CD Bethesda Beri Pelatihan SALT Bagi Warga Peduli Aids di Belu

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – CD Bethesda Yayasan Kristen untuk Kesehatan Umum (Yakkum) Yogyakarta berikan pelatihan SALT kepada Warga Peduli Aids (WPA) di Kabupaten Belu, Timor Barat wilayah perbatasan RI-RDTL.

Kegiatan pelatihan SALT berlangsung di salah satu Hotel di Atambua, Rabu (11/3/2020) diikuti belasan orang yang terhimpun dalam komunitas Warga Peduli Aids dari enam desa dan dua Kelurahan dalam wilayah Belu.

Adapun peserta WPA yang telah dibentuk di enam desa yakni, Silawan, Leosama, Fatuketi, Menleten, Tukuneno dan Bakustulama, sedangkan dua kelurahan yakni, Tulamalae serta Umanen.

Kegiatan pelatihan SALT dibuka oleh perwakilan Direktur UPKM/CD Bethesda Yogyakarta Sukendri Siswanto sekaligus membawa materi pelatihan. Kegiatan tersebut akan berlangsung selama dua hari hingga Kamis 12 Maret besok.

Kepada media, Sukendri Siswanto menjelaskan bahwa, pelatihan SALT ini untuk menggali potensi masyarakat dimulai dari keluarga-keluarga. Karena setiap masyarakat punya kekuatan, potensi, sumber daya, itu yang biasanya jarang dilakukan penggalian masalah di keluarga dan masyarakat.

“Kita tidak berangkat dari masalah, kita berangkat dari potensi yang dimiliki, dimulai dari keluarga juga kelompok masyarakat,” ujar dia yang juga Kepala Divisi Pelayanan Kesehatan Primer (PKP) UPKM/CD Bethesda Yakkum itu.

Ditambahkan, berkaitan dengan isu HIV Aids, kita juga ingin dalam hal penanganan Aids itu juga berangkat dari potensi. Potensi orang dengan HIV Aids, potensi keluarga, dari orang dengan Aids (Ihida) dan juga potensi dari kelompok masyarakat sekitarnya.

Pelatihan SALT untuk melengkapi pengetahuan dan ketrampilan WPA untuk terlibat aktif dalam upaya pencegahan dan pengendalian HIS Aids di desa atau kelurahannya. SALT adalah metoda pendekatan berbasis aset dimulai dari kekuatan, potensi yang dimiliki masyarakat. Pendekatan ini relatif berbeda dengan pendekatan yang dilakukan banyak kalangan selama ini.

“Teknik utama SALT ini melalui kunjungan ke rumah-rumah dan dilakukan oleh tim untuk berbagi cerita, pengelaman, memberikan suport dan apresiasi pada masyarakat yang dikunjungi, disitu akan muncul apa potensinya,” jelas Sukendri.

Diharapkan, melalui pelatihan ini peserta dapat menerapkan metode SALT ini dalam upaya pencegahan HIV Aids, agar orang dengan Aids itu statusnya tidak menjadi Aids, tidak memberikan stigma pada ODHA, tapi lebih pada berikan suport, dukungan.

“Harapannya masing-masing peserta bisa diterapkan ke masyarakat dan bisa lebih upaya mengembangkan upaya pencegahan pemula HIV Aids di lingkungannya dan kurangi stigma serta diskriminasi terhadap ODHA,” pinta dia

Sementara itu, Koordinator CD Bethesda Yakkum Belu, Yosafat Ician menuturkan, kegiatan berlangsung dua hari terhitung hari ini Senin 11 hingga 12 Maret besok.
Tujuan kegiatannya, memberikan pemahaman dan keterampilan bagi peserta tentang SALT dan metodenya, tentang prinsip-prinsip dasar SALT, dan tentang kunjungan SALT mampu menggali potensi, harapan dan rencana ke depan ODHA dan keluarga.

“Setelah pelatihan mereka menjaring di wilayah masing-masing dengan melakukan kunjungan ke kelompok resiko tinggi untuk melihat potensi yang mereka miliki,” jelas dia.

Lanjut Yosafat, nanti kunjungan selama sebulan setelah itu lanjut workshop untuk membahas hasil kunjungan SALT. Dimana workhsop itu akan melibatkan pihak keluarahan, desa serta stakehokder yang ada di masyarakat.

“Kemudian akan dirumuskan menjadi rencana aksi desa yang nanti diimplementasikan bisa gunakan kebijakan desa atau dilakukan secara swadaya guna pencegahan HIV,” tutur dia.