Diserang Ular Beludak, Adrianus Kehilangan Kaki Kiri

Bagikan Artikel ini

Laporan Yan Meko
Wini, NTTOnlinenow.com – Adrianus Kolo atau yg biasa disapa dengan nama Ata, adalah warga Wini, kecamatan Insana Utara, Kabupaten TTU yang kini berprofesi sebagai buruh pelabuhan.

Tercatat sebanyak seratus anggota buruh pelabuhan Wini, diantaranya ada salah satu anggota yang unik atau memiliki cacat permanen pada kaki kirinya.

Kendati memiliki kaki kiri yang buntung, Adrianus tak banyak ngeluh malah dalam kecacatan, dia terus ulet dan tetap semangat mengangkat beban puluhan kilogram.

Melihat keunikan itu, media ini pun mencoba menginvestigasi dan mendapati kisah tak lasim dialami oleh Adrianus dimasa kecil.

Inilah kisahnya.

Adrianus dilahirkan normal di dusun Noetef/Prigi’o, Desa Wini, Kecamatan Insana Utara, TTU.

Dimasa kanak, Adrianus bersama sebayanya gemar bermain uji lari, petak umpet dan suka memanjat pohon.

Wilayah Noetef yg terletak diujung bukit dan menjadi tempat pertemuan banjir menjadikan tempat ini sebagai habitat baru bagi berbagai jenis ular yang hanyut terbawa banjir dari pegunungan dan hutan hulu sungai.

Adrianus Kolo memakai tongkat lagi bermain bola volly

Karena hoby memanjat pohon, Si Adrianus dan saudaranya mencoba merebut beberapa buah mangga yang masih tersisa diawal musim hujan pada tahun 1988 lalu.

Diatas pohon mangga itulah, tak disangka Adrianus berpapasan dengan seekor ular BELUDAK diatas pohon. Karena merasa diganggu, ular berkepala dua sebesar ibu jari kaki itupun menyerang Adrianus diujung kaki kirinya.

Adrianus yang kesakitan melaporkan kejadian itu pada kedua orangtuanya, namun karena penanganan terlambat maka racun BELUDAK itu membuat kaki Adrianus harus buntung setingkat lutut.

Menyesal, stres dan pasrah sempat mengganggu kepribadian Adrianus, namun karena tuntutan hidup maka Adrianus pun harus bangkit dan mau menggeluti profesi sebagai buruh bongkar muat di pelabuhan Wini sejak 8 tahun lalu.

“Saya cacat kaki kiri, tapi saya tak minder, saya harus kerja untuk memenuhi kebutuhan keluargaku. Saya terkadang diminta oleh para pemerhati untuk berhenti kerja sebagai buruh dan mencari pekerjaan lain tapi pendidikan ku tak seberapa maka saya harus tetap tekuni pekerjaan sebagai buruh dan siap pikul beban hingga 60 kg”, ungkap Adrianus yang suka nyanyi dalam berbagai acara ini.

Kendati berjalan pakai tongkat, tapi ayah dari dua anak ini gemar bermain bola volly dan dapat melakukan smash yang mematikan.

Adrianus hanya tersenyum ketika ditanya terkait peluang hidup lewat mencipta lagu dan bernyanyi.

“Mencipta lagu dan bernyanyi dijaman now ini adalah hobyku, tapi itu tak bisa dijadikan profesi utama. Saya cacat kaki tapi saya masih bisa pikul barang, inilah pekerjaanku untuk beli beras, pakaian dan biaya anak anakku”, pungkas Adrianus.