkan, dua sampai tiga orang anak buah kapal diduga hilang hingga saat ini karena kapal karam. Listrik padam total, jaringan telepon dan internet belum normal, akses jalan lumpuh total karena tiang listrik dan pohon yang tumbang.

Lebih lanjut Pdt. Paoina menjelaskan masyarakat telah bergotong royong membersihkan dan memotong pohon tetapi karena jumlah yang terlalu banyak tetap membutuhkan sensor. Karena itu, mereka membutuhkan sensor dan bahan bakar minyak.

Diuraikannya, berdasarkan penjelasan Pdt. Heri badai siklon tropis Seroja telah menyebabkan banjir bandang yang membawa dan menghancurkan tanaman di kebun dan sawah serta hewan ternak peliharaan masyarakat. Dengan demikian warga akan mengalami rawan pangan dalam beberapa hari kedepan.

Mereka juga ujar Pdt. Paoina membutuhkan material bangunan, seng, paku karena semua material tersebut di SaRai sudah habis. Selain itu, kebutuhan akan terpal untuk menutup atap rumah yang bolong.

Selanjutnya Pdt. Paoina mengatakan warga enggan mengungsi karena lambannya penanganan pemerintah. Gereja gereja menyiapkan posko posko tetapi kesulitan bahan makanan. Warga dalam segala keterbatasannya berinisiatif memperbaiki rumahnya sendiri yang digerus angin dan diterjang banjir bandang dengan cara mereka masing masing.

Pdt. Paoina memaparkan dari laporan Pdt. Heri kondisi gedung gereja di Klasis SaRai rusak berat, dua gedung gereja rata tanah sembilan gedung gereja atapnya diterbangkan angin, Kantor Klasis atapnya diterangkan angin sisanya rusak sedang dan ringan.

Negara Harus Hadir.
Pdt. Paoina menegaskan dalam pendekatan HAM bukan soal jumlah orang yang meninggal dunia satu warga negara yang menjadi korban negara dalam hal ini pemerintah harus hadir di sana untuk memberikan perhatian. Apalagi katanya, SaRai itu terisolir, diguncang dua kali angin dan banjir bandang. Kehadiran Negara untuk memberi rasa tenang kepada masyarakat bahwa mereka tidak sendiri dalam bencana ini.

“Tolong pemerintah beri perhatian juga pada SaRai, pemerataan perhatian karena hampir seluruh NTT terdampak dan distribusi bantuan merata,” tegasnya.

Media ini mendapat laporan dari warga masyarakat di SaRai dengan sambungan telepon yang terbatas mereka sama sekali belum tersentuh perhatian bantuan negara. Beberapa hari kedepan mereka pasti akan kelaparan, karena sawah, ladang dan kebun serta ternak yang dipelihara hanyut terbawa banjir bandang.

Dari foto foto yang diposting masyarakat di media sosial saat jaringan internet ada, kondisi sangat menyedihkan. Bangunan porak poranda disapu angin.

Bergerak Cepat.
Aktivis HAM, Dr. Dominggus Elcid Li merespon beberapa daerah terisolir yang belum mendapat perhatian kepada media ini saat dihubungi Sabtu (10/4/2021) mengatakan perlu bergerak cepat. “Kita perlu bergerak cepat untuk masuk ke daerah terdampak seperti Sabu Raijua dan pedalaman Timor yang miskin pemberitaan.

Menurut dia, ini fase krusial, yang harus kita selesaikan dalam tempo sesingkat singkatnya dan cara sebaiknya, agar tidak perlu jatuh korban baru dan bencana baru pasca Siklon Tropis Seroja. (non)