Bupati Belu Akan Panggil Pihak RS Mgr.Gabriel Terkait Tidak Tersedia Alat Pasien DBD

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Bupati Belu, Willybrodus Lay akan memanggil pihak manajemen Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Mgr. Gabriel Manek, Svd Atambua, Kabupaten Belu.

Pemanggilan tersebut berkaitan dengan ketiadaan stok peralatan serta obat pasien penderita Demam Berdarah Denque (DBD) yang tidak tersedia di rumah sakit Atambua.

“Saya akan panggil pihak rumah sakit,” ujar Willy Lay dikonfirmasi awak media, Kamis malam (27/2/2020) terkait kematian bocah pasien DBD lantaran tidak ada alat penanganan penderita penyakit itu.

Diberitakan sebelumnya, seorang bocah pasien DBD usia kurang lebih 6 tahun meninggal dunia di RSUD Mgr. Gabriel Manek, Svd Atambua usai menjalani perawatan di hari keempat.

Korban diketahui warga Haliwen, Desa Kabuna, Kecamatan Kakuluk Mesak berinisial FSS yang berstatus pelajar di PAUD meninggal akibat DBD pada Rabu sekitar pukul 19.00 Wita (26/2/2020).

Informasi yang berhasil diperoleh sesuai data pihak RSUD Mgr. Gabriel Manek Atambua hingga saat ini, tercatat ada sembilan kasus positif demam berdarah yang sementara dirawat intensif di bangsal anak (ruangan Dahlia).

Sementara itu, terkait kematian bocah sesuai informasi yang berhasil dihimpun dari sumber pada Rabu malam, pasien anak penderita DBD yang meninggal disinyalir lantaran stok infus set (alat untuk meneteskan infus yang dihubungkan dengan infus pump) di rumah sakit tidak sesuai beda merk.

Kendala ketidakcocokan alat itu menyebabkan pelayanan terhadap pasien DBD dalam sebulan terakhir mengalami kewalahan. Ketidakcocokan alat itu membuat pihak medis dalam pelayanan memberikan cairan pada pasien DBD dilakukan secara manual yang bisa saja tidak akurat.

Sebab, jika menggunakan alat infus set dan infus pump akan diketahui takaran cairan yang diberikan kepada pasien penderita DBD. Diketahui, korban pasien penderita DBD masuk rumah sakit karena mengeluh nyeri pada bagian perutnya.

Terkait hal itu, Kabid Penunjang RSUD Atambua, Henny Nahak yang dikonfirmasi awak media terpisah, Kamis (27/2) pagi membantah stock peralatan infus set di RSUD tidak ada.

Menurut dia, ketersediaan infus set untuk penanganan pasien anak penderita DBD di rumah sakit ada, hanya saja tidak cocok merk peralatannya. “Ketersediaan infus set di RS bukan tidak ada sama sekali, alatnya tersedia hanya saja tidak cocok dengan infus pump yang digunakan untuk pasien DBD,” ungkap Henny.

Masih menurut dia, persoalan ketersediaan infus set bukannya tidak ada sama sekali. Rumah sakit mempunyai alat, tetapi kebetulan yang tersedia infus set itu tidak cocok dengan infus pump yang sedang dipakai pasien. Memang, kemarin itu ada sedikit kesulitan tetapi infus tetap.

“Tadi malam sudah ada alatnya, sudah tersedia. Jadi kita berusaha kalau tidak ada di satu perusahaan kita coba untuk cari di perusahaan lain. Atau misalnya kalau perusahaan jauh, kita coba untuk pinjam dulu di RS terdekat lain,” jelas Henny.

Ketika disinggung soal kematian bocah pasien DBD yang meninggal semalam karena kendala stok alat infus set yang tidak ada, dirinya mengatakan pasien DBD meninggal bukan karena ketiadaan infus set.

“Kalau terkait pasien meninggal kemarin saya sangat yakin itu bukan karena alat infus set. Adik itu bukan tidak dapat cairan sama sekali, dia menggunakan infus set yang agak sedikit berbeda,” terang Hanny.