Sejumlah Proyek Pembangunan Air Minum Bersih di Manggarai Terbengkelai dan Mubazir

Bagikan Artikel ini

Laporan Marten Don
Ruteng, NTTOnlinenow.com – Sejumlah proyek pembangunan air minum bersih di kabupaten Manggarai, Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) nasibnya kini diujung tanduk alias terbengkelai dan mubazir.

Seperti proyek rehabilitasi jaringan pipa dan penambahan debit di desa Ruis, kecamatan Reo tahun 2016 lalu. Proyek itu diketahui dikerjakan salah satu kontraktor lokal asal Reo, berinisial “EL”. Dan menghabiskan anggaran sebesar 200 juta rupiah untuk 2 (dua) lokasi mata air, yaitu lokasi 1 (satu) Wae Sosor di kampung Ruis dan lokasi 2 (dua) Wae Rutung di Golo Conggo. Anggarannya bersumber dari Dana Alokasi Umum (DAU) Tahun Anggaran 2016 dinas Pekerjaan Umum (PU) kabupaten Manggarai.

Konradus Kumat, PPK pembangunan jaringan air minum bersih dinas PU Manggarai, periode 2013-2016, ketika dikonfirmasi, Senin, 25 September 2017 membenarkan hal itu. Namun menurutnya, pembayarannya dibayar sesuai dengan progres.

“Kita bayar sesuai progres. Sedangkan pengerjaan sisanya akan dilanjutkan 2017 nanti. Kita sudah sering panggil pemilik bendera dan kontraktornya, mereka berjanji akan dilanjutkan, sampai sekarang belum juga. Padahal telah bersepakat awal Juli 2017 pengerjaannya sudah selesai dikerjakan,” ulangnya lagi.

Ketika ditanya, apakah dimungkinkan pengerjaanya dilanjutkan, sementara waktunya sudah lewat? Dirinya menjawab bisa. Diketentuan Permen terbaru itu bisa. Tetapi dirinya tak bisa menyebutkan isi Permen yang dimaksudnya itu.

Masih di dinas PU. Nasib hampir sama juga rupanya terjadi pada proyek air minum bersih tahun 2013 di Kecamatan Wae Ri’i yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).

Proyek itu, mulanya diusulkan dinas Pekerjaan Umum (PU) kabupaten Manggarai ke Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum (PKPAM) Provinsi, cerita Kumat.

PKPAM bangun jaringan dengan bak induk untuk dibagikan ke Ndehes sampai Ngeri, dengan kurang lebih 4,5 kilo meter.

“Itu dulu ada dana pendamping dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) untuk bangun dron, tambah jaringan induk pipa 6 dim dengan hanya 5 kran saja. Mereka stop sampai situ,” pungkasnya.

Baca juga : Distributor Perabot Rumah Tangga di Manggarai Ludes Terbakar

Karena debitnya besar, oleh dinas PU Manggarai, kemudian dilanjutkan perluasan jaringan menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK).

“Kita kerja mulai dari Ndehes, Ngeri, Lada, Poco sampai tahun 2016. Lalu kita sambung dari Watu Alo, Ting, Poco, Lada dan Welong. Sedangkan tahun 2015 hanya sampai Wetok,” tandasnya.

Kumat enggan menyebutkan secara jelas dimana letak kelemahannya, namun dirinya hanya mengatakan, awalnya, ini dibangun utk diserahkan ke Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Komodo Ruteng. Tetapi tertahan disini di Pemda (Pemerintah Daerah)…(red).

“Anggap saja pengelolaannya masih dalam serah terima,” elaknya lagi.

Air itu bersimber dari mata air, Wae Lideng, desa Longko, Kecamatan Wae Ri’i.

“Dulu dibangun untuk IKK (Ibu Kota Kecamatan) Wae Rii Barat,” lanjutnya.

Dikatakannya, itu provinsi, satu paket dengan Wae Lerong dan Poco Leok, tapi pengelolaannya semua sudah tidak jelas.

Sebenarnya sebelum diserahkan ke PDAM, dinas PU harus tetap menyiapkan anggaran pemeliharaannya, tambahnya.