Pembangunan Irigasi senilai Ratusan Juta Rupiah di Desa Letmafo Timur Mubazir Selama 4 Tahun

Bagikan Artikel ini

Laporan Judith Lorenzo Taolin
Kefamenanu, NTTOnlinenow.com – Irigasi yang dibangun Pemerintah Desa Letmafo Timur, Kecamatan Insana Tengah, Kabupaten TTU pada tahun anggaran 2017, mubazir hingga kini.

Irigasi yang dibangun dengan anggaran Rp 497.940.850 menggunakan dana desa itu tidak dialiri air.
Padahal pembangunan irigasi tersebut adalah untuk mengairi persawahan milik warga Desa Letmafo Timur yang terletak di Kampung Makoe.

Sejumlah warga Desa Letmafo Timur mengaku, mereka telah mengelola lahan persawahan di Kampung Makoe sejak dulu. Lahan persawahan itu merupakan warisan yang telah dikelola sejak tahun 1950-an. Dan lokasi persawahan tersebut dikelola dengan sistem irigasi yang dibuat secara manual. Jika debit air di kali memadai maka lokasi persawahan tersebut bisa dikelola dan dipanen dua kali dalam setahun.

Menurut warga desa Letmafo, pada tahun 2015 Pemerintah Desa Letmafo Timur mulai melakukan perencanaan dan persiapan untuk pembangunan irigasi permanen di lokasi tersebut. Sehingga ia pun tidak bisa mengolah sawah miliknya. Pada tahun 2017, irigasi tersebut mulai dibangun menggunakan dana desa dengan harapan bisa membantu para petani di Desa Letmafo Timur mengairi lahan persawahan mereka. Namun, harapan para petani tidak terwujud, lantaran hingga kini air tak kunjung mengalir.

Warga desa Letmafo berharap, Pemerintah Desa Letmafo Timur bisa mencari jalan keluar agar irigasi tersebut bisa berfungsi dan mengairi lahan persawahan milik warga desa setempat. Dengan demikian, pada tahun mendatang persawahan di lokasi Makoe bisa kembali diolah.

“Itu sawah hanya bisa tanam kalau pakai irigasi. Kalau pakai tadah hujan tidak bisa,” tutur Daniel.

Warga lainnya, Paulus Leu mengakui sejak irigasi tersebut dibuat, hingga saat ini tak pernah dialiri air. Kondisi itu menyebabkan sawah di lokasi Makoe hingga saat ini tak bisa diolah petani. Ia menilai, hal itu terjadi lantaran mulut irigasi letaknya lebih tinggi dibandingkan dengan permukaan air. Pemerintah Desa diharapkan dapat mencari jalan keluar agar irigasi tersebut bisa dimanfaatkan dan mengairi areal persawahan Makoe.

“Tadi kita lihat itu karena tanah dan kotoran sudah timbul air di mulut saluran. Kalau tidak itu lebih tinggi lagi. Jadi, air tidak bisa masuk, kalau pas banjir di kali itu juga harus banjir yang besar betul, baru air bisa masuk di irigasi,” tuturnya.

Terpisah, Kepala Desa Letmafo Timur, Nikolas Pala, ketika dikonfirmasi wartawan mengaku irigasi tersebut dikerjakan pada tahun anggaran 2017. Irigasi dengan panjang 93 meter itu menghabiskan anggaran senilai Rp497 juta. Ia pun mengakui, hingga saat ini saluran irigasi tersebut tak bisa digunakan untuk mengairi areal persawahan Makoe. Hal itu bukan karena saluran irigasi tersebut tak bisa dialiri air, melainkan adanya bagian saluran yang rusak sehingga air tidak bisa mengalir ke sawah.

Nikolas mengatakan, pihaknya sebenarnya sudah berniat untuk memperbaiki saluran yang rusak tersebut agar bisa dialiri air. Namun, karena pemilik tanah pada saluran yang sudah rusak tersebut menuntut ganti rugi, makanya hingga saat ini upaya perbaikan tidak bisa dilakukan.