Fasilitas Tak Mendukung, Festival Fulan Fehan Kecewakan Banyak Pihak

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Even akbar festival Fulan Fehan yang melibatkan 6000 penari pelajar SD, SMP dan SMA dari Kabupaten Belu dan Malaka di perbatasan Ri-Timor Leste Likuari mencetak rekor dunia Muri mengecewakan banyak pihak.

Kegiatan pagelaran tarian Likurai kolosal gabungan para pelajar yang memakan anggaran kurang lebih 800 juta APBD II Dinas Pendidikan Kabupaten Belu tahun anggaran 2017 itu, dinilai tidak siap. Kesannya terpaksa kegiatan akbar tersebut dilaksanakan oleh panitia pelaksana.

Diutarakan beberapa orang tua usai kegiatan, Sabtu (28/10/2017) sore, kegiatan pagelaran tarian likurai sangat beresiko pada peserta penari. Selain tidak terjaminnya fasilitas yang menunjang dan mendukung sejak keberangkatan hingga puncak kegiatan. Hal lain yang menjadi resiko yakni infrastruktur jalan menuju lokasi kegiatan (Fulan Fehan).

“Kalau tahu begini, anak-anak kami tidak ikut kegiatan. Kita kasihan dengan anak-anak SD, sejak geladi hingga puncak mereka jemur diri di terik matahari bahkan ada yang pingsan. Sudah begitu akses ke lokasi sangat beresiko, jalan tanjakan yang rusak mengancam keselamatan peserta,” ujar Yustina dan beberapa orang tua lain.

Senada diungkapkan orang tua lainnya bahwa, seharusnya sebelum kegiatan panitia sudah menyiapkan segala fasilitas baik terkait dengan kendaraan operasional, maupun lainnya sesuai kebutuhan para peserta seperti tenda di lokasi untuk anak-anak berteduh sebelum dan sesudah kegiatan biar tidak kepanasan.

“Persiapan panitia tidak mendukung, tidak ada koordinasi baik antar panitia untuk kegiatan. Persiapan penari selama dua bulan, harusnya rentang waktu itu digunakan untuk perbaikan jalan menuju lokasi,” papar mereka.

Sementara itu beberapa guru sekolah juga menyayangkan panitia yang menyiapkan kendaraan untuk peserta. Seharusnya biaya untuk kendaraan setiap sekolah mengangkut peserta diserahkan masing-masing ke sekolah sehingga tidak sulit.

“Kalau dana untuk mobil angkut peserta di kasih ke tiap sekolah yang urus tidak susah. Sehingga tidak ada kendala seperti kemarin sampai sekarang. Kita mau berangkat harus tunggu antrian oto antar peserta lain. Akhirnya peserta yang harus rela jalan kaki saat pergi dan kembali dari lokasi kegiatan,” tutur mereka.

Kekecewaan lain diungkapkan beberapa sekolah yang penarinya tidak diikut sertakan dalam penampilan Likurai dikarenakan terlambat akibat kemacetan di jalur puncak Makes, padahal sebelumnya telah geladi.

Baca juga : Tarian Timor Leste Pukau Ribuan Warga di Festiva Fulan Fehan

Persoalan infrastruktur jalan menjadi salah satu faktor penghambat mobilisasi peserta. Akibatnya beberapa peserta penari tidak terlibat dalam atraksi dan menunggu di kampung Dirun. Tidak saja itu kekecewaan juga datang dari peserta Kabupaten Malaka yang hanya terlibat sebentar tapi tidak menampilkan tarian seperti yang disampaikan awal oleh panitia.

Menanggapi hal itu Ketua Panitia festival Fulan Fehan, Petrus Bere ketika dikonfirmasi media menyampaikan terimakasih pada para guru sekolah baik SD, SMP dan SMA/SMK yang sudah berpartisipasi dalam sukseskan festival budaya yang memecahkan rekor muri dunia.

“Bahwa memang ada kekurangan kami panitia tentu menyampaikan permohonan maaf atas segala kekurangan yang terjadi. Ini pesta akibat tentu semua ini menjadi pembelajaran bagi kita untuk kita perbaiki di hari-hari yang mendatang,” ujar dia.

Ketika disinggung KBM libur terkait festival, jelas Sekda Belu itu memang ada komentar banyak kegiatan ini menyita waktu anak-anak tidak sekolah. Tapi perlu diketahui melalui kegiatan ini, inilah pembinaan karakter dan anak-anak luar biasa begitu mencintai budaya mereka. “Mereka lari naik turun gunung, inilah pembinaan karakter, kita bangga mengangkat budaya,” kata dia.

Lanjut Bere, untuk biaya kegiatan festival sekitar delapan ratus juta dari APBD II dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Kalau dilihat kegiatan ini dibandingkan dengan dana sangat tidak profesional, tapi ini karena semangat. “Rencana akan jadikan even tahunan. Kita akan lihat sesuai dengan liburnya sekolah sehingga tidak merugikan anak-anak,” akhir dia.

Pantauan NTTOnlinenow.com, sejak hari pertama gladi hingga puncak kegiatan, banyak kendaraan yang sulit melewati tanjakan benteng Makes menuju lokasi. Antrian panjang kendaraan membuat beberapa kendaraan roda besar yang mengalami kemacetan bahkan ada kendaraan sepeda motor yang kandas di tengah tanjakan dan terjatuh. Selain itu juga di lokasi even tidak tersedia tenda bagi peserta penari untuk beristrahat.