Warga Perbatasan Harapkan Listrik Murah dan Nyala 24 Jam

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Oepoli, NTTOnlinenow.com – Warga Desa Oepoli, Kecamatan Amfoang Timur, Kabupaten Kupang yang berbatasan dengan Timor Leste, mengharapkan program listrik murah. Selain itu, juga diharapkan listrik menyala selama 24 jam sehari.

Tokoh adat dan masyarakat Amfoang, Tom Kameo sampaikan ini kepada wartawan di Oepoli, Sabtu (6/10/2018).

Menurut Kameo, selama ini listrik di daerah itu hanya menyala selama 12 jam, yaitu dari pukul 18.00 – 06.00 Wita, yang artinya listrik hanya menyala saat malam hari saja. Padahal, warga juga membutuhkan listrik untuk kepentingan pekerjaan di siang hari.

“Kami dengar daerah lain ada listrik murah, tetapi di sini belum, sehingga harapan besar warga di perbatasan ini bisa disentuh dengan program listrik murah dari pemeritah,” katanya.

Dia mengatakan, meskipun jaringan listrik sudah masuk ke desa-desa di perbatasan, namun belum semua rumah tangga tersambung dengan meteran karena kemampuan ekonomi warga yang masih terbatas.

Baca juga : PLN Siap Amankan Kedatangan Delegasi IMF di Labuan Bajo 

“Kalau biaya pemasangan listrik sampai jutaan, maka jelas kami kesulitan. Untuk itu program listrik murah sangat diharapkan bisa hadir menyentuh kami di sini,” katanya.

Kameo mengungkapkan, umumnya masyarakat di perbatasan merupakan petani dengan hasil pertanian relatif kecil sehingga masih kesulitan untuk memenuhi semua tuntutan kebutuhan dasarnya.

“Kami berharap pemerintah dan PLN bisa membantu kesulitan ini, paling tidak listrik yang sudah hadir ini bisa dinikmati warga dengan harga yang terjangkau,” katanya.

Dia bersama masyarakat setempat juga mengapresiasi upaya pemerintah melalui PLN yang telah menghadirkan listrik untuk masyarakat di wilayah perbatasan.

Hingga saat ini, sudah ada empat desa di Oepoli yang mendapat penerangan listrik dari PLN, yakni Desa Netemnanu, Netemnanu Utara, Netemnanu Selatan, dan Kifu, ditambah desa pemekaran yang jaringan listriknya juga sudah dibangun.

“Paling tidak listrik ini membuat kami di perbatasan juga ikut merasakan yang namanya kemerdekaan Indonesia yang sudah dirayakan selama 73 tahun,” ujarnya.