Pasien DBD Membludak, Lorong RSUD Atambua Jadi Rawat Inap

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Belu, Timor Barat wilayah perbatasan RI-RDTL terus mengalami peningkatan dalam tiga bulan terakhir sejak Januari hingga Maret awal 2020.

Akibat membludaknya kasus DBD pasien yang dirawat di RSUD Mgr. Gabriel Manek, Svd Atambua terpaksa harus menjalani perawatan di lorong RS sebagai tempat rawat inap lantaran ruang rawat inap penuh.

Disaksikan NTTOnlinenow.com, Rabu (4/3/2020) di Rumah Sakit Atambua, ruang rawat inap di bangsal Dahlia bangsal anak penuh dengan pasien DBD yang tengah menjalani perawatan medis.

Kondisi ruang penuh tidak bisa menampung pasien DBD ditambah jumlah pasien semakin meningkat terpaksa lorong bangsal Dahlia digunakan sebagai rawat inap para pasien tersebut.

Sipri Mali selaku Kepala Bidang Pelayanan RSUD Atambua mengatakan, ada 22 ruangan yang disediakan untuk rawat inap anak (pasien,red). Namun, karena jumlah pasien DBD yang semakin banyak, ruangan yang disediakan tidak bisa menampung.

Dikatakan, karena ruang rawat inap anak sudah penuh terpaksa sebagaian pasien dirawat di ruang penyakit dalam orang dewasa, sebagian dirawat di ruang bedah dan ada pasien yang dirawat di bangsal.

Lanjut Mali, meski sudah menggunakan ruangan lain rawat inap, akan tetapi jumlah pasien yang dirujuk semakin bertambah, ada rujukan dari TTU dan Malaka terpaksa lorong ruang bangsal digunakan sebagai rawat inap.

“Sementara kita rawat 26 pasien anak. Tadi malam satu pasien meninggal dunia. Kita terpaksa pakai lorong karena semua ruangan sudah penuh, dan kita bersyukur ada pasien yang sudah bisa pulang ke rumah,” ucap dia saat bersama awak media memantau situasi pasien DBD di ruang rawat anak RS Atambua.

Terpisah Direktur RSUD Atambua, dr. Elen Corputty menuturkan, mengapa perawatan pasien DBD sampai ke lorong bangsal, karena memang kamar yang disediakan hanya untuk 22 tempat tidur.

Sedangkan jelas dia, lonjakan pasien bisa sampai 30 keatas, terpaksa kita taruh di lorong. “Bahkan kita sudah seting lorong yang ada gorden untuk nanti dipakai rawat inap jika ada peningkatan,” ujar Elen saat dikonfirmasi awak media di gedung DPRD Belu.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Dinas Kesehatan Kabupaten Belu, kasus DBD di wilayah Belu mengalami peningkatan selama tiga bulan terakhir. Data Dinkes pada pekan lalu terjadi 136 kasus, sementara data terkini hingga Maret terjadi 209 kasus DBD.