Kisah Owen: Menulis Pakai Kaki, Tapi Juara Satu Lomba IPA

Bagikan Artikel ini

Waingapu, NTTOnlinenow.com – Tidak semua kekurangan, bahkan kekurangan fisik atau disabilitas, musti jadi alasan untuk tidak berprestasi. Seperti yang dicontohkan oleh Owen, siswa kelas V SD Inpres Kamalaputi, Sumba Timur.

Walaupun tangannya memiliki kekurangan, sampai menulispun harus pakai kaki, ia memiliki banyak prestasi. Baru-baru ini, ia juara satu bidang IPA sekecamatan Waingapu, Sumba Timur pada lomba OSN tingkat Kecamatan kota Waingapu. “Hasil ini sangat membanggakan bagi sekolah kami,” ujar Dorkas Kondanamu, Kepala Sekolah.

Michael Owen Hotalelu Hamataku atau biasa dipanggil Owen lahir di keluarga yang sederhana sebagai anak sulung. Ayahnya bekerja sebagai supir truk dan ibunya adalah ibu rumah tangga biasa.

Dari lahir sampai usia 4 tahun, Owen tidak bisa berjalan dengan baik. Ia hanya bisa berpindah tempat dengan ngesot. Kakinya tidak cukup kuat untuk membuatnya tegak berdiri, apalagi jalan kaki. Seiring berjalannya waktu, walau tertatih-tatih dan mudah lelah, Owen bisa berjalan tegak yaitu saat sekolah TK pada usia 5 tahun.

Owen sebagai penyandang disabilitas memiliki tangan dan lengan kanan dan kiri yang kecil. Kekurangan fisik ini membuatnya tidak bisa beraktifitas dengan normal. Untuk mengganti tangannya, ia berlatih menggunakan kakinya. Misalnya untuk menulis, main game, wa, sms dan lain-lain.

Namun menulis pakai kaki bukanlah pekerjaan mudah. Owen sering mengeluh ngilu kalau terlalu banyak menulis.

Untuk aktifitas mandi, gosok gigi dan BAB, ibunya yang penuh perhatian tetap membantunya. Kalau di sekolah, ia sering dibantu oleh teman-temannya atau gurunya. Terkadang ia pulang ke rumah yang dekat sekolah. Kurang lebih 100 meter.

Karena kekurangan fisiknya, saat duduk di kelas rendah, Owen sering mendapatkan bully dari teman-temannya. Mereka sering mengolok-oloknya. Sesekali ia pulang ke rumah menangis. Namun ibunya yang perhatian tetap mendorongnya untuk mau sekolah.

Walaupun mendapatkan perlakuan tidak wajar seperti itu, orang tua Owen tidak mau menyekolahkan anaknya di sekolah khusus di (SLB). Mereka takut malah membuatnya rendah diri. “Saya ingin anak saya mampu mengikuti pelajaran di sekolah umum. Dia harus merasa sama dengan yang lain dan percaya diri,” ujar ibu Owen, Jeni Humba Tamar, yang melihat banyak kelebihan pada anaknya.

Kelebihan Owen memang terlihat semenjak kecil. Saat semester pertama kelas satu, Owen mendapatkan juara kelas pertama, dan juara kedua saat semester kedua. Dia tidak pernah keluar dari 10 besar di kelas-kelas selanjutnya.

Saat ada lomba OSN atau Olimpiade Sains Nasional tingkat Kecamatan Kota Waingapu awal bulan Maret ini. Ia dipilih sekolah untuk mewakili lomba pada mata pelajaran IPA.

Kepercayaan yang diberikan sekolah tidak sia-sia. Ia meraih juara 1 tingkat kecamatan. “Bagi saya ini sangat luar biasa. Menjadi contoh bagi kita semua bahwa tak ada alasan kita tidak berprestasi,” ujar Dorkas Kondanamu, Kepala Sekolah SD Inpres Kamalaputi yang berharap Owen mendapat juara nanti di tingkat Kabupaten.

Kegiatan lomba lomba OSN tingkat Kecamatan Kota Waingapu berlangsung tanggal awal Maret 2019 di SD Inpres Waingapu 1. Untuk menjawab soal-soal OSN, panitia menyediakan meja khusus untuk Owen menulis, karena ia menulis menggunakan kaki di atas meja kecil.

Sebagai penghargaan atas juara tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Sumba Timur Yusuf Waluwanja memberikan hadiah langsung berupa piala, sertifikat serta hadiah hiburan dan uang transpot kepada para pemenang lomba, termasuk juga Owen.

Karena tangan Owen terlalu kecil, piala itu diterima oleh ibunya, yang setia selalu mendampingi. Anak yang hobi main catur ini benar-benar membuktikan bahwa halangan yang besar tidak harus membuat seseorang menyerah untuk berprestasi. Selamat ya Owen.