Perencanaan Program Di Pemkab Belu Tidak Matang

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Belu, Paulus Samara menilai perencanaan program oleh Pemerintah Kabupaten Belu tidak matang.

Menurut Samara, salah satu proses program yang tidak matang yakni pengadaan jenis tanaman hortikultura pada Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Kabupaten Belu.

“Program pengadaan anakan rambutan seluruh Desa yang tidak terfokus,” ujar dia kepada awak media, Jumat (24/8/2018) di Kantor DPRD Belu.

Dikatakan, bantuan program pengadaan tanaman anakan rambutan yang diberikan kepada warga Asumanu tidak ada yang hidup. Silakan cek ke Asumanu semua anakan rambutan mati.

“Kok di Desa Asumanu anakan tidak tumbuh dan anakan semua sudah mati. Masa diturunkan pas musim panas air tidak ada. Berarti itu perencanaan tidak matang,” urai Samara.

Politisi Partai Hanura itu juga mempertanyakan kapan dilakukan studi rambutan sehinggga bisa tumbuh di daerah Belu. Kalau pun ada kajian itu bukan dalam hal berpikir.

“Jangan kita berpikir sesuatu datangkan saja tanpa kita melihat dampaknya seperti apa buktinya anakan rambutan mati semua,” ucap dia.

“Kajian perlu data dan data itu seperti apa. Setelah tidak tumbuh harus dicek, dianalisa kenapa tidak tumbuh,” tambah Samara.

Lanjut dia, perencanaan program lainnya yakni patung Bunda Maria namun anggaran tidak cukup dan sesuai hasil kemarin dalam Banggar telah ditolak bersama dengan program ubi ungu yang tidak berjalan.

“Pak Bupati jangan mengimpikan hal-hal yang indah. Ini program belum diolah dengan baik sudah pikirkan lagi hal lain akhirnya apa yang dilakukan awal gagal. Kalau begini buang-buang anggaran,” papar dia.

Samara juga menilai, dari semua program Pemerintah sebagiannya tidak dikaji dengan baik. Kita bisa melihat dalam perencanaan dan ini satu pemaksaan yang penting bisa mendatangkan barang dari luar.

“Kalau seperti ini Belu tidak akan berubah dan ini tidak konperensif, artinya perencanaan tidak didukung kajian yang baik,” kata dia.

Samara tambahkan, kalau jenis tanaman sukun boleh untuk dikembangkan karena itu bisa diolah guna peningkatan ekonomi warga seperti olah jadi cemilan dan kripik. Tapi kalau mangga sangat banyak hampir semua warga memilikinya. Jadi tidak perlu karena setiap kali musim banyak buah yang rusak.