Sukses ETMC Malaka, Akankah Klub Liga Profesional Hadir di Bumi Flobamora?

Bagikan Artikel ini

Oleh Frans Watu
NTTOnlinenow.com – Trofi El Tari Memorial Cup 2019 akhirnya menjadi milik Persemal Malaka, setelah Laskar Manu Meo sukses menumbangkan Pasukan Komodo Persamba Manggarai Barat dengan skor 3-2 dalam laga final yang berlangsung di Lapangan Betun, Malaka, Rabu (24/7/2019) malam waktu setempat.

Keberhasilan Manu Meo Malaka dalam menjuarai El Tari Memorial Cup (ETMC) 2019 pada Rabu 24 Juli 2019 malam WITA membuat hegemoni dan euforia bahagia bagi seluruh masyarakat di tapal batas RI-Timor Leste.
Namun di balik hegemoni pesta juara ada beberapa taktik yang brilian dari pelatih Adrianus Bria Seran dan jajaran staf kepelatihannya. Ada tiga kunci keberhasilan Persemal Malaka :

1. Bertumpu Pada Sayap
`
Pelatih Adrianus Bria Seran menerapkan strategi 4-4-3 kadang 4-4-2 di setiap pertandingannya. Di lini tengah Adrianus menempatkan dua gelandang jangkar bertipikal perusak yang ada pada diri Dendy Tuna dan Afong, sementara dua gelandang lainnya ditempatkan sedikit melebar.

Di sisi penyerang, Johanes Yoko Jehaman dan Andro Bere Asa menjadi tumpuan serangan Persemal. Di sisi bek sayap Saci di kiri dan Apoustu di kanan, juga menjadi jaminan serangan dari sayap.

Tercatat beberapa kali serangan Persemal banyak diawali dari pergerakan pemain yang melebar memanfaatkan sisi lebar lapangan, sektor sayap menjadi penyumbang assist bagi dua ujung tombak Laskar Manu Meo.

2. Lini Tengah Solid

Persemal memang menerapkan pola 4-3-3 saat awal laga maupun menyerang. Pola 4-3-3 itu bisa bertransformasi menjadi 4-4-2 bila kehilangan bola. Trio lini tengah ditambah penyerang akan bertransformasi ketika mendapat tekanan, dan melakukan transisi menyerang dengan cepat.

Jimmy tukang ‘angkut air’ yang menghubungkan bola dari belakang ke depan berdiri sejajar dengan Dendy dan Afong yang berperan sebagai gelandang perusak.

Alhasil dalam posisi diserang lini tengah Persemal cukup solid karena menumpuk 5 pemain di tengah.
Formasi ini akan dengan cepat bertransformasi kembali menjadi 4-3-3 saat Persemal memegang bola.
Aliran bola dari lini belakang ke depan pun cukup bagus karena peran Adrianus dan Altonius yang bisa sebagai pemutus serangan sekaligus pengalir serangan.

3. Merubah Pola Permainan

Persemal tak hanya memiliki satu strategi dalam menghadapi gelaran ETMC ini tapi memiliki rencana B bila serangan buntu.
Di laga penyisahan hingga semi final, mereka memainkan direct football dengan long pass menuju Yoko sebagai target. Permainan kick and run mudah dibaca tim bertahan lawan, dan menjadi tontonan yang monoton. Hanya mengandalkan kecepatan dan keganasan Yoko di kotak pinalti.

Menghadapi Persemba dibabak final, pelatih Adrianus Seran merubah strategi dengan memainkan pressure terhadap lawan dari lapangan tengah dan membiarkan space bagi Yoko dan Andro untuk menerima umpan dari sektor tengah. Perubahan tak tik membuat Persamba kehilangan kontrol permainan. Hasilnya terbukti gol pertama oleh Andro dan kedua yang dicetak Yoko berawal dari umpan area dari lini tengah.

Keberhasilan tim yang berjuluk Manu Meo (Ayam Jago) ini sendiri merupakan sebuah penantian sejak kali ke tiga mereka ikut dalam turnamen ETMC, dimana terakhir kali Malaka mencapai babak delapan besar pada tahun 2017 di Ende. Pada saat itu Persab Belu mengandaskan perlawanan saudara mudanya Malaka.

Sebagai tuan rumah ETMC 2019 Malaka berhasil menyelengarakan turnamen dua tahunan yang memperebutkan piala bergilir El Tari Memorial Cup (ETMC) yang sudah diperebutkan sejak tahun 1969. Nama trophy ini diambil dari nama mantan Gubernur NTT periode 1966-1978, yang dikenal dengan motonya : tanam, tanam, sekali lagi tanam.

Aroma kesuksesan Malaka mulai tecium pada saat pembukaan event dua tahunan yang sekaligus babak penyisan zona NTT Liga 3 PSSI. Malaka menunjukkan peradapan baru dalam sebuah pesta sepakbola, berbondong manusia datang ke lapangan dengan balutan kain tenun, tarian tebe berbalut busana daerah oleh ribuan anak sekolah menjadi suatu tontonan parade budaya yang mungkin baru pertama kali di Indonesia bahkan dunia. Peradapan baru dimulai dari tapal batas Indonesia. Peradapan itu dimulai dari Hamata (mengundang secara adat), suatu kekuatan yang mengikat dengan menjunjung tinggi spirit kekeluargaan. Hamata pun (dalam budaya Malaka) disempurnakan dengan menyuguhkan sirih dan pinang, seraya memohon untuk berkenan hadir, bergerak dan ada bersama-sama sejak awal pesta hingga usainya.

Pergelaran ETMC 2019 merupakan sejarah bagi Malaka. Ini adalah pertama kalinya mereka menembus babak utama perhelatan pesta sepak bola NTT. Kesuksesan mereka itu pun bukannya karena keberuntungan. Stef Bria Seran Bupati Malaka, adalah tokoh dibalik suksesnya tim Persemal dan penyelenggaraan ETMC 2019.

Sosok Bupati Malaka pertama ini dikenal luas di lingkungan Askab/Askot dan Asprov PSSI NTT. Dalam memimpin turnamen terbesar dan bergengsi di NTT, Bupati yang selalu disapa SBS ini selalu mengedepankan aturan yang sudah disepakati dan tegas ketika memutuskan sebuah kejadian (persoalan) yang terjadi di lapangan. SBS juga seorang mediator yang baik bagi penyelenggara dan peserta ETMC. Tidak salah, sosok SBS bagaikan “jenderal lapangan” yang mampu menangani berbagai masalah dan keluhan dari peserta ETMC.

Salah satu momen yang terekam oleh media, saat kisruh penonton Persab melempari pemain Persada ( 8 besar), dengan suara lantangnya dari pengeras suara, kebrutalan penonton dapat diredam dan pertandingan bisa dilanjutkan kembali. Suasana aman dan nyaman bagi tamu dan suporter, begitu juga pemain yang bertanding tak lepas dari sosok putra Malaka yang berwibawa, tegas dan humanis.

Momentum sebagai tuan rumah dimanfaatkan oleh Bupati dan perangkatnya, memoles Kabupaten yang masih bau kencur dengan membenahi infrastruktur, renovasi sekolah yang digunakan sebagai penginapan pemain, menghadirkan penerangan di kota Betun sehingga sekilas nampak Malaka bagaikan gadis manis yang siap menyapa setiap insan manusia dengan peradapannya yang hendak menyaksikan perhelatan ETMC 2019.

ETMC telah menyajikan pertandingan yang cukup bermutu di daerah yang miskin kompetisi. Masyarakat dan para penggiat sepakbola di Propinsi Kepulauan ini rindu akan pertandingan yang menghadirkan klub Liga Indonesia.

Dulu di era Galatama Asprop PSSI NTT (Komda PSSI NTT) mampu menghadirkan Niac Mitra, Makasar Utama, Angkasa, bahkan klub dari Darwin. Masyarakat NTT dihibur dengan aksi pemain bintang Galatama seperti, Wayan Diana, Rae Bawa, Yesy Mustamu, Moh.Al Hadad, Hanafing.

Akankah pasca ETMC Malaka akan lahir satu klub professional di Bumi Flobamora ? Sudah ada dua stadion yang berstandar nasional, Marilonga dan Betun. Klub professional bisa saja terealisasi jika orang seperti Viktor B.Laiskodat, Fary J.Francis, dr,Stef Bria Seran yang mau berkorban demi sepakbola. Tokoh dan penggiat sepakbola ini dapat melakukan quantum leep. Mereka punya visi dan memahami tentang pembinaan dan industri sepakbola.

Semua mimpi dan harapan penggiat bola dan masyarakat NTT bisa terwujud, namun yang lebih urgen kita lakukan kongres luar biasa untuk membenahi asosiasi propinsi PSSI NTT, berikan kepada para penggiat bola dan mereka yang mau mengurus sepakbola di NTT. Ini pekerjaan rumah yang utama, bagi kebangkitan sepakbola NTT. Tokoh sepakbola seperti Yosef Nai Soi, Fary J.Francis, dr,Stef Bria Seran, David Fulbertus, Sipri Seko, Abdul Muis, Piter Fomeny bisa menjadi pertimbangan memperkuat Asprop PSSI NTT. Jika potensi sepakbola NTT bersatu dan melepas kepentingan politik, sepakbola NTT bisa berbicara di kanvah nasional dan bisa menjadi media promosi potensi daerah baik di bidang pariwisata maupun produk lokal NTT.