Tingkat Kesejahteraan Petani NTT Menurun
Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Tingkat Kesejahteraan petani Nusa Tenggara Timur (NTT) menurun seiring dengan melemahnya indeks Nilai Tukar Petani (NTP). NTP menghitung rasio antara indeks harga yang diterima petani dan indeks harga yang dibayar petani yang dinyatakan dalam persentase.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur, Maritje Pattiwaellapia sampaikan ini kepada wartawan di Kupang, Kamis (2/5/2019).
Menurut Maritje, NTP bulan April 2019 didasarkan pada perhitungan NTP dengan tahun dasar 2012 (2012=100). “Penghitungan NTP ini mencakup 5 subsektor, yaitu subsektor padi dan palawija, hortikultura, tanaman perkebunan rakyat, peternakan dan perikanan,” kata Maritje.
Maritje menyebutkan, pada bulan April 2019, NTP NTT sebesar 105,08 dengan NTP masing-masing subsektor tercatat sebesar 107,64 untuk subsektor tanaman padi-palawija (NTP-P); 103,00 untuk subsektor hortikultura (NTP-H); 101,09 untuk subsektor tanaman perkebunan rakyat (NTP-TPR); 107,36 untuk subsektor peternakan (NTP-Pt) dan 107,35 untuk subsektor perikanan(NTP-Pi).
“Terjadi penurunan sebesar 0,52 persen pada NTP April 2019 jika dibandingkan dengan NTP Maret 2019. Dapat disimpulkan bahwa tingkat kemampuan
/daya beli dan daya tukar (term oftrade) petani di pedesaan menurun dibanding bulansebelumnya,” sebutnya.
Dia menjelaskan, hal ini disebabkan oleh penurunan harga komoditas pertanian yang dihasilkan petani, sedangkan harga komoditas barang konsumsi dan penambahan barang modal meningkat.
“Di daerah perdesaan terjadi inflasi pada bulan April 2019 sebesar 0,26 persen. Faktor pemicunya adalah adanya peningkatan harga pada komoditas bahan makanan dan makanan jadi,” papar Maritje.

