Ketua MS GMIT Minta Warga Kembali ke Rumah

Bagikan Artikel ini

Kupang, NTTONLinenow.com – Ketua Majelis Sinode (MS) GMIT, Pdt. Dr. Mery Kolimon mengimbau warga masyarakat, warga jemaat Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) yang mengungsi Selasa (6/4) malam karena “termakan” khabar hoax akan ada tsunami untuk kembali ke rumah masing masing. Hal ini disampaikan ‎Pdt. Mery saat dihubungi media ini, Rabu(7/4), berkaitan banyak warga yang sebahagian besar warga GMIT mengungsi Selasa malam karena ada berita yang beredar akan ada tsunami pada Selasa malam.

Ditegaskannya berdasarkan informasi resmi BMKG informasi itu adalah HOAX. “Kami minta masyarakat tidak panik tetapi tetap waspada,” pintanya. Dikatakannya sebagaimana juga ditulis pada status akun facebook Mery Kolimon II enam jam lalu Rabu (7/4) sekarang ini ada kepanikan luar biasa bapak ibu masyarakat NTT soal ancaman tsunami. Berdasarkan informasi resmi BMKG informasi itu adalah hoax. Kami minta masyarakat tidak panik tetapi tetap waspada. Ditulisnya dalam postingan tersebut yang bisa terjadi adalah gelombang pasang sehingga yang punya rumah di pantai mohon berhati hati.

“Silahkan kembali ke rumah masing masing, tetapi tetap tekun berdoa meminta pertolongan Tuhan dan jaga kesehatan,” tulisnya. Pada Selasa malam warga masyarakat di beberapa kelurahan dalam Kota Kupang dalam kondisi listrik yang masih padam karena Badai Siklon Tropis Seroja Minggu (4/4) panik dan mengungsi karena ada informasi akan tsunami.

Informasi ini memicu pengungsian besar besaran. Dalam Video amatir yang dibagikan warga di berbagai Group WA Group terlihat dalam kegelapan warga Oesapa, Lasiana dan pesisir pantai sementara berjlan kaki, berkendaraan roda dua menuju lokasi yang lebih tinggi. Dalam video tersebut seorang perempuan meminta pemerintah memberikan informasi karena warga Lasiana, Oesapa dan pesisir pantai semua pada mengungsi ke arah atas karena infomasi air laut naik.

Tidak saja di Lasiana dan Oesapa, warga di Airmata, Nabois juga panik dan berlarian menuju arah Batukadera dan Manutapen untuk mengungsi. Seorang warga kepada media ini menuturkan setelah ia mengungsikan anak dan istrinya ke keluarga di Batukadera, ia coba ke arah pantai dengan motor. Ia melihat di benteng tentara, warga asrama tenang dan sudah tertidur, ia kembali ke rumah keluarganya untuk menjemput anak istrinya. Ia baru sadar kalau ia dan warga sekitarnya telah termakan berita hoax. Awalnya kata dia begitu mendapatkan khabar akan tsunami orang membawa bungkusan pakaian apa adanya memenuhi jalan raya berjalan kaki dengan kendaraan roda dua menuju Batukadera dan Manutapen dalam kegelapan karena hingga saat ini listrik belum menyala, sejak padam Jumat (2/4).

Frans, warga Kota Kupang mengemukakan BMKG serba salah. Mengeluarkan peringatan tetapi salah dikelola informasi tersebut oleh warga dimanfaatkan pihak tertentu untuk menyebarkan berita hoax. Ia meminta warga selektif menyeleksi informasi, chek dan rechek sehingga tidak panik. “Sangat kasihan banyak kelompok rentan kita ada orangtua, perempuan, kelompok difabel dan anak anak. Mereka bisa celaka bukan karena tsunami tetapi karena panik dan ketakutan. Saring setiap informasi yang datang,” ujarnya.

Menjadi soal karena listrik masih padam sehingga handphone mati, warga tidak bisa menghubungi pihak otoritas yang berwenang atau membaca informasi pembanding lewat media sosial, radio atau koran.
Sebagaimana Siaran Pers BMKG tertanggal 7 April 2021 yang ditandatangani Kepala Stasiun Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Stasiun Meteorologi Maritim Tenau, Moh. Syaeful Hadi,SP yang dibagikan melalui Akun facebook Mery Kolimon II menyebutkan sehubungan dengan adanya berita yang meresahkan masyarakat, yaitu adanya info akan terjadi gelombang tsunami di wilayah NTT dan sekitarnya, berita tersebut tidak benar dan Stasiun Meteorologi Maritim Tenau tidak mengeluarkan pernyataan tersebut.

Ditulis dalam rilis tersebut BMKG Stasisun Meteorologi Maritim Tenau menyatakan bahwa berita tersebut tidak benar. Dan BMKG tidak pernah membuat berita tersebut. (non)