Kasus DBD Terus Menurunan Pasca KLB Tahun 2012

Bagikan Artikel ini

Laporan Nyongki Mauleti
Kupang, NTTOnlinenow.com – Setalah kejadian luar biasa (KLB) pada tahun 2012 lalu, yang menyebabkan lima korban jiwa, Angka kasus panyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Kupang terus mengalami penurunan yang sangat signifikan, pemerintah Kota Kupang dan masyarakat sepertinya tidak mengingankan kejadian itu terulang lagi, sehingga berbagai upaya penanggulannya telah dilakukan dengan baik.

“Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Kupang mengalami penurunan. Dari data surveilens Dinas Kesehatan Kota Kupang, pada tahun 2017 menunjukkan kasus DBD sebanyak 102 kasus. Itupun tidak ada korban jiwa,” Kata Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Kota Kupang, Sri Wahyuningsi, ditemui di ruang kerjanya, Jumat (54/12/17).

Sri mengatakan, angka penderita DBD terus mengalami penurunan, pasca periode tahun 2007-2012, dan Kota Kupang sudah mampu menekan angka kasus DBD.

“Secara data adanya penurunan kasus DBD di tahun 2017, karena tingkat kesadaran masyarakat akan dampak dari penyakit DBD sudah semakin tinggi yakni menjaga lingkungan dan juga melakukan pemberantasan sarang nyamuk dalam dalam bentuk 3 M,”ujarnya.

Baca juga : Dinkes Himbau Masyarakat Waspada Penularan DBD

Ia mengaku, secara data angka kasus DBD tahun ini menurun. Tapi upaya waspada dan antispasi telah dilakukan oleh dinas yakni dengan membagi abate ke Puskesmas dan Kelurahan, dan juga lakukan gerakan 3 M.

Ia mengaku, fenomena naiknya DBD akan terjadi pada akhir Desember hingga Maret nantinya, dan pada masa itu, dirinya berharap peran masyarakat untuk menjaga pola hidup sehat, dan berinisiatif membersihkan lingkungannya, agar nyamuk penyebab DBD tidak bisa berkembang biak.

“Masa peralihan antara dua musim yakni musim kemarau ke musim penghujan yang sudah terjadi saat ini yang dapat mempengaruhi kesehatan. Banyak masyarakat yang akan mengalami penyakit seperti malaria, diare dan DBD, sehingga kualitas lingkungan merupakan determinan penting terhadap kesehatan masyarakat,” ujarnya.

Ia mengaku, dengan penurunan kualitas lingkungan memiliki peran penting terhadap terjadi penyakit, kondisi patalogis (kelainan fungsi atau morfologi) suatu organ tubuh yang disebabkan oleh interaksi manusia dengan segala sesuatu disekitar yang memiliki potensi penyakit.