Krisis Air Bersih, Warga di Perbatasan Belu-Timor Leste Konsumsi Air Sungai

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Sejak sebulan terakhir sebagian besar wilayah di Kabupaten Belu, Timor Barat dilanda krisis air bersih pasca kekeringan yang melanda daerah perbatasan Indonesia dengan Timor Leste.

Dampak krisis air bersih memaksa sebagian warga Belu, seperti warga di Fatubenao, Kecamatan Kota harus mengambil air sungai Talau untuk dikonsumsi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Gilberto Da Costa, salah seorang warga Fatubenao saat ditemui media bersama sejumlah di sungai Talau, Sabtu (23/11/2019) mengisahkan, kesulitan air bersih mulai dirasakan khususnya warga Kelurahan Fatubenao saat musim kemarau tiba.

Hal tersebut harus memaksa warga untuk berjalan kaki sejauh satu hingga kurang lebih dua kilometer untuk mendapatkan air bersih dari sumur galian di sungai. Karena sungai sebagai alternatif untuk mendapatkan air bersih.

Aktivitas tersebut akui dia rutinitas dilakukan setiap harinya baik di pagi hingga sore hari. Warga harus mengambil air bersih untuk kebutuhan masak serta keperluan lainnya seperti mencuci meski terkadang memakai air sumur yang debitnya airnya kian mengecil lantaran musim kemarau.

“Sumur warga ada yang sudah kering, ada yang masih ada air tapi tidak cukup untuk kebutuhan hidup. Ada juga air PDAM tapi jarang keluar, jadi terpaksa harus ke kali untuk ambil air bersih,” sebut Gilberto.

Warga membawa jerigen turun ke sungai Talau dan harus mengantri secara bergiliran untuk mengambil (timba,red) air bersih dalam sumur-sumur kecil yang digali warga di sepanjang bantaran sungai terbesar di wilayah Belu.

Warga sepakat mengatur jadwal bergantian antara warga untuk mengambil air bersih demikian juga mencuci pakaian sehingga tidak menimbulkan konflik diantara warga.

“Kita harus antri waktu timba karena banyak masyarakat yang pake ini air untuk kebutuhan sehari-hari. Kita terpaksa harus ambil air kali, kalau tidak mau bagaimana karena air sangat penting untuk kebutuhan warga,” ucap dia.

Pantauan sebelumnya, kondisi serupa dialami warga di kampung Motabuik, Santa Cruz dan Asu’ulun Kelurahan Fatukbot yang terpkasa harus mengambil air di sungai untuk memenuhi kebutuhan sehari- hari.