Masyarakat Diminta Buat Laporan Bila Temukan Babi Mati Tidak Wajar
Kupang, NTTOnlinenow.com – Masyarakat dan instansi teknis tingkat kabupaten/kota diminta untuk segera membuat laporan bila menemukan ada ternak babi yang mati tidak wajar.
Kepala Bidang Perbibitan dan Produksi Ternak pada Dinas Perernakan NTT, Nadra A. Iryani sampaikan ini kepada wartawan di Kupang, Rabu (26/2/2020).
Iryani mengatakan, pihaknya sudah melakukan koordinasi intensif ke semua kabupaten di NTT mengingat ternak babi yang mati tidak wajar diduga terserang virus African Swine Fever (ASF) terus meluas.
“Koordinasi dan pelaporan perlu dilakukan segera mengingat virus ASF belum ada obatnya,” kata Iryani.
Ia menyampaikan, hingga saat ini jumlah kematian babi diduga akibat virus ASF sudah mencapai 1.394 ekor. Jumlah kasus ini tersebar di empat daerah di daratan Timor, yakni Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Timor Tengah Utara (TTU), dan Belu.
Rinciannya, Kota Kupang berjumlah 221 ekor yang tersebar di empat kecamatan. Kabupaten Kupang sebanyak 106 ekor yang terdapat di dua kecamatan. TTU sebanyak 440 ekor yang terdapat di empat kecamatan. Belu sebanyak 570 ekor yang tersebar di sebelas kecamatan.
“Kita belum dapat laporan dari dua kabupaten di daratan Timor, yakni Timor Tengah Selatan (TTS) dan Malaka,” ujar Iryani.
Tentang daerah lain, ia mengakui belum ada. Hal ini dilihat dari laporan yang dikirim dari kabupaten- kabupaten. Belum ada laporan dari wilayah Flores terkait kematian babi karena terserang virus ASF.
Pada kesempatan itu Iryani menjelaskan, pihaknya juga tengah berupaya untuk melakukan pencegahan dengan cara bius security kandang. Orang dilarang keluar- masuk kandang sembarangan. Kebersihan kandang harus diperhatikan, termasuk sisa makanan di kandang.
Ia menyatakan, mengatasi virus ASF tersebut, Pemerintah NTT sejak dua pekan terakhir sudah turun ke lapangan untuk bertemu dengan masyarakat peternak. Komunikasi dan edukasi tetap dijalankan. Dengan harapan adanya partisipasi masyarakat dalam melaporkan dan melakukan langkah-langkah antisipatif, berupa selalu membersihkan kandang, pemberian makan yang baik, vitamin, dan antibiotik.
“Ternak babi yang mati hendaknya dikubur. Jangan buang sembarang karena virusnya dapat menyebar,” pinta Iryani.
Kepala Dinas Peternakan NTT, Danny Suhadi mengatakan, pihaknya telah mengirim sampel darah dan organ tubuh babi yang mati ke laboratorium Balai Veteriner Medan, Sumatera Utara. Pengiriman itu dilakukan untuk mencari tahu penyebab kematian ternak babi milik warga.
“Kami minta masyarakat membantu pemerintah melakukan pencegahan terhadap penyebaran virus yang mematikan ternak babi,” ujar Danny.(ntt-lr)

