Momen Valentine, KOMPAK Ajak Jurnalis di Kupang Diskusi Tentang Keberagaman
Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Perkumpulan anak muda lintas agama yang tergabung dalam Komunitas Peace Maker Kupang (KOMPAK) menggelar Focus Group Discussion (FGD) tentang merawat keberagaman dengan melibatkan awak media di Kota Kupang.
Diskusi ini dilangsungkan bertepatan dengan momen Valentine atau Hari Kasih Sayang, Kamis, 14 Februari 2019, yang dipandu Ana Djukana, salah satu aktivitas perempuan yang juga adalah Pemimpin Redaksi Harian Kota Cursor.
Kegiatan ini dihadiri sejumlah anak muda lintas agama yang aktif melakukan kerja-kerja merawat keberagaman dan toleransi yang tergabung dalam KOMPAK, di bawah naungan lembaga Circle Imagine Society (CIS) Timor, serta beberapa jurnalis dari sejumlah media massa.
Diskusi ini bertujuan untuk mengetahui startegi yang efektif dan inovatif berdasarkan pengalaman kerja-kerja jejaring orang muda lintas agama, KOMPAK, Cis Timor dengan jurnalis selama setahun terakhir.
Pada awal kegiatan, Ana Djukana meminta seluruh peserta menuliskan sebuah kata pada selembar karton yang menggambarkan harapan yang ingin dihasilkan dari kegiatan kegiatan dimaksud, selanjutnya ditempelkan pada papan yang ada di depan ruangan diskusi.
Selanjutnya, peserta baik relawan KOMPAK maupun jurnalis dibagi ke dalam beberapa kelompok diskusi, untuk membahas dan menjawab sejumlah pertanyaan yang sudah disiapkan.
Pertanyaan yang disampaikan agar dijawab oleh kelompok diskusi, yakni soal kesan awal peserta diskusi, khususnya para anak muda lintas agama saat bergabung di KOMPAK, perubahan yang dirasakan, serta komitmen yang akan dilakukan ke depannya.
Selain itu, langkah-langkah apa yang dilakukan guna menghindari kekerasan intoleransi yang diakibatkan oleh politik dengan fundamentalisme agama.
Kepada awak media, Ana Djukana juga menyodorkan tiga pertanyaan, yakni apa pandangan wartawan/ media terhadap KOMPAK, bagaimana membangun resolusi konflik berbasis agama, suku dan gender dari sisi media dan pertanyaan terakhir adalah bagaimana jurnalis membantu mempromosikan penghargaan keberagaman agama, suku dan kesetaraan gender.
Kelompok diskusi langsung membahas dan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Sebelum setiap kelompok memberi jawaban, didahului dengan yel-yel toleransi dan cinta kedamaian yang dibuat setiap kelompok.
Satria dari kelompok 1 menceritakan pengalaman awal bergabung dengan KOMPAK. Satria mengatakan, dirinya senang bisa mengenal dan berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai suku, golongan, agama, maupun budaya.
“Hidup dulu hanya dalam satu ras, golongan, agama, tapi dengan KOMPAK bisa hidup berdampingan, tumbuh sikap toleran dan saling menghargai,” kata Satria.
Oby Lewanmeru, wartawan Harian Pos Kupang menjawab pertanyaan mengenai pandangan wartawan/ media terhadap KOMPAK. Dia mengatakan, pers memberi apresiasi yang tinggi kepada KOMPAK yang dalam kerja-kerjanya selama ini selalu merawat keberagaman di NTT.
“Media juga harus memberi space atau ruang untuk membantu mempromosikan penghargaan keberagaman, agama, suku dan kesetaraan gender,” katanya.
Ana Djukana mengingatkan peserta diskusi agar terus menyuarakan perdamaian dalam keberagaman, guna meningkatkan wawasan orang muda sebagai salah satu upaya pencegahan konflik berbasis SARA di NTT.
“Jika kita menghargai perbedaan, maka kita tidak bisa memaksa orang untuk mengikuti kita,” kata Ana.
Dia berharap, dunia pers bisa menyampaikan informasi yang benar, dan dapat dipertanggungjawabkan apalagi dengan perkembangan Iptek digitalisasi maka media harus menghindari berita profokatif dan hoax.
“Pemberitaan media harus bisa memberikan solusi terhadap konflik, bukan justru menyulut semakin meluasnya konflik. Media harus bisa menjadi penyejuk suasana,” tandas Ana Djukana

