Penganiayaan Terhadap Cornelia di Rumah Pribadi Bupati TTU, Penyidik Periksa Robertus Haekase dan Alexander Toan

Bagikan Artikel ini

Laporan Judith Lorenzo Taolin
Kefamenanu, NTTOnlinenow.com – Penyidik Kepolisian Resor, Timor Tengah Utara (Polres TTU ) telah melakukan pemeriksaan terhadap dua orang saksi, Robertus Haekase dan Alexander Toan, Kamis (19/11/2020).

Pemeriksaan saksi – saksi terkait laporan dugaan penganiayaan terhadap Cornelia Haekase (54) di dalam rumah pribadi Bupati Raimundus Sau Fernandes, S.Pt.

Kapolres Timor Tengah Utara, AKBP Nelson Filipe Diaz Quintas, S.I.K yang dikonfirmasi melalui Kasat Reskrim AKP Sujud Alif Yulamlam mengatakan, pihaknya masih melakukan penyelidikan terkait laporan dugaan penganiayaan.

“Agenda pemeriksaan dua saksi, Robertus Haekase dan Alexander Toan sudah berjalan Kamis kemarin, sekarang masih dalam lidik”, jawab Kasat Sujud Alif, kepada NTTOnlinenow.com di Kefamenanu, Jumat (20/11/020).

Baca juga : Hari Ini Jadwal Pemeriksaan Dua Saksi, Kasus Penganiayaan Cornelia Haekase di Rumah Pribadi Bupati TTU 

Meskipun menurut Kasatres, pemeriksaan dilakukan untuk klarifikasi terkait laporan dugaan penganiayaan dengan korban Cornelia Haekase namun pihaknya belum dapat memaparkan hasil pemeriksaan terhadap saksi – saksi tersebut.

“Hasil pemeriksaan terhadap dua saksi kemarin belum bisa kita konfirmasi, sabar yah, kami kerjakan dulu”, sambung Kasat Sujud Alif.

Terpisah, saksi Robertus Haekase yang dikonfirmasi NTTOnlinenow.com di Kefamenanu Jumat siang, mengakui dirinya sudah diperiksa oleh penyidik Polres TTU terkait dugaan kasus penganiayaan yang menimpa saudara kandungnya, Cornelia Haekase. Namun saksi menolak berkomentar terkait keterangan yang diberikan ke penyidik.

“Ia, kami sudah diperiksa sebagai saksi tapi saya belum bisa jawab soal keterangan saya ke penyidik. Saya belum bisa jawab itu”, kata saksi Robertus Haekase.

Ditanyai soal ada dan tidaknya peristiwa penganiayaan sesuai yang disaksikan saksi di TKP, saksipun menolak untuk menjawab.

“Saya belum bisa berkomentar soal itu”, tandasnya.

Robertus Haekase juga menolak pernyataan pihak keluarganya yang termuat di media bahwa dirinyalah yang melerai korban, yang adalah saudari kandungnya sendiri saat dicekik oleh pelaku.

Berikut kutipan hasil wawancara wartawan dengan saksi Robertus Haekase.

Wartawan : “Sesuai protes istri pak Robert di medsos, bukan pak yang melerai pelaku dan korban”.

Robertus Haekase : “Sebenarnya saya juga tidak tahu karena tidak membaca beritanya. Kebetulan istri saya yang baca berita dan ada disebutkan saya yang melerai korban dan pelaku. Sebenarnya tidak, bukan saya yang melerai korban dan pelaku. Itu salah”.

Wartawan : “Kalau begitu, adakah pihak lain yang melerai kalau bukan pak”?

Robertus Haekase : Ada, ada orang yang melerai tapi orangnya tidak di kenal”.

Wartawan : “Pak yakin tidak mengenal orangnya”?

Robertus Haekase : “Saya tidak kenal”.

Wartawan : “Jika orang yang melerai tidak dikenal pak Robert, berarti bukan dari pihak keluarga? Karena jika dari pihak keluarga tentunya pak sangat mengenalnya dengan baik. Sebab hanya ada empat orang dari pihak keluarga yang mendampingi korban pada saat itu, termasuk pak”.

Robertus Haekase : “Saya tidak tahu”.

Wartawan : “Bisakah disebutkan yang melerai adalah dari pihak tuan rumah atau keluarga pelaku karena pak mengatakan tidak mengenal orang yang melerai”?

Robert Haekase : “Saya tidak tahu”.

Wartawan : “Artinya bahwa dari pihak keluarga diam saja dan tidak ada niat melerai ketika saudara kandungnya dianiaya di depan mata”?

Robertus Haekase : “Saya tidak bisa berkomentar”.

Wartawan : Kalau begitu berarti anda membenarkan bahwa ada terjadi kasus penganiayaan di depan anda dan keluarga sehingga ada yang melerai meskipun upaya melerai itu dari pihak yang tidak dikenal”.


Robertus Haekase : “Saya tidak bisa menjawab itu, karena masih dalam tahap penyelidikan”.

Wartawan : “Dalam pemeriksaan kemarin keterangan pak ke pihak penyidik membenarkan adanya tindakan penganiayaan atau sebaliknya? Karena di sini pak mengatakan ada yang melerai. Berarti ada satu peristiwa/ kejadian dalam.hal ini tindakan penganiayaan, sehingga ada yang melerai kemudian ada korban, ada Laporan Polisi dan ada hasil visumnya”.

Robertus Haekase : “Makanya itu saya tidak berani menjawab, betul – betul belum bisa menjawab karena masih dalam tahap penyelidikan. Saya belum bisa komentar. Kalau saya komentar di penyidik itu kewenangan penyidik bertanya tapi saya tidak bisa menjawab di sini. Nanti bisa dikonfirmasi ke Kasat saja”.

Klarifikasi lerai melerai inipun berlanjut pada informasi adanya upaya pendekatan dari keluarga pelaku ke salah satu keluarga korban.

Wartawan : “Adakah upaya untuk berdamai antara kedua belah pihak, baik dan keluarga korban ataupun pelaku”?

Robertus Haekase : “Tidak ada tanda – tanda itu”.

Wartawan : “Ada informasi beredar bahwa keluarga terduga pelaku penganiayaan dalam hal ini Bupati Raimundus berupaya melakukan pendekatan melalui pak untuk kasusnya diurus secara kekeluargaan”.

Robertus Haekase : “Tidak ada upaya itu”.

Wartawan : “Betulkah pak Rai sempat bertandang ke rumah pak pada hari Minggu (15/11/2020) siang bertepatan dengan kehadiran korban dan keluarga di Polres TTU membuat Laporan Polisi”?

Robertus Haekase : “Tidak benar, tidak ada seperti itu, karena hari Minggu itu saya tidak kemana – mana dan saya di rumah saja. Tidak ada tamu yang datang menemui saya dan istri”.

Wartawan : “Informasinya ada yang melihat kedatangan pak Raimundus di rumah menggunakan motor, mengenakan masker dan helm”.

Robertus Haekase : “Tidak ada itu, tidak benar. Mungkin itu cerita dari pihak keluarga saya, tapi dari saya tidak ada itu”, tegas Robertus Haekase.

Wartawan : “Sumbernya menjelaskan mereka mendapat informasi itu langsung dari pak”.

Robertus Haekase : “Tidak ada, itu tidak benar”.

Sementara korban, Cornelia Haekase membeberkan bahwa bertepatan dengan sedang diperiksanya korban di Polres TTU, mereka diminta oleh saksi sendiri pertelepon untuk tidak melanjutkan laporannya ke Polres dan kembali ke rumah.

“Dia telpon saya berulang – ulang, karena saya masih dalam ruang riksa, saya tidak bisa merespon. Akhirnya dia telpon ke adik Hironima Haekase (Rony) dan meminta untuk laporannya tidak usah dilanjutkan. Dia juga meminta kami untuk pulang agar tidak melanjutkan Laporan Polisi. Alasannya mau urus damai, karena ancaman hukuman untuk pelaku yang cekik saya lebih ringan dari kasus dugaan penghinaan saya terhadap istri bupati yang sudah dilaporkan ke Polres”, kata korban, Cornelia Haekase, Sabtu (21/11/2020) sore, sesuai isi WhatsAp saksi Robertus Haekase kepadanya.

Keterangan foto kolase 2: Riwayat panggilan dan WhatsAp saksi Robertus Haekase kepada korban, Minggu (15/11/2020) saat korban sementara melapor ke Polres TTU.

Setelah membaca pesan dari saksi, korban tetap menjalani pemeriksaan di Polres TTU. Isi pesan saksi membuktikan adanya tindakan penganiayaan, korban Cornelia Haekase dicekik pelaku Yosef Muki di depan keluarga korban dan pihak keluarga pelaku di rumah pribadi Bupati Raimundus.

Sebelumnya diberitakan, Cornelia C. B Haekase (54), dicekik Yosef Muki di ruang tamu rumah pribadi Bupati Raimundus pada Sabtu (14/11/2020) malam, saat bertandang untuk urusan damai dalam kasus dugaan penghinaan terhadap istri Raimundus oleh korban penganiayaan di media sosial.

Sedangkan terduga pelaku, Yosef Muki, S.Pt, M.Si, adalah seorang pejabat di Pemkab TTU. Ia menjabat sebagai Kepala Bagian Organisasi dan Tata Laksana Setda Kabupaten TTU. Ia juga ipar dari Bupati TTU, Raimundus Sau Fernandes, dan adik kandung dari Kristiana Muki, S. Pd, M.M. Dan Kristiana Muki dikenal sebagai Calon Bupati TTU dari Partai Nasdem.

Keterangan foto kolase 1 : Foto korban dan kondisi korban setelah dianaya.