Lagi, Warga Belu Serahkan Sepucuk Senpi Organik ke Satgas Yonif RK 744

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Jelang purna tugas, Satgas Pamtas RI-RDTL Sektor Timur Yonif RK 744/SYB kembali menerima 1 (satu) pucuk senjata api organik/standar militer beserta lima butir amunisi.

Senpi jenis Mauser beserta lima butir amunisi tajam aktif kaliber 7.62 mm diserahkan secara sukarela oleh warga berinisial FF (43) warga dusun Motabener, Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu wilayah Timor Barat perbatasan RI-RDTL, Jumat (19/02/2021)

Demikian Dansatgas Yonif RK 744/SYB Letkol Inf Alfat Denny Andrian, dalam rilis tertulisnya yang diterima media, Sabtu (20/02/2021) siang.

Dikatakan bahwa, FF dahulu merupakan seorang milisi Timor-Timur yang berjuang dalam mempertahankan Timor-Timur untuk tetap dalam kedaulatan NKRI, hingga akhirnya menjadi negara sendiri yang kini sudah bernama Timor Leste.

“Buktinya adalah ketika melalui kegiatan anjangsana saat personel Satgas di kediaman FF dan melihat isi rumahnya ada dipajang beberapa sertifikat Kamra dan Organisasi Besi Merah Putih yang merupakan Organisasi Milisi yang pro Integrasi Indonesia,” jelas Alfat.

“FF sendiri juga mengakui bahwa dia adalah mantan anggota dari Organisasi tersebut,” tambah dia.

Dituturkan, penyerahan senpi miliknya karena hubungan harmonis yang terjadi selama ini semakin terjalin baik antara TNI yang bertugas di perbatasan dengan warga setempat, ditambah lagi atas ketekunan personel Satgas mencari informasi tentang kemungkinan FF masih menyimpan sisa-sisa perjuangan dulu seperti senjata, bahan peledak dan lainnya.

“Anjangsana adalah salah satu upaya Satgas dalam mencari dan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya tentang keberadaan atau kepemilikan senpi oleh warga masyarakat terutama mereka yang dahulu merupakan eks milisi,” beber Alfat.

Baca Juga : Warga Perbatasan Belu Serahkan 2 Pucuk Senpi Organik ke Satgas Yonif RK 744/SYB

Faktanya, Jumat 25 Desember 2020 Pukul 10.00 Wita yang lalu, Dankipur 1 Pos Motaain Lettu Inf Subhan Hamran sempat memerintahkan Serka Fredy Lisapaly selaku Batih Kipur 1 bersama dengan 3 orang lainnya melaksanakan anjangsana dan memberi petunjuk untuk menggali informasi tentang adanya indikasi FF sebagai mantan seorang milisi masih memiliki dan menyimpan senjata api di rumahnya.

Terpisah, Dankipur 1 Pos Motaain Lettu Inf Subhan Hamran menceritakan bahwa pada awalnya memang FF sempat mengaku pernah memiliki senjata tetapi pada tahun 2002, kebijakan Presiden Megawati, dilaksanakan kegiatan penyerahan senjata oleh para mantan milisi kepada negara, dan pada saat itu senjata sudah resmi diserahkan.

Pada Senin 11 Januari 2021, kami bersama Serka Fredy Lisapali kembali melaksanakan anjangsana dengan membawa Sembako ke rumah FF. Kami yakin bahwa dengan melihat perhatian yang begitu besar dari personil satgas, akhirnya meningkatkan simpati dan kepercayaan dari FF kepada TNI.

“Sehingga beliau akhirnya mau menyampaikan kepada kami bahwa selama ini ternyata masih menyimpan senjata, dimana pada saat kegiatan penyerahan senjata tahun 2002, beliau ketinggalan informasi sehingga tidak sempat menyerahkan senjata yang ia miliki. Kemudian beliau menjanjikan akan menyerahkannya pada bulan Februari setelah beliau mengambil dari tempat dimana Senpi tersebut disembunyikan,” terang dia.

Lanjut Hamran, dari hasil koordinasi dan komunikasi yang baik tersebut maka pada Hari Jumat 19 Februari 2021 Pukul 14.00 Wita Lettu Inf Subhan Hamran, bersama Serka Fredy dan Dansi Intel Serka Lalu Hamzanwadi mendatangi Rumah FF, kemudian pada saat itulah FF menyerahkan senjata Organik/Standar Militer Jenis Mauser Beserta 5 Butir Munisi Kaliber 7,62.

“Terimakasih atas kesadaran dan kepercayaan FF yang telah berkenan menyerahkan senjata miliknya kepada satgas pamtas secara sadar dan sukarela,” kata dia.

Diketahui, nomor Senjata Mauser tersebut telah dihapus oleh FF karena merasa ketakutan jika suatu saat akan ketahuan dan bermasalahbdengan hukum. Senjata Organik Mauser merupakan senjata jenis Bolt Action yang diproduksi oleh Negara Jerman pada tahun 1940, dan menjadi senjata standar militer Jerman.

Senjata tersebut telah diamankan di gudang senjata Mako Satgas atas perintah Dansatgas Pamtas RI-RDTL Yonif RK 744/SYB Sektor Timur sebagai barang bukti yang untuk kemudian hasilnya akan dilaporkan kepada Komando atas.