Marak Penyelundupan Minyak Tanah ke Timor Leste, Pemicu Kelangkaan Minyak Tanah di Belu

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Aktivitas penyelundupan illegal Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Minyak Tanah di wilayah perbatasan Belu dengan Timor Leste melalui perairan Atapupu masih marak.

Maraknya kegiatan illegal BBM bersubsidi di perbatasan Indonesia dengan bekas Propinsi ke-27 Timor-Timur itu (Timor Leste) menjadi salah satu penyebab sering terjadi kelangkaan Minyak Tanah dalam wilayah Kabupaten Belu.

Perairan laut Atapupu menjadi satu-satunya jalur transaksi oknum warga melakukan penyelundupan BBM illegal jenis Mitan ke Timor Leste. Bisnis illegal itu sangat menjanjikan, lantaran harga jual Mitan di Negara tetangga untung dua kali lipat.

Pantauan media dalam dua bulan terakhir, kelangkaan Minyak Tanah di dalam Kota Atambua sering terjadi. Hampir setiap agen Minyak Tanah di dalam Kota kehabisan stock, hanya terdapat antrean jerigen milik warga.

Dugaan kuat ada Agen Minyak Tanah di Kota yang ‘nakal’ bermain bisnis illegal dengan oknum tak bertanggungjawab guna meraup keuntungan dari kegiatan illegal dengan menjual BBM bersubsidi ke warga yang bukan warga Indonesia.

Sering terjadi kelangkaan BBM Mitan di perbatasan Belu diperkuat dengan aktivitas kendaraan sepeda motor yang membawa jerigen berisi BBM atau akrab disebut ojek BBM semakin marak di Belu. Hampir setiap hari mulai pagi hingga sore aktivitas ojek BBM dari Atambua ke jalur Atapupu marak.

Dalam pemberitaan sebelumnya, 11 Warga Negara Indonesia asal Desa Kenebibi, Kecamatan Kaluluk Mesak, Kabupaten Belu berhasil diamankan petugas Bea Cukai Timor Leste lantaran menyelundupkan Bahan Bakar Minyak (BBM) illegal melalui laut.

Kepala Desa Kenebibi, Maria Yovita Anok yang dikonfirmasi media via telepon seluler, Selasa (26/2/2019) sore membenarkan, sebelas orang pria warga Desanya berhasil diamankan pihak Bea Cukai Timor Leste di laut saat menyelundupkan Minyak Tanah ke Timor Leste.

“Kemarin dulu warga mereka dibawa ke Suai, tapi sesuai info tadi mereka sudah kembali ke Bekora Dili,” ujar dia.

Dituturkan, 11 warga Desanya menggunakan 6 unit sampan atau perahu untuk mengangkut sekitar ratusan jerigen berisi minyak tanah. Saat disinggung dua dari enam perahu pengadaan Dana Desa, jelas Anok selama ini perahu diserahkan ke nelayan untuk mencari ikan, bukan digunakan untuk menyelundupkan BBM illegal.

“Saya selama tidak tahu karena kita serahkan untuk mereka cari ikan dilaut, tapi kalau untuk selundupan BBM saya tidak kasih untuk mereka,” ucap dia.

Lanjut Anok, sebelah orang warga yang diamankan petugas Bea Cukai Timor Leste asli warga Kenebibi.
Kaitan kasus itu, pihaknya sudah lakukan koordinasi dengan Kecamatan Kakuluk Mesak dalam hal ini Pak Camat. “Kita sudah koordinasi dengan Pak Camat siang tadi. Untuk sanksi saya juga belum tahu, tapi rencana akan dideportasi dan kita tunggu kepastian dari pihak Timor Leste,” kata dia.

Terpisah Camat Kakuluk Mesak, Tarsi Naisali saat dikonfirmasi mengatakan, berdasarkan hasil pendekatan dan klarifikasi yang kami lalukan dengan pemilik perahu siang tadi di Kantor Desa bahwa 11 warga itu sudah berada di Lapas Bekora, Dili setelah dua malam sebelumnya ditahan di Lapas Suai.

“Menurut informasi dari keluarga bahwa, mereka 11 orang akan ditahan selama 15 hari dengan bantuan dari pihak KBRI yang ada di Dili,” sebut Tarsi.

Sementara kaitan dengan 2 perahu yang digunakan untuk selundupkan Mitan jelas Tarsi, dirinya sudah mengecek kepastiannya di Desa dan besok akan mengecek kebenaran di kelompok nelayan. “Menurut informasi katanya ada perahu inventaris desa juga. Besok saya akan cek kebenarannya,” ujar dia.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari beberapa sumber menyebutkan, kejadian 11 warga Desa Kenebibi, Atapupu diamankan petugas Bea Cukai Timor Leste pada Kamis 21 Februari lalu di laut Atabae saat menyelundupkan sejumlah BBM jenis minyak tanah illegal gunakan perahu.

Terdapat 6 perahu dua diantaranya perahu pengadaan Dana Desa yang digunakan mengangkut ratusan jerigen berukuran 20 hingga 25 liter berisi minyak tanah bersubsidi yang mana jumlah mitan itu diperkirakan sekitar 38 drum.