Dinkes NTT Luncurkan Program PGBT Atasi Kematian Anak

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) meluncurkan program Penanganan Gizi Buruk Terintegrasi (PGBT) untuk mengurangi angka kematian anak dan meningkatkan pemulihan anak- anak penderita gizi buruk.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTT, Dominikus Minggu Mere sampaikan ini di Kupang, Jumat (22/3/2019).

Dia menjelaskan, PGBT adalah pendekatan yang dirancang untuk memaksimalkan cakupan dan pengobatan yang berhasil bagi anak-anak yang menderita gizi buruk. Caranya dengan mengidentifikasi kasus gizi buruk sedini mungkin pada tahap awal sebelum komplikasi medis menjadi buruk dan meningkatkan akses mereka ke perawatan rawat jalan berkualitas tinggi.

Minggu Mere menyebutkan sejumlah prinsip dalam pelaksanaan program PGBT. Sejumlah prinsip itu yakni (Satu), akses dan cakupan maksimum terhadap layanan. Dalam hal ini, membawa layanan PGBT dekat dengan tempat keluarga tinggal dengan meningkatkan akses, memangkas waktu tempuh ke fasilitas rawat nginap di RSU kabupaten dan provinsi yang dengan sendirinya mengurangi biaya transportasi. (Dua), ketepatan waktu penanganan. Anak ditemukan dan dirawat sebelum kondisi memburuk dan mengalami komplikasi medis.

Prinsip lainnya, lanjut Minggu Mere, perawatan medis dengan gizi yang tepat. Semua anak mendapat perawatan medis sesuai kebutuhan dan obat gizi rutin, yakni obat gizi selama proses perawatan. Obat antibiotik pada minggu pertama, obat cacing pada minggu kedua dan obat lain sesuai kebutuhan. Tapi air susu ibu (ASI) tetap harus diberikan bagi anak di bawah dua tahun. Juga konseling pemberian makanan bayi dan anak (PMBA).

“Harus melakukan perawatan selama diperlukan dengan meningkatkan akses terhadap perawatan, anak dengan gizi buruk dapat mengikuti program sampai mereka sembuh,” kata Minggu Mere.

Dia menyampaikan, ada empat daerah yang sudah melaksanakan program PGBT, yakni Kota Kupang, Kabupaten Sikka, Timor Tengah Selatan (TTS) dan Kabupaten Kupang. Pihaknya melalui Dinkes kabupaten terpilih memiliki persediaan, peralatan dan staf terlatih yang memadai untuk menyediakan layanan PGBT. Berdasarkan hasil pelaksanaan PGBT serta dalam rangka menyelaraskan penanganan dan pencegahan stunting, Dinkes NTT berencana untuk memperluas jangkaun PGBT di semua kabupaten pada akhir 2019 dengan bantuan teknis UNICEF.

“Pada semester pertama 2019, kami akan perluas pelaksanaan program PGBT ke-10 kabupaten dan akhir 2019 sebanyak delapan kabupaten. Dan pada tahun 2020, kami memastikan semua puskesmas dan polindes/Pustu yang ada di NTT menyediakan layanan PGBT,” papar Minggu Mere.

Dia mengatakan, pihaknya telah menyiapkan anggaran untuk perluasan program PGBT di 10 kabupaten. Selanjutnya Dinkes NTT bersama UNICEF akan memberikan dukungan teknis dan supportive supervisi ke kabupaten dan kota untuk memastikan kualitas dan cakupan layanan sampai tingkat Puskesmas dan Pustu. Sehingga diharapkan pada akhir 2019, semua kabupaten telah memiliki layanan PGBT. Dimana semua anak balita dipantau status gizinya setiap bulan dan dideteksi sejak dini dan jika ada ganguan gizi, bisa mendapatkan pelayanan yang tepat.

“Pelacakan rutin dan mobilisasi masyarakat terus digalakan melalui peran serta PKK, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD), tokoh agama dan tokoh masyarakat dan memastikan dana desa mendukung PGBT,” tegas Minggu Mere.